• Home
  • About
  • Contact
    • Mail
  • She Talks Football
  • Untuk Nadhira
Powered by Blogger.
facebook twitter instagram

encyclopedhira

KASIH TAK TERHINGGA

Saat itu, Maret 2013. Aku mendapati sebuah berita yang membuatku bahagia tidak terkira. Bagaimana tidak, klub bola favoritku, akan mengunjungi Indonesia! Sungguh kesempatan yang tidak mungkin kusia-siakan.

Aku mengutarakan keinginanku pada Ayah dan Bunda, yang dijawab mereka, “Dipikir-pikir dulu ya, Kak. Tapi pakai uang sendiri, ya.” Agak digantungin, memang. Namun, aku tetap bersemangat mengumpulkan uang jajanku untuk membeli tiket seharga Rp750.000,00 (yang paling mahal).

April, Mei, Juni. Ketika kulihat tanggal pertandingannya, 14 Juli 2013, aku berpikir. Wah, itu pas Ramadan. Nginep gak ya? Sholat tarawihnya gimana? Sahur dan bukanya gimana?

Berbagai pertanyaan muncul di kepalaku, yang membuatku sedikit ragu apakah aku bisa menonton atau tidak. Uangku pun, ketika kuhitung-hitung, tidak cukup untuk membeli tiket yang paling mahal, di VIP Barat. Satu lagi kendala. Siapa yang bakal ikut nonton? Ayah, pasti. Nada, bisa jadi. Bunda, tidak mungkin. Karena saat Juli nanti, adikku yang baru lahir masih berumul satu bulan.

Namun aku tidak menyerah. Demi melihat skuat besutan Arsene Wenger tersebut, aku rela mengurangi jajanku. Aku tahu, sampai Juli nanti pun, uangku tidak akan bisa mencapai Rp750.000,00. Tapi setidaknya bisa membantu.

Akhirnya suatu hari, aku berkata pada Ayah. “Ayah, Kakak mau beli tiket Arsenal Indonesia Tour, tapi uangnya masih kurang.”

Jawaban Ayah sangat mengejutkanku.

“Ayah udah beli kok, Kak.” Ujarnya.

Rasanya, saat itu, aku ingin menangis. Aku terharu bagaimana ayahku rela membelikan tiket pertandingan bola untuk anaknya yang tergila-gila dengan sepakbola ini. Ayah, yang bahkan tidak menyukai Arsenal pun rela menonton Arsenal demi anaknya yang terlalu jatuh cinta dengan klub London Utara ini. Bahkan Ayah bilang, beliau sudah membooking hotel dekat Stadion Gelora Bung Karno supaya saat nonton jalan kaki saja, khawatir ramai. Aku benar-benar mengucapkan terima kasih pada Ayah berkali-kali.

Dan jadilah, 14 Juli 2013, yang bertepatan dengan 5 Ramadan 1434 H., menjadi hari yang bersejarah bagiku. Hari ketika aku dapat melihat Theo Walcott, Carl Jenkinson, dan Lukas Podolski (ketika itu masih di Arsenal) bertanding melawan timnas Indonesia. Hari dimana Gelora Bung Karno dipenuhi pendukung klub Meriam London dari penjuru daerah. Hari dimana para pendukung Arsenal tidak lupa bersorak menyemangati timnas kebanggaannya. Hari dimana aku merinding menyanyikan fan chants untuk The Gunners. Dan hari ketika aku sadar bahwa kasih sayang orang tua untuk anaknya memang tiada terkira.

***
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

BELAJAR SEJAK DINI


Mulai Ramadan ini, Najla dikenalkan berpuasa. Sekolah PAUD-nya melarang murid-muridnya membawa bekal ke sekolah. Maka tidak ada lagi acara shodaqoh di kelas, acara membagi-bagikan makanan. Tas sekolah hanya berisi buku mengaji saja.

Namanya juga anak kecil. Sahurnya saja jam setengah tujuh, dan waktu berbukanya pun jam sepuluh pagi. Tapi menurutku, Najla sudah hebat. Ia sahur hanya minum susu (karena kalau makan akan membutuhkan waktu yang sangat lama), dan baru makan sekitar jam 11 di rumah.

Aku jadi teringat ketika aku TK dahulu, saat mulai belajar puasa. Aku sahur jam 6 pagi, dan berbuka tepat setelah Dzhuhur. Aku baru bangun sahur jam 4 memasuki kelas 1 SD.

Belajar puasa memang patut diajarkan sejak dini, agar ketika besar nanti menjadi terbiasa. Karena untuk anak kecil, menahan diri untuk tidak makan, minum, apalagi jajan memang susah. Bahkan Najla, setelah pulang sekolah, bersama Bunda mampir ke minimarket dan selalu berkata, “Puasa itu... jajan!”

Belajar sholat tarawih pun harus dilakukan sejak dini. Walau Najla masih susah disuruh sholat, tapi sekali dua kali ia ikut sholat tarawih. Bahkan sampai witir. Setidaknya ia mengetahui bahwa sholat merupakan kewajiban setiap muslim, sebelum ia merasakan sholat juga merupakan kebutuhan sehari-hari, layaknya makan.

Ketika aku kelas 2 SD, adikku yang pertama, Nada, masih duduk di bangku akhir TK. Saat itu hari terakhir Ramadan, dan Nada berusaha mempertahankan puasanya sampai maghrib. Waktu menunjukkan pukul 4 sore, Nada mulai bertanya-tanya kapan maghrib datang. Bunda, yang memang tidak pernah memaksakan anak-anaknya (apalagi masih kecil) untuk berpuasa sehari penuh, menyuruh Nada untuk berbuka saja bila tidak kuat. Tapi Nada bersikukuh tidak mau.

Jam 5, yang tadinya hanya bertanya-tanya, Nada mulai marah-marah. Ia merengek-rengek tidak kuat. Namun, setiap disuruh berbuka, ia semakin marah dan berteriak, “Nggak mau!” Aku, yang sedari tadi memerhatikan adik yang berbeda dua tahun dariku merasa geregetan, namun aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya melanjutkan nonton teveku.

Akhirnya, di hari terakhir Ramadan, Nada berhasil menyelesaikan puasanya satu hari penuh. Dimana ke-29 hari lainnya ia hanya sahur jam 6 dan buka jam 12, walau diselingi ngambek dan marah-marah. Aku selalu tertawa mengingat kejadian tersebut dan selalu kugunakan untuk meledek Nada.

Najla, tahun depan, saat kamu TK, makin rajin belajar puasa dan sholat ya! Barakallah, adikku.

***
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

RAMADAN REMINDER 


 
Ada saja cara Allah untuk menegur hambaNya. Mulai dari cara yang sederhana, hingga yang luar biasa. Termasuk cara yang membuat kita ingin tertawa.

Hari ini, selepas sholat dzhuhur, entah mengapa aku langsung melemparkan diri ke atas kasur. Tertidur, lengkap dengan mukena yang masih terpakai. Aku sempat dua kali terbangun. Pertama, ketika Bunda bertanya sesuatu. Dan yang kedua, aku bangun hanya untuk melepas mukena, menggantungnya, dan melanjutkan tidurku.

“Kakak, ashar!” teriakan Bunda menyadarkanku. Oalah, aku tertidur hingga adzan asar berkumandang. Lama banget aku tidurnya, batinku. Akhirnya aku bangun, berwudhu, dan melaksanakan sholat asar.

Ketika aku sedang sholat, Najla, adikku yang belum genap empat tahun, datang menghampiriku dan duduk di atas kasur persis sebelah tempatku sholat. Ia bermain-main sendiri di kasur tersebut hingga aku menyelesaikan sholatku.

Iseng aku bertanya. “Ade lagi apa?” ketika aku melihatnya sedang berpantomim memeragakan seseorang yang sedang makan.

“Jangan lihat aku..!” gerutunya.

Melihatnya seperti itu, aku semakin gemas. Teruslah aku goda Najla dan mengganggunya bermain. Tiba-tiba...

“Kaka Dhira ngaji dulu,” ujarnya.

Seketika aku teringat. Ya, sehabis sholat dzhuhur tadi aku belum mengaji. Bahkan sekadar menyentuh Alquran pun tidak. Seketika aku merasa, Allah menegurku lewat Najla. Karena ia tidak hanya berkata sekali, namun tiga kali.

Barakallah ya, Najla. Semoga semakin kamu besar semakin menjadi pengingat kebaikan untuk kita semua. Tetap semangat belajar mengajinya, kamu udah pintar, lho. Hehe.

Allahku, betapa sayangnya Engkau kepada hambaMu ini... Terima kasih.

***
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

KESABARAN DALAM SEBUAH PENANTIAN

Dini hari tadi, Arsenal mengukuhkan dirinya sebagai peraih trofi Piala FA terbanyak di antara klub Inggris lainnya. Ya, Arsenal melibas Chelsea 2-1 di final Piala FA yang dilangsungkan di Stadiun Wembley, London. Gol yang dicetak oleh Alexis Sanchez dan Aaron Ramsey membawa tim besutan Arsene Wenger tersebut mengangkat trofi Piala FA untuk yang ke-13 kalinya.

Menilik performa Arsenal musim ini, memang bisa dikatakan tidak stabil. Sempat mengecap puncak klasemen, eh ujung-ujungnya terdampar di posisi ke-5 klasemen akhir Liga Inggris, yang berarti terlempar dari kejuaraan Liga Champions ke Liga Eropa. Beragam protes agar Arsene Wenger diganti terlihat hampir di setiap pertandingan Arsenal. Padahal, musim sebelumnya, klub yang bermarkas di Emirates Stadium ini bertengger di posisi ke-2 klasemen akhir Liga Inggris.

Tidak, aku tidak akan membahas mengenai Arsenal. Yang akan kubahas adalah pelajaran berharga yang dapat kuambil dari sepak terjang Arsenal di musim 2016/2017 ini.

Tidak bisa dipungkiri bahwa kita pasti berharap akan sesuatu. Seperti aku berharap Arsenal menjuarai liga. Seperti kita juga yang berharap mendapat tempat kuliah yang terbaik. Namun, ada kalanya jalan mencapai harapan tersebut panjang dan berliku. Seperti Arsenal yang harus tergelincir dari posisi runner up. Terkadang, jalan berliku tersebut membuat kita emosi dan hampir menyerah. Layaknya spanduk #WengerOut yang diterbangkan sebelum pertandingan dimulai.

Dan ada kalanya juga, apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Harapanku di awal musim selalu sama. Semoga Arsenal juara liga. Hingga pada akhirnya, posisi ke-6 lah yang terbaik untuk Arsenal. Sama seperti mengharapkan universitas tempat berlabuh. Bisa jadi yang kita dapatkan nanti bukan yang kita harapkan pertama kali.

Satu pelajaran berharga yang dapat kuambil: Sabar. Karena kesabaran akan membuat kita dapat berpikir tenang. Tidak kecewa dengan apa yang kita dapatkan, walaupun mungkin tidak sesuai dengan harapan. Berdoa juga tidak boleh lupa. Dalam setiap doa, tambahkan kalimat, “Berikanlah hamba yang terbaik, menurutku juga menurutMu.”

Yakinlah, kesabaran akan membuahkan hasil. Tidak dapat juara liga—dan malah terdampar ke Piala Eropa—bukanlah akhir dari segalanya. Semuanya masih bisa diperjuangkan. Yang penting, tetaplah istiqomah. Tidak boleh ada kata menyerah.

Karena pada akhirnya, Allah akan memberi kita pengganti yang terbaik. Tidak juara liga, tetapi juara Piala FA. Toh ujung-ujungnya kita pun bahagia.

Satu lagi. Ini bukan hanya soal sepakbola atau dunia perkuliahan, urusan penantian sang imam pun demikian.

Pertanyaan selanjutnya; kontrak baru? Atau manajer baru? #oke #abaikan

***
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
102 H di tengah lautan

(edisi Kau Melukis Aku)

Di suatu minggu pagi yang cerah, pukul 08:00.

Aku baru saja menyelesaikan olahraga lari pagiku. Dengan keringat membanjiri sebagian bajuku, aku kembali ke kamar.

“Assalamu’alaikum!” teriakku di depan pintu kamar.

"Waalaikum salam!” jawaban Nuni yang paling terdengar di telingaku. Ia membalas dengan teriakan juga.

Terlihat Atrika sedang menyapu di dekat meja belajarku, dan membuatku sedikit tidak enak melewatinya. Akhirnya aku memutuskan untuk duduk di atas meja, agar Atrika tidak terganggu ketika menyapu meja belajarku. “Pagi-pagi udah nyapu aja, Trik,” godaku.

Sontak, Hani yang berada di kamar dalam (setiap kamar di gedung H mempunyai dua ruangan) menyahut, “Tinggal elu Dhir, yang belum kerja!”

“Hah?” tanyaku.

Hani melongok di depan pintu kamar dalam. Ia berujar, “Iya, Dhir. Atrika udah nyapu. Gue udah bersihin kamar mandi kemarin. Nun, lu ngapain dah? Oh ya. Nuni udah nyuci keset. Tinggal elu yang belum kebagian tugas.”

“Apa? Belum ada yang ngepel, kan?” tanyaku lagi.

“Iya. Ya sudah Dhir, kamu ngepel,” kata Hani.

“Siap!”

***

Begitulah kisah hampir setiap minggu di kamarku. 102 H, yang terdiri dari Nuni, Atrika, Hani, dan aku sendiri dikenal sebagai anak kamar rajin. Hehe. Rajin piket subuh, rajin bangun pagi, rajin olahraga, rajin membantu angkat galon, hingga rajin menghabiskan sisa suplemen. Bagaimana tidak? Posisi kamar dekat meja halal membuat kami mudah mengambil makanan yang tidak diambil haknya oleh si empunya. Tentu saja, kami baru menyerbunya di atas pukul 11 malam.

Di suatu sore di akhir kelas XI, setelah pengocokan kamar, aku berkunjung ke calon kamar baruku. Aku terkejut mendengar suara berisik dari dalam kamar. Lebih tepatnya dalam kamar mandi. Dan ternyata, kulihat Nuni dan Hani sedang berusaha membersihkan kerak dan membuat kamar mandi kami menjadi kinclong. Ditemani music box, mereka mengerjakannya dengan sangat gembira.

Ketika perpindahan kamar pun, Atrika yang paling dahulu selesai. Tak hanya selesai memindahkan barang, namun juga merapikan barangnya. Ketika kutanya apa alasannya cepet-cepet memindahkan barang, ia menjawab, “Kamar gue kan di lantai tiga. Yaudah setiap kali gue turun, entah ke masjid atau ke kantin, sekalian aja gue bawa kardus-kardus gue.”

Setelah semua anak kamar memindahkan dan menata barang-barangnya, aku dan Atrika bertugas menyapu dan mengepel kamar. Tidak hanya sekali, namun kami melakukannya dua kali. Tetapi, satu masalah muncul. Seberkas bau tak sedap tercium oleh hidung kami. Walaupun sudah disemprot dengan pengharum ruangan, bau tak sedap tersebut tidak hilang. Kami bingung. Ini bau apa ya?

Kami mengecek setiap sudut kamar, barangkali ada penyebab bau tersebut. Ketika aku melongok ke pojokan kolong kasurku, aku terperanjat “ASTAGHFIRULLAH!” jeritku.

“Kenapa Dhir?” tanya yang lainnya.

“ADA BANGKAI!” aku panik.

Hani melihat ke kolong kasurku. Namun, menurutnya tidak terlalu jelas. Akhirnya, aku membantunya mengangkat kasurku, agar lebih jelas telihat. Dan ternyata... seonggok bangkai tikus tergeletak di sana. Sepertinya sudah mulai berbelatung. Jujur, aku tidak sanggup melihatnya. Padahal, dua hari sebelumnya, saat awal mulai pindahan, tidak ada apa-apa. Aku terus beristighfar dalam hati.

Jangan-jangan... apa yang diucapkan Dapol menjadi kenyataan. Sesaat setelah pengocokan kamar, Dapol berujar, “Si Nadhira sama si Nuni jadi satu. Wah, kamarnya bakal penuh bangkai ini. Ngomongin cowok terus.”

Walau kutahu ia hanya bercanda, namun kisah bangkai tikus ini cukup menamparku. “Ya Allah Nun, belum juga kita tidur di kamar, udah bau bangkai aja kamarnya,” keluhku. Dan sialnya, bangkai tersebut berada di kolong kasurku... dimana kasurku satu ranjang dengan Nuni. Huuuuh.

Akhirnya, urusan bangkai tikus ini terselesaikan setelah Hani membuang bangkai tersebut. Dengan bantuan sapu lidi tidak terpakai dan sebuah serokan, bangkai tersebut enyah dari kamarku. Setelah itu, aku mengepel kolong kasurku berkali-kali agar sisa-sisa dari benda menjijikan tersebut hilang.

Seiring berjalannya waktu, muncullah para penghuni gelap kamar 102 H. Dimulai dari anak kamar sebelah, Mira yang selalu menumpang belajar bahkan tidur, Farida yang senang baca novel di lantai sambil menghadap kipas, hingga Alya dan Rizka yang menumpang ngadem di bawah kipas setelah olahraga. Tidak hanya itu. Penghuni gelap kamar mandi pun ada. Sebut saja Jojo dan Qelby yang paling setia menggunakan kamar mandiku, dikarenakan kamar mandi kamar mereka sudah tidak layak pakai.

Selain dikenal sebagai anak kamar rajin, 102 H juga terkenal dengan istilah tempat pembuangan. Ya, barangsiapa yang mempunyai makanan / camilan dan tidak dihabiskan, bawalah ke 102 H. Niscaya makanan tersebut akan habis dalam sekejap. Aku, Nuni, dan Hani tidak perlu diragukan keganasannya dalam makan. Namun Atrika, jangan salah. Untuk urusan makan, pemilik badan paling langsing di 102 H ini tak kalah banyaknya. Camilannya banyak. Walaupun sering dimintai oleh anak-anak kamarnya, sih.

Kamarku hanya mempunyai satu music box. Warna pink milik Atrika. Karena yang memilikinya Atrika, otomatis lagu-lagu Korea lah yang sering diputar di kamar. Untungnya, kami semua juga menyukai dunia K-pop dan K-drama. Jadi, tidak pernah ada permasalahan dalam hal ini. Bahkan, karena terlalu seringnya OST suatu drama diputar di kamar, kami jadi hafal lagunya. Hehe.

Kali ini, akan kujelaskan satu persatu anak kamarku.

Pertama, Nuni. Pemilik nama lengkap Aisyah Nuraeni ini termasuk anak yang jarang di kamar kalau belajar. Soalnya, ia bisa langsung tertidur bila belajar di kamar. Biasanya ia belajar di living room, atau khusus matematika ia belajar di kamar Kiki. Anaknya ceria, ia yang paling rajin bernyanyi-nyanyi tidak jelas di kamar. Kalau sudah nempel di kasur, belum lima menit sudah tidak bisa diajak bicara lagi. Nuni ini yang paling sering tidur (dan tertidur) di kasurku. Biasanya, jika di malam hari aku dan Nuni tidak bisa tidur, kami mengobrol di atas kasur masing-masing. Bahasa kerennya pillow talk. Seringnya, kami mengobrol mengenai masa depan. Entah masalah perkuliahan ataupun masalah pernikahan. Baper-baperan dan galau-galauan bersama, hingga membicarakan seseorang yang tidak perlu kusebutkan namanya. Hehe. Aku dan anak kamarku paling suka kalau Nuni sudah dijenguk. Biasanya kami mendapat makanan dari mama Nuni. Kadang ikan, kadang sosis, bahkan potluck tambahan spesial dai mama Nuni. Beberapa kali kami makan besar dialasi koran di kamar hingga kekenyangan. Oh ya. Kalau sudah merasa sangat senang (entah karena sesuatu atau seseorang), ia pasti berguling-guling dan teriak-teriak di kasurku. Biasanya, aku ikut menemaninya sampai Atrika dibuat pusing oleh kelakuan kami berdua.

Selanjutnya, Atrika. Di antara kami berempat, Atrika lah yang paling tidak perlu berolahraga. Tidak seperti ketiga anak kamar lainnya yang merupakan anggota babonah Axiora. Tetapi, olahraganya berbeda. Ketika aku, Nuni, dan Hani lari pagi di lapangan, ia di depan cermin asyik menari lagu Korea. Untuk urusan belajar, Atrika ini jagonya. Ia tidak pernah menunda-nunda mengerjakan PR. Berbeda dengan aku yang memang anak deadline. Selain itu, ia yang paling kuat begadang sampai tengah malam. Alasannya, kalau dia tidur terlebih dahulu, dijamin tidak akan bangun sampai pagi. Untungnya, rajin belajarnya menular pada anak kamar yang meja belajarnya persis sebelah milik Atrika. Ya, itu aku. Seminggu sebelum USBN, aku sudah mulai merangkum dan belajar materi yang akan diujikan gara-gara melihat Atrika melakukannya. Jadilah aku dan Atrika begadang selama dua minggu gara-gara USBN. Di antara anak kamarku, Atrika adalah anak kamar yang paling kukagumi. Mengapa? Karena tugasnya tidak pernah kepepet deadline, nilai ulangannya selalu bagus, namun nonton drama Korea juga tidak pernah absen. Ckckck.

Terakhir, Hani. Jangan pernah berharap ia masih bangun jam setengah 10 malam. Niatnya belajar, eh malah ketiduran. Selalu seperti itu. Namun, tidur cepatnya juga membuahkan hasil bangun paling pagi di kamar. Biasanya ia sudah bangun jam setengah 4. Kalau ada ulangan, ia bisa bangun lebih pagi daripada itu. Di antara kami berempat, Hani yang paling sering dicari oleh adik kelas. Karena kerjaannya berjualan kerudung Rohani. Kerudungnya panjang, adem, murah lagi. Kok malah endorse sih. Hehe. Tempat favoritnya dalam belajar cuma satu; kasurnya. Walau tahu sering tertidur, ia jarang sekali belajar selain di kasurnya. Hani juga tidak pernah pantang makan tengah malam. “Kalau ada makanan, sayang Dhir kalau gak dimakan langsung,” akunya. Hani pernah membuat anak kamarku panik karena belum balik reguler hingga malam hari. Kami tahu ia pulang ke rumah. Tapi mengapa sampai larut malam ia belum kembali? Anak kamarku, ditambah ibu ketua angkatan—Rizka, Fia, dan Jihan mencoba menelepon orang tua Hani. Kami tidak punya nomor ponselnya. Yang ada di HP angkatan pun tidak diangkat. Akhirnya, kami membuka buku-buku Hani yang ada di meja dan menelepon setiap nomor yang ada. Namun hasilnya nihil. Kami pasrah dan hanya bisa berdoa. Esoknya, menjelang subuh, aku melihat Hani duduk di kasur. Aku kaget dan teriak, “HANI... LU BIKIN ANAK KAMAR PANIK YA!” Yang diteriaki malah cengengesan dan akhirnya menjelaskan kisahnya kepada anak kamar.

***

Jika setiap dari kami ada yang berulang tahun, dirayakannya kalau tidak menjelang akhir dari hari tersebut atau bahkan besoknya. Ulang tahun Atrika, tanggal 11 Februari, dirayakan esoknya. Ulang tahunku, 23 Maret, dirayakan setengah jam sebelum hari berakhir. Dan ulang tahun Nuni, 5 Mei, dirayakan esoknya juga. Sayang, kami tidak merayakan ulang tahun Hani karena ulang tahunnya masih lama, dan selalu saat liburan, 21 Juni.

Saat ulang tahun Atrika lalu, anak kamar 102 H ditambah Farida memberinya kue dan boneka. Kuenya tidak terlalu besar. Namun karena sudah malam, kami tak sanggup untuk menghabiskannya. Jadilah sedikit kue itu dikasihkan kepada seseorang yang kebetulan berulang tahun sehari setelah Atrika. Dan karena itulah, kami kecipratan rezeki dari yang ulang tahun tersebut, hehe. Ulang tahunku diwarnai dengan belajar dan begadang. Ya, aku berulang tahun tepat di hari USBN. Aku diberi kado boneka yang katanya mirip denganku, diberi nama Dhira Junior. Ulang tahun Nuni lebih seru lagi. Korban kejahilan kami jatuh kepada Trio Conquera. Kami suruh mereka bernyanyi happy birthday Nuni bersama kami lewat telepon. Walaupun sederhana, yang penting kami bahagia.

Seandainya ada penghargaan anggota sekaligus pembantu angkatan terbaik, aku yakin penghargaan tersebut jatuh kepada 102 H. Bagaimana tidak? Dari zaman Alya hingga Rizka, para ketua akhwat seringnya curhat masalah angkatan di kamar kami. Bahkan pernah kumpul BPH akhwat di kamar kami. Yang membuat minuman untuk khotmil Qur’an biasanya juga anak kamar kami... walaupun cuma Hani dan Nuni, sih. Tapi membuatnya di kamar kami juga. Selain itu, penulisan nama dan alamat undangan wisuda pun dilakukan di kamar kami. Semalam suntuk kami mengerjakannya. Dibantu Farida, Salma, dan Jihan, kami menamai undangan wisuda walaupun sempat ngomel-ngomel terlebih dahulu kepada ketua angkatan. Bahkan, sehari sebelum wisuda, pakaian-pakaian yang ingin disumbangkan dan tidak ingin dibawa pulang pun dikumpulkan di kamar kami, membuat H-1 wisuda menjadi hari paling berantakan bagi kamar kami. Jadi bisa dibilang, 102 H merupakan BPH bayangan Axiora. Hehe.

Kami menyebut diri kami Cinderella. Seorang putri yang selalu bekerja keras—mulai dari mencuci, menyetrika, menyapu, dan mengepel. Kami pun demikian. Kami semua mencuci dan menyetrika pakaian sendiri. Hanya aku dan Nuni yang terkadang masih me-laundry. Itu pun barang-barang besar seperti sprei dan selimut saja. Kalau sudah masalah menyetrika, kami biasa bergantian. Dari Sabtu siang hingga Minggu pagi. Malah pernah sekali waktu menyetrika berdua, karena di kamar memang terdapat dua setrika.

Cinderella tidak pernah mengeluh. Ya, semua pekerjaan ala emak-emak ini kami kerjakan dengan senang hati, sekaligus bekal ketika menjadi ibu rumah tangga nanti. Masing-masing dari kami bertekad untuk menjadi istri sekaligus ibu yang terbaik untuk keluarga di masa depan. Duh, maaf ya bahasannya seperti ini. Memang kenyataannya, omongan dunia pernikahan selalu hadir dalam hampir setiap perbincangan kami.

Kalau Cinderella telah bertemu dengan Prince Charming-nya, suatu saat nanti, kami pun akan mendapatkannya. Seorang suami yang cakep, pinter, kece, dan sholeh, seperti yel-yel Axiora setiap pagi.

#oke #bye.

(ini panjang coy. 6 halaman Ms. Word-_-)

Cinderella setelah Idul Adha
Kalian jangan lupa datang ke walimahan Nadhira ya(?)
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

KEMBALI BERSAMA KELUARGA

Hari ini, tepat 3 tahun hijriah yang lalu, aku menapaki bumi Insan Cendekia. Tempatku menuntut ilmu. Tempatku bertemu teman baru. Dan tempatku berproses menjadi pribadi lebih baik dari yang lalu. Selama tiga tahun tersebut, aku menghabiskan 1 Ramadan di ranah perantauan.

Maka inilah kali pertamaku, setelah tiga tahun, berbuka puasa bersama keluarga di hari pertama bulan suci ini. Selama tiga tahun hanya ada Ayah, Bunda, Nada, dan Najla.

Baru satu hari menghabiskan Ramadan di rumah, rindu menghampiriku. Aku merindukan suasana Ramadan di Insan Cendekia. Tarawih bersama dan diimami oleh Syekh, mendengarkan ceramah guru, hingga ribut ketika membuat takjil dalam rangkaian acara i-Fun. Ditambah lagi merasakan ujian akhir semester saat Ramadan. Pulang dari masjid lebih lama, begadang pasti, tapi harus bangun lebih pagi.

Di IC, mudah untuk melangkahkan kaki sholat berjamaah di masjid. Mudah bibir ini melantunkan ayat suci Alquran hingga lupa waktu. Dan mudah diri ini untuk tidak tertidur sehabis sholat Subuh.

Kini aku berada di rumah. Jujur, aku tidak pernah sholat berjamaah di masjid. Tarawih pun tidak. Dikarenakan, sholat tarawih di masjid dekat rumah tidak tu’maninah, dan lebih banyak mainnya. Alhasil aku sholat tarawih bersama keluarga saja. Pun demikian dengan sholat fardhu. Sholat berjamaah hanya kulakukan sekali, saat isya, bersama Bunda dan Nada. Kadang aku merasa, Ramadan di rumah tidak sekencang di IC ibadahnya.

Namun aku bersyukur. Kembali bersama keluarga merupakan suatu hal yang dinanti. Sahur dan berbuka bersama keluarga, tarawih bersama, dan saling menyimak bacaan Alquran menjadi rutinitasku berada di rumah. Setidaknya, untuk urusan tadarus Alquran, insyaallah aku semangat.

Banyak hal yang bisa kulakukan di rumah. Membantu orang tua, misalnya. Menyapu dan mengepel menjadi kewajibanku setiap akhir pekan. Pun dengan mencuci piring dan baju. Walau aku tidak bisa memasak, setidaknya aku bisa membantu menyiapkan makanan di bagian mengupas wortel, memarut singkong, hingga mengulek jagung. Jika kita melakukannya dengan senang hati, insyaallah pahala juga akan mengalir. Pasti.

Di manapun kita menghabiskan Ramadan, beribadah jangan pernah bosan! Dan tetaplah menebar kebaikan!

***
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
(edisi Kau Melukis Aku)

Terlalu banyak trio di Insan Cendekia. Mulai dari trio Sedekep­-nya Pak Ipik, trio kwek-kwek Farida-Atrika-Almyra, trio kwok-kwok (saingan trio kwek-kwek) yang terdiri dari Afif-Hafi-Yusqi, trio Winong Power Lya-Ilen-Jojo, hingga trio Cinderella dari 102 H.

Namun di antara semuanya, aku akan memilih satu trio yang menginspirasiku sekaligus membuatku iri pada mereka; TRIO CONQUERA. Siapa yang tidak mengenal trio ini? Trio yang beranggotakan dua pria beranjak dewasa—Muhammad Zhofir dan Zidnal Mafaz—dan satu yang masih imut-imut—Muhammad Ajrurridho ini menaruh kesan mendalam padaku akan arti persahabatan.

Pertemanan mereka dimulai sejak kelas X, ketika mereka masih berada di bawah naungan divisi OSIS yang sama, divisi Iman dan Takwa. Dulu, yang kutahu dari mereka ialah mereka merupakan para penghafal Alquran. Bahkan salah satunya sudah bergelar hafizh. Namun saat itu, aku masih belum tahu yang mana yang telah menyelesaikan hafalannya.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai mengenal mereka lebih jauh. Mafaz dan Ridho merupakan teman segabungan kelasku di kelas X. Kemana-mana seringnya berdua. Kalau dilihat-lihat, mereka jadi seperti bapak dan anak. Sedang Zhofir, aku belum terlalu mengenalnya. Yang kuingat ialah peci birunya yang tinggi seperti kue.

Satu hal yang paling kukagumi dari mereka adalah kecintaan mereka terhadap Alquran. Ada saja yang mereka lakukan agar Axiora lebih dekat dengan Alquran. Siapapun ketua angkatannya, untuk urusan khotmil Qur’an, pasti mereka yang mengarturnya.

Pun dengan program one day one juz­-nya anak ikhwan. Setahuku, Ridho pencetusnya. Melihat kertas yang ditempel di pintu kiri masjid dan berisikan pembagian juz dalam program ODOJ tersebut membuatku berpikir, duh, anak akhwat bisa gak ya melakukan hal serupa.

Kelas tahsin ikhwan yang berjalan setiap Sabtu malam pun aku yakin mereka yang mencetusnya. Mungkin ditambah Bapak Ketua Suku Haris Abdul Majid yang membantu merencanakan dan melaksanakan programnya. Mereka bertiga—Zhofir, Mafaz, dan Ridho—menjadi musyrif atau guru dalam kelas tahsin tersebut, ditambah Haris, Ivan dan Amil.

Mereka bertiga merupakan imam Masjid Ulil Albab dari Axiora generasi pertama. Dari ketiganya, yang suaranya paling kusuka adalah Ridho. Imam Kamis subuh tersebut bacaannya fasih dan lantang. Salah satu yang membuatku semangat pergi ke masjid saat Kamis subuh, hehe.

Masing-masing dari mereka mempunyai keunikannya sendiri. Zhofir, tentu dikenal sebagai qari terbaik dari Axiora. Suaranya saat mengaji sungguh merdu. Kalau sudah menghayati bacaannya, siapa saja bisa meneteskan air mata saking indahnya. Selain suaranya yang sangat merdu saat melantunkan ayat suci Alquran, kalau sudah berpidato, kata-katanya bisa sangat indah dan puitis. Terbukti di setiap kumpul angkatan dan saat wisuda lalu. Salah satu kalimat favoritku yang dibaca oleh ketua angkatan selamanya Axiora ini adalah, “Hakikatnya semua takdir Allah itu Indah, namun kadang jalan menuju keindahan itu tak begitu indah. Yakinlah semua jalan yang tak begitu indah sebenarnya indah, namun apadaya hati ini sangat lemah dan tak berdaya untuk peka dan merasa pada keindahan yang begitu indah.”

Anggota trio Conquera tidak selamanya bersikap serius, kok. Di antara mereka, ada yang jago stand up comedy. Ridho, selain ahli dalam sejarah Islam, ia juga ahli dalam membuat orang lain tertawa. Guyonan khasnya sering kali membuatku tertawa. Entah karena aku yang receh atau apa. Selain itu, perawakannya yang masih imut terkadang membuat beberapa anak akhwat ingin menjadikannya gantungan kunci. Hehe. Namun, bila Ridho sedang mengaji, suara merdunya terdengar, hingga ke barisan akhwat. Aku paling suka bila ia sudah membaca dengan nada tinggi. Keren. Asli keren banget. Dibalik hobinya yang senang bercanda, Ridho termasuk orang yang sangat tegas. Jangan pernah main-main dengan ketegasannya. Terlebih dalam masalah peraturan. Dan tahukah, Ridho mempunyai bakat terpendam menjadi boyband, lho. Saat pentas seni The Voyage lalu, ia menari ala boyband yang membuat Gedung Serba Guna penuh oleh teriakan wanita. Aku saja sampai dibuat kelepek-kelepek karenanya, ehehehehe.

Yang terakhir, Mafaz. Di antara ketiganya, bisa dibilang ia yang paling pendiam. Terlihat jarang berbicara, tapi selalu mempunyai sejuta pikiran di dalam kepalanya. Di balik pendiamnya, sebenarnya ia sering dimintakan nasihat oleh teman-temannya. Mungkin nasihat tentang fikih sehari-hari. Mungkin juga nasihat dan tips menghafal Alquran dari hafizh-nya Axiora ini. Atau mungkin juga nasihat mengenai dunia masa depan, dunia pernikahan. Hehe. Mafaz sendiri menjadi salah satu tempatku bertanya masalah fikih dan ibadah, selain Haris dan Amil. Dibalik pembawaannya yang tenang, jawaban bijak selalu terucap dari bibirnya. Satu ciri khasnya jika diajak berbicara. Senyuman selalu tersungging dari bibirnya. Tak jarang pula ia tertawa. Harus kuakui, receh-nya nggak ketulungan. Walau terkadang, suaranya yang terlalu lembut membuatku selalu bertanya, “Hah?” setiap mendengar omongannya. Entah memang suaranya yang kecil atau telingaku yang bermasalah. Mafaz, salah satu anak ikhwan Axiora terbaik yang pernah kutemui. Kata Rizka, ia adalah orang yang tidak mau menyakiti orang lain. Hani bilang, ia tidak pernah berpikiran negatif terhadap orang lain. Satu dari sedikit alasan yang membuatku kagum padanya.

Trio Conquera tetaplah manusia biasa. Terkadang dihormati, tak jarang pula mereka ku­bully. Zhofir si korban kekomporan nomor wahid, Ridho yang selalu kupanggil Oppa, dan Mafaz yang paling sering kusuruh-suruh. Semoga aku tidak dihujat mereka ya Allah. Hehe.

***

Kini, ketiganya harus berpisah. Yang satu ingin menjadi dokter, yang satu lagi ingin menjadi ahli geologi, dan yang terakhir sudah menjadi mahasiswa dirasah Islamiyyah. Ketiganya menempuh jalan berbeda untuk menggapai cita-cita. Namun aku yakin, persahabatan mereka akan terus terjaga. Karena aku tahu, mereka mempunyai satu mimpi besar: Mencetak lebih banyak hafizh dan hafizhah dari Axiora.

Walaupun Zhofir dan Ridho sekarang belum menjadi hafizh, tetapi ghiroh mereka unuk menyelesaikan hafalan pasti sangat kuat. Mereka bertiga, bahkan, merencanakan untuk membuat komunitas untuk para penghafal Alquran Axiora, agar perkembangan usaha para calon hafizh dan hafizhah terlihat. Kalau kata Zhofir, komunitas itu bertujuan untuk memonitor para calon hafizh dan hafizhah agar mereka semangat dan berhasil menyelesaikan hafalannya. Masyaallah.

Jujur, aku bersyukur mengenal teman seperti mereka. Trio Conquera telah menginspirasiku dalam berbagai hal. Membuatku selalu berpikir, apakah kisah persahabatanku akan seperti mereka?  Ya, mereka menunjukkan padaku arti sesungguhnya tentang persahabatan. Dilandasi keimanan, juga kecintaan pada Alquran. Sehingga selalu menjadi pengingat akan kebaikan dan kesabaran. Persahabatan seperti ini, surgalah yang akan menjadi tujuan. Allahu akbar.

Kadang aku berpikir. Indonesia butuh pemimpin seperti mereka. Walau berbeda profesi, tetap satu visi-misi. Berakhlak Alquran, hingga mengqurankan rakyatnya. Aku yakin, masing-masing dari mereka sudah memiliki mimpi mulia. Menjadi jawaban akan permasalahan umat yang tengah terjadi saat ini.

Pesanku buat Pak Ustad, Mas dokter, dan Oppa; Tetaplah menginspirasi, sekaligus memotivasi. Bersiaplah menjadi ahli ilmu dunia yang terus menggaungkan nama Islam yang damai dan sejahtera. Doakan aku juga, agar ilmu yang kuserap dari kalian akan berguna nantinya. Dan jangan lupa, kalau kalian menikah, undang-undang aku ya. Aku ingin tahu, siapakah wanita terbaik yang pantas mendampingi orang-orang hebat seperti kalian (ceilah).

Terakhir. Satu lagi pesanku! Zhofir, Mafaz, Ridho, jangan sering-sering makan mi, ya! Tidak sehat. Huh.

Akhirnya wisuda bisa foto sama mereka bertiga. Haha.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Nadhira KA, 21. An architecture student who loves photography and proudly be as a Gooner.

Follow Us

  • twitter
  • instagram
  • behance

Categories

  • Nadhira dan Cinta Pertama
  • karena kita; Axiora
  • kehidupan ITB
  • kepingan kenangan

Blog Archive

  • ►  2023 (1)
    • ►  November 2023 (1)
  • ►  2020 (3)
    • ►  August 2020 (1)
    • ►  May 2020 (1)
    • ►  April 2020 (1)
  • ►  2019 (5)
    • ►  June 2019 (4)
    • ►  May 2019 (1)
  • ►  2018 (5)
    • ►  December 2018 (1)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  June 2018 (2)
    • ►  May 2018 (1)
  • ▼  2017 (45)
    • ►  December 2017 (3)
    • ►  November 2017 (1)
    • ►  October 2017 (2)
    • ►  September 2017 (3)
    • ►  August 2017 (1)
    • ►  July 2017 (15)
    • ►  June 2017 (5)
    • ▼  May 2017 (14)
      • #SalamRamadan – Day 5
      • #SalamRamadan – Day 4
      • #SalamRamadan – Day 3
      • #SalamRamadan – Day 2
      • #Keping7; Cinderella 102 H
      • #SalamRamadan – Day 1
      • #Keping6; Tiga Sekawan Penebar Kebaikan
      • #Keping5; Persembahan Terakhir
      • #Keping4; Dua Cerita
      • 4 Jam Menuju Yogya
      • Renungan Kamis Malam
      • #Keping3; Insan Cendekia Penyatu Dunia
      • #Keping2; D A U N
      • #Keping1; Unsur yang Terlepas
    • ►  February 2017 (1)
  • ►  2016 (39)
    • ►  December 2016 (1)
    • ►  November 2016 (3)
    • ►  September 2016 (3)
    • ►  August 2016 (3)
    • ►  July 2016 (6)
    • ►  June 2016 (6)
    • ►  May 2016 (4)
    • ►  April 2016 (7)
    • ►  March 2016 (2)
    • ►  February 2016 (3)
    • ►  January 2016 (1)
  • ►  2015 (46)
    • ►  December 2015 (8)
    • ►  November 2015 (2)
    • ►  September 2015 (4)
    • ►  August 2015 (6)
    • ►  July 2015 (3)
    • ►  June 2015 (4)
    • ►  May 2015 (1)
    • ►  April 2015 (3)
    • ►  March 2015 (5)
    • ►  February 2015 (8)
    • ►  January 2015 (2)
  • ►  2014 (24)
    • ►  December 2014 (7)
    • ►  November 2014 (4)
    • ►  October 2014 (12)
    • ►  September 2014 (1)

Facebook

ThemeXpose