• Home
  • About
  • Contact
    • Mail
  • She Talks Football
  • Untuk Nadhira
Powered by Blogger.
facebook twitter instagram

encyclopedhira

102 H di tengah lautan

(edisi Kau Melukis Aku)

Di suatu minggu pagi yang cerah, pukul 08:00.

Aku baru saja menyelesaikan olahraga lari pagiku. Dengan keringat membanjiri sebagian bajuku, aku kembali ke kamar.

“Assalamu’alaikum!” teriakku di depan pintu kamar.

"Waalaikum salam!” jawaban Nuni yang paling terdengar di telingaku. Ia membalas dengan teriakan juga.

Terlihat Atrika sedang menyapu di dekat meja belajarku, dan membuatku sedikit tidak enak melewatinya. Akhirnya aku memutuskan untuk duduk di atas meja, agar Atrika tidak terganggu ketika menyapu meja belajarku. “Pagi-pagi udah nyapu aja, Trik,” godaku.

Sontak, Hani yang berada di kamar dalam (setiap kamar di gedung H mempunyai dua ruangan) menyahut, “Tinggal elu Dhir, yang belum kerja!”

“Hah?” tanyaku.

Hani melongok di depan pintu kamar dalam. Ia berujar, “Iya, Dhir. Atrika udah nyapu. Gue udah bersihin kamar mandi kemarin. Nun, lu ngapain dah? Oh ya. Nuni udah nyuci keset. Tinggal elu yang belum kebagian tugas.”

“Apa? Belum ada yang ngepel, kan?” tanyaku lagi.

“Iya. Ya sudah Dhir, kamu ngepel,” kata Hani.

“Siap!”

***

Begitulah kisah hampir setiap minggu di kamarku. 102 H, yang terdiri dari Nuni, Atrika, Hani, dan aku sendiri dikenal sebagai anak kamar rajin. Hehe. Rajin piket subuh, rajin bangun pagi, rajin olahraga, rajin membantu angkat galon, hingga rajin menghabiskan sisa suplemen. Bagaimana tidak? Posisi kamar dekat meja halal membuat kami mudah mengambil makanan yang tidak diambil haknya oleh si empunya. Tentu saja, kami baru menyerbunya di atas pukul 11 malam.

Di suatu sore di akhir kelas XI, setelah pengocokan kamar, aku berkunjung ke calon kamar baruku. Aku terkejut mendengar suara berisik dari dalam kamar. Lebih tepatnya dalam kamar mandi. Dan ternyata, kulihat Nuni dan Hani sedang berusaha membersihkan kerak dan membuat kamar mandi kami menjadi kinclong. Ditemani music box, mereka mengerjakannya dengan sangat gembira.

Ketika perpindahan kamar pun, Atrika yang paling dahulu selesai. Tak hanya selesai memindahkan barang, namun juga merapikan barangnya. Ketika kutanya apa alasannya cepet-cepet memindahkan barang, ia menjawab, “Kamar gue kan di lantai tiga. Yaudah setiap kali gue turun, entah ke masjid atau ke kantin, sekalian aja gue bawa kardus-kardus gue.”

Setelah semua anak kamar memindahkan dan menata barang-barangnya, aku dan Atrika bertugas menyapu dan mengepel kamar. Tidak hanya sekali, namun kami melakukannya dua kali. Tetapi, satu masalah muncul. Seberkas bau tak sedap tercium oleh hidung kami. Walaupun sudah disemprot dengan pengharum ruangan, bau tak sedap tersebut tidak hilang. Kami bingung. Ini bau apa ya?

Kami mengecek setiap sudut kamar, barangkali ada penyebab bau tersebut. Ketika aku melongok ke pojokan kolong kasurku, aku terperanjat “ASTAGHFIRULLAH!” jeritku.

“Kenapa Dhir?” tanya yang lainnya.

“ADA BANGKAI!” aku panik.

Hani melihat ke kolong kasurku. Namun, menurutnya tidak terlalu jelas. Akhirnya, aku membantunya mengangkat kasurku, agar lebih jelas telihat. Dan ternyata... seonggok bangkai tikus tergeletak di sana. Sepertinya sudah mulai berbelatung. Jujur, aku tidak sanggup melihatnya. Padahal, dua hari sebelumnya, saat awal mulai pindahan, tidak ada apa-apa. Aku terus beristighfar dalam hati.

Jangan-jangan... apa yang diucapkan Dapol menjadi kenyataan. Sesaat setelah pengocokan kamar, Dapol berujar, “Si Nadhira sama si Nuni jadi satu. Wah, kamarnya bakal penuh bangkai ini. Ngomongin cowok terus.”

Walau kutahu ia hanya bercanda, namun kisah bangkai tikus ini cukup menamparku. “Ya Allah Nun, belum juga kita tidur di kamar, udah bau bangkai aja kamarnya,” keluhku. Dan sialnya, bangkai tersebut berada di kolong kasurku... dimana kasurku satu ranjang dengan Nuni. Huuuuh.

Akhirnya, urusan bangkai tikus ini terselesaikan setelah Hani membuang bangkai tersebut. Dengan bantuan sapu lidi tidak terpakai dan sebuah serokan, bangkai tersebut enyah dari kamarku. Setelah itu, aku mengepel kolong kasurku berkali-kali agar sisa-sisa dari benda menjijikan tersebut hilang.

Seiring berjalannya waktu, muncullah para penghuni gelap kamar 102 H. Dimulai dari anak kamar sebelah, Mira yang selalu menumpang belajar bahkan tidur, Farida yang senang baca novel di lantai sambil menghadap kipas, hingga Alya dan Rizka yang menumpang ngadem di bawah kipas setelah olahraga. Tidak hanya itu. Penghuni gelap kamar mandi pun ada. Sebut saja Jojo dan Qelby yang paling setia menggunakan kamar mandiku, dikarenakan kamar mandi kamar mereka sudah tidak layak pakai.

Selain dikenal sebagai anak kamar rajin, 102 H juga terkenal dengan istilah tempat pembuangan. Ya, barangsiapa yang mempunyai makanan / camilan dan tidak dihabiskan, bawalah ke 102 H. Niscaya makanan tersebut akan habis dalam sekejap. Aku, Nuni, dan Hani tidak perlu diragukan keganasannya dalam makan. Namun Atrika, jangan salah. Untuk urusan makan, pemilik badan paling langsing di 102 H ini tak kalah banyaknya. Camilannya banyak. Walaupun sering dimintai oleh anak-anak kamarnya, sih.

Kamarku hanya mempunyai satu music box. Warna pink milik Atrika. Karena yang memilikinya Atrika, otomatis lagu-lagu Korea lah yang sering diputar di kamar. Untungnya, kami semua juga menyukai dunia K-pop dan K-drama. Jadi, tidak pernah ada permasalahan dalam hal ini. Bahkan, karena terlalu seringnya OST suatu drama diputar di kamar, kami jadi hafal lagunya. Hehe.

Kali ini, akan kujelaskan satu persatu anak kamarku.

Pertama, Nuni. Pemilik nama lengkap Aisyah Nuraeni ini termasuk anak yang jarang di kamar kalau belajar. Soalnya, ia bisa langsung tertidur bila belajar di kamar. Biasanya ia belajar di living room, atau khusus matematika ia belajar di kamar Kiki. Anaknya ceria, ia yang paling rajin bernyanyi-nyanyi tidak jelas di kamar. Kalau sudah nempel di kasur, belum lima menit sudah tidak bisa diajak bicara lagi. Nuni ini yang paling sering tidur (dan tertidur) di kasurku. Biasanya, jika di malam hari aku dan Nuni tidak bisa tidur, kami mengobrol di atas kasur masing-masing. Bahasa kerennya pillow talk. Seringnya, kami mengobrol mengenai masa depan. Entah masalah perkuliahan ataupun masalah pernikahan. Baper-baperan dan galau-galauan bersama, hingga membicarakan seseorang yang tidak perlu kusebutkan namanya. Hehe. Aku dan anak kamarku paling suka kalau Nuni sudah dijenguk. Biasanya kami mendapat makanan dari mama Nuni. Kadang ikan, kadang sosis, bahkan potluck tambahan spesial dai mama Nuni. Beberapa kali kami makan besar dialasi koran di kamar hingga kekenyangan. Oh ya. Kalau sudah merasa sangat senang (entah karena sesuatu atau seseorang), ia pasti berguling-guling dan teriak-teriak di kasurku. Biasanya, aku ikut menemaninya sampai Atrika dibuat pusing oleh kelakuan kami berdua.

Selanjutnya, Atrika. Di antara kami berempat, Atrika lah yang paling tidak perlu berolahraga. Tidak seperti ketiga anak kamar lainnya yang merupakan anggota babonah Axiora. Tetapi, olahraganya berbeda. Ketika aku, Nuni, dan Hani lari pagi di lapangan, ia di depan cermin asyik menari lagu Korea. Untuk urusan belajar, Atrika ini jagonya. Ia tidak pernah menunda-nunda mengerjakan PR. Berbeda dengan aku yang memang anak deadline. Selain itu, ia yang paling kuat begadang sampai tengah malam. Alasannya, kalau dia tidur terlebih dahulu, dijamin tidak akan bangun sampai pagi. Untungnya, rajin belajarnya menular pada anak kamar yang meja belajarnya persis sebelah milik Atrika. Ya, itu aku. Seminggu sebelum USBN, aku sudah mulai merangkum dan belajar materi yang akan diujikan gara-gara melihat Atrika melakukannya. Jadilah aku dan Atrika begadang selama dua minggu gara-gara USBN. Di antara anak kamarku, Atrika adalah anak kamar yang paling kukagumi. Mengapa? Karena tugasnya tidak pernah kepepet deadline, nilai ulangannya selalu bagus, namun nonton drama Korea juga tidak pernah absen. Ckckck.

Terakhir, Hani. Jangan pernah berharap ia masih bangun jam setengah 10 malam. Niatnya belajar, eh malah ketiduran. Selalu seperti itu. Namun, tidur cepatnya juga membuahkan hasil bangun paling pagi di kamar. Biasanya ia sudah bangun jam setengah 4. Kalau ada ulangan, ia bisa bangun lebih pagi daripada itu. Di antara kami berempat, Hani yang paling sering dicari oleh adik kelas. Karena kerjaannya berjualan kerudung Rohani. Kerudungnya panjang, adem, murah lagi. Kok malah endorse sih. Hehe. Tempat favoritnya dalam belajar cuma satu; kasurnya. Walau tahu sering tertidur, ia jarang sekali belajar selain di kasurnya. Hani juga tidak pernah pantang makan tengah malam. “Kalau ada makanan, sayang Dhir kalau gak dimakan langsung,” akunya. Hani pernah membuat anak kamarku panik karena belum balik reguler hingga malam hari. Kami tahu ia pulang ke rumah. Tapi mengapa sampai larut malam ia belum kembali? Anak kamarku, ditambah ibu ketua angkatan—Rizka, Fia, dan Jihan mencoba menelepon orang tua Hani. Kami tidak punya nomor ponselnya. Yang ada di HP angkatan pun tidak diangkat. Akhirnya, kami membuka buku-buku Hani yang ada di meja dan menelepon setiap nomor yang ada. Namun hasilnya nihil. Kami pasrah dan hanya bisa berdoa. Esoknya, menjelang subuh, aku melihat Hani duduk di kasur. Aku kaget dan teriak, “HANI... LU BIKIN ANAK KAMAR PANIK YA!” Yang diteriaki malah cengengesan dan akhirnya menjelaskan kisahnya kepada anak kamar.

***

Jika setiap dari kami ada yang berulang tahun, dirayakannya kalau tidak menjelang akhir dari hari tersebut atau bahkan besoknya. Ulang tahun Atrika, tanggal 11 Februari, dirayakan esoknya. Ulang tahunku, 23 Maret, dirayakan setengah jam sebelum hari berakhir. Dan ulang tahun Nuni, 5 Mei, dirayakan esoknya juga. Sayang, kami tidak merayakan ulang tahun Hani karena ulang tahunnya masih lama, dan selalu saat liburan, 21 Juni.

Saat ulang tahun Atrika lalu, anak kamar 102 H ditambah Farida memberinya kue dan boneka. Kuenya tidak terlalu besar. Namun karena sudah malam, kami tak sanggup untuk menghabiskannya. Jadilah sedikit kue itu dikasihkan kepada seseorang yang kebetulan berulang tahun sehari setelah Atrika. Dan karena itulah, kami kecipratan rezeki dari yang ulang tahun tersebut, hehe. Ulang tahunku diwarnai dengan belajar dan begadang. Ya, aku berulang tahun tepat di hari USBN. Aku diberi kado boneka yang katanya mirip denganku, diberi nama Dhira Junior. Ulang tahun Nuni lebih seru lagi. Korban kejahilan kami jatuh kepada Trio Conquera. Kami suruh mereka bernyanyi happy birthday Nuni bersama kami lewat telepon. Walaupun sederhana, yang penting kami bahagia.

Seandainya ada penghargaan anggota sekaligus pembantu angkatan terbaik, aku yakin penghargaan tersebut jatuh kepada 102 H. Bagaimana tidak? Dari zaman Alya hingga Rizka, para ketua akhwat seringnya curhat masalah angkatan di kamar kami. Bahkan pernah kumpul BPH akhwat di kamar kami. Yang membuat minuman untuk khotmil Qur’an biasanya juga anak kamar kami... walaupun cuma Hani dan Nuni, sih. Tapi membuatnya di kamar kami juga. Selain itu, penulisan nama dan alamat undangan wisuda pun dilakukan di kamar kami. Semalam suntuk kami mengerjakannya. Dibantu Farida, Salma, dan Jihan, kami menamai undangan wisuda walaupun sempat ngomel-ngomel terlebih dahulu kepada ketua angkatan. Bahkan, sehari sebelum wisuda, pakaian-pakaian yang ingin disumbangkan dan tidak ingin dibawa pulang pun dikumpulkan di kamar kami, membuat H-1 wisuda menjadi hari paling berantakan bagi kamar kami. Jadi bisa dibilang, 102 H merupakan BPH bayangan Axiora. Hehe.

Kami menyebut diri kami Cinderella. Seorang putri yang selalu bekerja keras—mulai dari mencuci, menyetrika, menyapu, dan mengepel. Kami pun demikian. Kami semua mencuci dan menyetrika pakaian sendiri. Hanya aku dan Nuni yang terkadang masih me-laundry. Itu pun barang-barang besar seperti sprei dan selimut saja. Kalau sudah masalah menyetrika, kami biasa bergantian. Dari Sabtu siang hingga Minggu pagi. Malah pernah sekali waktu menyetrika berdua, karena di kamar memang terdapat dua setrika.

Cinderella tidak pernah mengeluh. Ya, semua pekerjaan ala emak-emak ini kami kerjakan dengan senang hati, sekaligus bekal ketika menjadi ibu rumah tangga nanti. Masing-masing dari kami bertekad untuk menjadi istri sekaligus ibu yang terbaik untuk keluarga di masa depan. Duh, maaf ya bahasannya seperti ini. Memang kenyataannya, omongan dunia pernikahan selalu hadir dalam hampir setiap perbincangan kami.

Kalau Cinderella telah bertemu dengan Prince Charming-nya, suatu saat nanti, kami pun akan mendapatkannya. Seorang suami yang cakep, pinter, kece, dan sholeh, seperti yel-yel Axiora setiap pagi.

#oke #bye.

(ini panjang coy. 6 halaman Ms. Word-_-)

Cinderella setelah Idul Adha
Kalian jangan lupa datang ke walimahan Nadhira ya(?)
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
(edisi Kau Melukis Aku)

Terlalu banyak trio di Insan Cendekia. Mulai dari trio Sedekep­-nya Pak Ipik, trio kwek-kwek Farida-Atrika-Almyra, trio kwok-kwok (saingan trio kwek-kwek) yang terdiri dari Afif-Hafi-Yusqi, trio Winong Power Lya-Ilen-Jojo, hingga trio Cinderella dari 102 H.

Namun di antara semuanya, aku akan memilih satu trio yang menginspirasiku sekaligus membuatku iri pada mereka; TRIO CONQUERA. Siapa yang tidak mengenal trio ini? Trio yang beranggotakan dua pria beranjak dewasa—Muhammad Zhofir dan Zidnal Mafaz—dan satu yang masih imut-imut—Muhammad Ajrurridho ini menaruh kesan mendalam padaku akan arti persahabatan.

Pertemanan mereka dimulai sejak kelas X, ketika mereka masih berada di bawah naungan divisi OSIS yang sama, divisi Iman dan Takwa. Dulu, yang kutahu dari mereka ialah mereka merupakan para penghafal Alquran. Bahkan salah satunya sudah bergelar hafizh. Namun saat itu, aku masih belum tahu yang mana yang telah menyelesaikan hafalannya.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai mengenal mereka lebih jauh. Mafaz dan Ridho merupakan teman segabungan kelasku di kelas X. Kemana-mana seringnya berdua. Kalau dilihat-lihat, mereka jadi seperti bapak dan anak. Sedang Zhofir, aku belum terlalu mengenalnya. Yang kuingat ialah peci birunya yang tinggi seperti kue.

Satu hal yang paling kukagumi dari mereka adalah kecintaan mereka terhadap Alquran. Ada saja yang mereka lakukan agar Axiora lebih dekat dengan Alquran. Siapapun ketua angkatannya, untuk urusan khotmil Qur’an, pasti mereka yang mengarturnya.

Pun dengan program one day one juz­-nya anak ikhwan. Setahuku, Ridho pencetusnya. Melihat kertas yang ditempel di pintu kiri masjid dan berisikan pembagian juz dalam program ODOJ tersebut membuatku berpikir, duh, anak akhwat bisa gak ya melakukan hal serupa.

Kelas tahsin ikhwan yang berjalan setiap Sabtu malam pun aku yakin mereka yang mencetusnya. Mungkin ditambah Bapak Ketua Suku Haris Abdul Majid yang membantu merencanakan dan melaksanakan programnya. Mereka bertiga—Zhofir, Mafaz, dan Ridho—menjadi musyrif atau guru dalam kelas tahsin tersebut, ditambah Haris, Ivan dan Amil.

Mereka bertiga merupakan imam Masjid Ulil Albab dari Axiora generasi pertama. Dari ketiganya, yang suaranya paling kusuka adalah Ridho. Imam Kamis subuh tersebut bacaannya fasih dan lantang. Salah satu yang membuatku semangat pergi ke masjid saat Kamis subuh, hehe.

Masing-masing dari mereka mempunyai keunikannya sendiri. Zhofir, tentu dikenal sebagai qari terbaik dari Axiora. Suaranya saat mengaji sungguh merdu. Kalau sudah menghayati bacaannya, siapa saja bisa meneteskan air mata saking indahnya. Selain suaranya yang sangat merdu saat melantunkan ayat suci Alquran, kalau sudah berpidato, kata-katanya bisa sangat indah dan puitis. Terbukti di setiap kumpul angkatan dan saat wisuda lalu. Salah satu kalimat favoritku yang dibaca oleh ketua angkatan selamanya Axiora ini adalah, “Hakikatnya semua takdir Allah itu Indah, namun kadang jalan menuju keindahan itu tak begitu indah. Yakinlah semua jalan yang tak begitu indah sebenarnya indah, namun apadaya hati ini sangat lemah dan tak berdaya untuk peka dan merasa pada keindahan yang begitu indah.”

Anggota trio Conquera tidak selamanya bersikap serius, kok. Di antara mereka, ada yang jago stand up comedy. Ridho, selain ahli dalam sejarah Islam, ia juga ahli dalam membuat orang lain tertawa. Guyonan khasnya sering kali membuatku tertawa. Entah karena aku yang receh atau apa. Selain itu, perawakannya yang masih imut terkadang membuat beberapa anak akhwat ingin menjadikannya gantungan kunci. Hehe. Namun, bila Ridho sedang mengaji, suara merdunya terdengar, hingga ke barisan akhwat. Aku paling suka bila ia sudah membaca dengan nada tinggi. Keren. Asli keren banget. Dibalik hobinya yang senang bercanda, Ridho termasuk orang yang sangat tegas. Jangan pernah main-main dengan ketegasannya. Terlebih dalam masalah peraturan. Dan tahukah, Ridho mempunyai bakat terpendam menjadi boyband, lho. Saat pentas seni The Voyage lalu, ia menari ala boyband yang membuat Gedung Serba Guna penuh oleh teriakan wanita. Aku saja sampai dibuat kelepek-kelepek karenanya, ehehehehe.

Yang terakhir, Mafaz. Di antara ketiganya, bisa dibilang ia yang paling pendiam. Terlihat jarang berbicara, tapi selalu mempunyai sejuta pikiran di dalam kepalanya. Di balik pendiamnya, sebenarnya ia sering dimintakan nasihat oleh teman-temannya. Mungkin nasihat tentang fikih sehari-hari. Mungkin juga nasihat dan tips menghafal Alquran dari hafizh-nya Axiora ini. Atau mungkin juga nasihat mengenai dunia masa depan, dunia pernikahan. Hehe. Mafaz sendiri menjadi salah satu tempatku bertanya masalah fikih dan ibadah, selain Haris dan Amil. Dibalik pembawaannya yang tenang, jawaban bijak selalu terucap dari bibirnya. Satu ciri khasnya jika diajak berbicara. Senyuman selalu tersungging dari bibirnya. Tak jarang pula ia tertawa. Harus kuakui, receh-nya nggak ketulungan. Walau terkadang, suaranya yang terlalu lembut membuatku selalu bertanya, “Hah?” setiap mendengar omongannya. Entah memang suaranya yang kecil atau telingaku yang bermasalah. Mafaz, salah satu anak ikhwan Axiora terbaik yang pernah kutemui. Kata Rizka, ia adalah orang yang tidak mau menyakiti orang lain. Hani bilang, ia tidak pernah berpikiran negatif terhadap orang lain. Satu dari sedikit alasan yang membuatku kagum padanya.

Trio Conquera tetaplah manusia biasa. Terkadang dihormati, tak jarang pula mereka ku­bully. Zhofir si korban kekomporan nomor wahid, Ridho yang selalu kupanggil Oppa, dan Mafaz yang paling sering kusuruh-suruh. Semoga aku tidak dihujat mereka ya Allah. Hehe.

***

Kini, ketiganya harus berpisah. Yang satu ingin menjadi dokter, yang satu lagi ingin menjadi ahli geologi, dan yang terakhir sudah menjadi mahasiswa dirasah Islamiyyah. Ketiganya menempuh jalan berbeda untuk menggapai cita-cita. Namun aku yakin, persahabatan mereka akan terus terjaga. Karena aku tahu, mereka mempunyai satu mimpi besar: Mencetak lebih banyak hafizh dan hafizhah dari Axiora.

Walaupun Zhofir dan Ridho sekarang belum menjadi hafizh, tetapi ghiroh mereka unuk menyelesaikan hafalan pasti sangat kuat. Mereka bertiga, bahkan, merencanakan untuk membuat komunitas untuk para penghafal Alquran Axiora, agar perkembangan usaha para calon hafizh dan hafizhah terlihat. Kalau kata Zhofir, komunitas itu bertujuan untuk memonitor para calon hafizh dan hafizhah agar mereka semangat dan berhasil menyelesaikan hafalannya. Masyaallah.

Jujur, aku bersyukur mengenal teman seperti mereka. Trio Conquera telah menginspirasiku dalam berbagai hal. Membuatku selalu berpikir, apakah kisah persahabatanku akan seperti mereka?  Ya, mereka menunjukkan padaku arti sesungguhnya tentang persahabatan. Dilandasi keimanan, juga kecintaan pada Alquran. Sehingga selalu menjadi pengingat akan kebaikan dan kesabaran. Persahabatan seperti ini, surgalah yang akan menjadi tujuan. Allahu akbar.

Kadang aku berpikir. Indonesia butuh pemimpin seperti mereka. Walau berbeda profesi, tetap satu visi-misi. Berakhlak Alquran, hingga mengqurankan rakyatnya. Aku yakin, masing-masing dari mereka sudah memiliki mimpi mulia. Menjadi jawaban akan permasalahan umat yang tengah terjadi saat ini.

Pesanku buat Pak Ustad, Mas dokter, dan Oppa; Tetaplah menginspirasi, sekaligus memotivasi. Bersiaplah menjadi ahli ilmu dunia yang terus menggaungkan nama Islam yang damai dan sejahtera. Doakan aku juga, agar ilmu yang kuserap dari kalian akan berguna nantinya. Dan jangan lupa, kalau kalian menikah, undang-undang aku ya. Aku ingin tahu, siapakah wanita terbaik yang pantas mendampingi orang-orang hebat seperti kalian (ceilah).

Terakhir. Satu lagi pesanku! Zhofir, Mafaz, Ridho, jangan sering-sering makan mi, ya! Tidak sehat. Huh.

Akhirnya wisuda bisa foto sama mereka bertiga. Haha.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Saat membuka Instagram, aku melihat berbagai macam post dari teman masa SMP-ku. Di grup Line, beberapa teman membahas suatu hal. Inti keduanya sama. Membicarakan last performance yang mereka lakukan di sekolahnya. Ada yang membuat pertunjukkan kabaret, ada juga yang membuat acara semacam pentas seni. Dari situlah, aku mulai berpikir. Kira-kira, apa ya yang bisa Axiora tunjukkan terakhir kali sebelum wisuda?

Bicara last performance, pikiranku langsung melayang kepada pembacaan Asmaul Husna di panggung Gedung Serba Guna saat wisuda. Ya, itu memang last performance, tapi saat wisuda. Bukan sebelum wisuda.

Allah memang Maha Mendengar. Belum sempat kuutarakan pertanyaanku tentang last performance Axiora kepada BPH, sebuah berita diumumkan. Berawal dari kumpul angkatan (akhwat) di living room gedung H, Nuni menjelaskan sesuatu.

Inilah yang akan kukisahkan. Dengan bangga, kuceritakan persembahan terakhir Axiora untuk Insan Cendekia.

***

Mendengar penjelasan Nuni, aku langsung menebak sesuatu. Aku sangat yakin, ide ini muncul dari salah satu atau ketiga anggota Trio Conquera; Zhofir, Ridho, dan Mafaz. Sungguh aku tak percaya. Mereka kepikiran saja hal seperti itu. Aku salut.

Inilah yang mereka usulkan: Khotmil qur’an bil ghaib.

Mengkhatamkan seluruh ayat dalam 30 juz Alquran, namun dengan tidak melihat mushaf. Alias, dengan hafalan. Sempat terbersit olehku. Apa iya bisa?

Tidak dipungkiri, Axiora mempunyai dua orang yang sudah menyelesaikan sempurna hafalannya. Namun, jika 30 juz tersebut dibagi satu angkatan, akankah bisa? Aku berpikir, tapi aku tetap optimis.

Jadilah malam itu, Salma mendata berapa hafalan yang anak Axiora akhwat miliki. Banyak dari mereka yang tidak mau mengisi. Alasannya, “Ini kesenjangan sosial, tahu!” Selain itu, “Gue gak suka ditanya beginian!”

Benar sih, aku merasa sedikit berat untuk menuliskan jumlah hafalanku. Entah mengapa aku bepikir ini merupakan tanggung jawab atas semua hafalan yang kupunya. Ketika aku menulis sekian juz, itu berarti aku harus siap jika aku ditunjuk untuk membacakan kesekian juz tersebut.

Selama hampir seminggu, aku merasakan bagaimana sulitnya membagi anak-anak Axiora, dengan latar belakang hafalan yang berbeda-beda, ke dalam 30 juz. Seseorang bercerita padaku, betapa pusingnya ia mengatur pembagian juz ini. Terlebih karena beberapa anak akhwat enggan menulis berapa hafalan mereka. Bahkan saking pusingnya, ia sampai badmood.

Baru terpikirkan olehku. Mungkin, salah satu yang membuat orang tersebut menjadi badmood adalah aku. Ketika aku diberi tahu bahwa aku membacakan juz 5, reaksiku malah, “HUAAAAAAAAA. BELUM LANCAAAAAR. Juz 4 aja ya?” Duh duh, maafkan aku ya.

Akhirnya, setelah pusing berkutat dengan pembagian juz ini, terbentuklah susunan orang-orang yang membaca di setiap juznya. Tidak hanya juz, beberapa orang juga ditunjuk membaca surah-surah pilihan. Ridho mengumumkannya di grup Facebook Axiora. Ketika aku melihatnya, aku berdecak kagum. Masyaallah, ternyata Axiora mampu.

Masalah pembagian juz selesai. Eh, masalah lain pun muncul. Beberapa orang merasa tak siap dengan pembagian juz yang mereka dapatkan. Dalam hati aku bertanya. Lah, kalau nggak siap, kenapa nulis jumlah hafalan segitu? Anak-anak akhwat melampiaskannya kepadaku. Mereka minta ganti lah, minta tukar, lah, dan bahkan ada yang berkata, “Kayaknya aku gak bisa ikut, deh.”

Jurusku menjawab keluhan mereka cuma satu. “Jangan protes sama aku. Kalau mau tukar, bilang sama orangnya (re: yang membagi juz). Aku cuma ditugasi buat nyampein doang,” geramku.

Pelaksanaan khotmil Qur’an bil ghaib menggunakan mikrofon masjid. Tidak hanya ikhwan, akhwat pun diminta untuk menggunakan mikrofon masjid. Ini masalah lagi. Banyak anak akhwat yang tidak mau memakai mikrofon. Padahal, sudah diberi tahu bahwa pengeras suaranya tidak akan terdengar keluar masjid. Akhirnya, anak-anak akhwat pun legowo menerima permintaan tersebut.

Gaungan ayat suci Alquran mulai didengungkan sejak Selasa malam. Dimulai dari Fitra, Afif, dan Arif yang membacakan juz 1, ditambah Amil yang membantu menyimak bacaan mereka. Juz 2 dibacakan oleh Muti dan Qorin. Namun, menjelang Isya, Muti mengeluh kepadaku bahwa ia tidak dapat menemukan Qorin. Ia memelas padaku. Ia memintaku membantunya membacakan juz 2. Tidak banyak, hanya enam halaman. Aku mengangguk, menyanggupi. Baru tersadar sudah cukup lama aku tidak murojaah juz 2, dikarenakan aku sibuk melancarkan hafalan juz 5-ku. Ditambah lagi permintaan yang cukup mendadak, membuatku semakin kalut dan nge-blank.

Aku menarik nafas. Kujernihkan dan kukosongkan pikiranku, agar aku bisa melancarkan 6 halaman terakhir juz 2 dengan baik. Akhirnya, aku berhasil membacakannya dengan lancar, meski masih melirik Alquran sedikit-sedikit.

Antusiasku dalam acara ini sungguh besar. Aku berkali-kali menyimak bacaan teman. Ada Alya dan Fitri di juz 3, Dian di surah Yasin, bahkan aku menyimak Abi Tauhid di surah Ar-Rum dan Luqman. Aku selalu terhanyut mendengar bacaan mereka. Tak jarang, mulut ini ikut bergerak membaca ayat yang teman-temanku bacakan.

Salah satu hal yang paling kusyukuri dari khotmil Qur’an bil ghaib ini adalah berkesempatan menyimak bacaan hafizh dan hafizhah Axiora. Ya, aku mendapat kesempatan menjadi penyimak seorang Himmaty Muyassarah dan Zidnal Mafaz. Suatu kehormatan bagiku dapat mendengarkan dan mengoreksi bacaan mereka bila ada yang salah. Bergetar hatiku, mendengar Himmaty membacakan surah Al-Ahzab dan Fatir. Ia membacakannya dengan tartil, sehingga aku dapat mengikuti bacaannya. Surah Saba’ yang dilantunkan Mafaz pun tak kalah indah. Walau ia membaca dengan cepat, aku masih bisa mendegar cukup jelas makharijul huruf-nya.

Juz 30 tepat selesai dibacakan saat waktu maghrib menjelang isya, sehari sebelum wisuda. Doa khotmil Qur’an dibaca saat makrab terakhir Axiora, pukul 22:30 malam, oleh Pak Ustad Zidnal Mafaz. Betapa aku bahagia sekaligus terharu menyaksikan para penghafal Kitabullah bertebaran di angkatanku.

Khotmil Qur’an bil ghoib, yang baru pertama kali diadakan di Insan Cendekia, akan menjadi saksi perjuangan para hafizh dan hafizhah Axiora yang insyaallah akan terus bermunculan nantinya. Sehingga, suatu hari nanti, Axiora akan kembali menggemakan dunia dengan kalamNya. Allaahummarhamnaa bil qur’aan.

“Ayo kita (Axiora) wujudkan minimal 10% di angkatan kita jadi hafizh/ah Qur’an.”
-Zidnal Mafaz

“Aku benar-benar berharap, nanti sewaktu milad IC ke-25, kita (Axiora) bisa kumpul lagi untuk khataman Qur'an bil ghaib, tapi dengan kondisi sudah banyak teman-teman yang jadi hafizh dan hafizhah."
-Abdullah Ivan Farrahan

Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
(edisi Kau Melukis Aku) 

“Dhiiir….”
“Dhir. Tungguin ya. Aku mau makan dulu.”
“Udah disiram belum Bang Ben-nya?”
“Dhir. Pijitin dong.”

***

“Ale... gimana ini? Murojaahku kacau,” keluhku pada Alya. Ia, yang lebih sering kupanggil Ale, mengiyakan seraya berkata, “Ih, aku juga tahu.” 

***

Ini Wilda. Teman lari pagi yang paling setia. Teman yang paling sering kucari di masjid, karena pijitannya. Dan teman yang mengajarkanku cara merawat bunga.

***

Ale, teman seperjuanganku. Seperjuangan lari pagi, seperjuangan bermain basket, hingga seperjuangan untuk menjadi keluarga Allah.

***

Aku tak ingat bagaimana awal kami berkenalan. Kelas X, kamarku di asrama J, sendangkan ia di asrama Z. Aku dan Wilda baru berada dalam satu asrama menginjak kelas XI. Kami berdua sama-sama menjadi penghuni asrama Z.

***

Aku dan Ale berada dalam satu grup musik yang sama. Dari kelas XI, hingga pentas seni kelas XII. Aku memainkan keyboard, ia memegang gitar. Ale yang selalu mengajakku latihan. Selalu membangunkan aku bila aku tertidur.

***

Sering kali, selepas sholat Isya di masjid, aku merasakan kantuk yang amat sangat. Ini terjadi ketika aku kelas XI. Setelah aku melepas sandal dan menaruhnya di loker, kakiku bergerak otomatis ke kamar 101 Z, kamar Ilen, Ijay, dan Wilda. Tanpa sadar, aku terlelap di sana.

***

Ale bilang, ia tidak suka lagu Korea. Namun apa daya. Setiap ia main ke kamarku, pasti lagu Korea yang selalu terdengar. Untungnya, ia masih bisa menerima. Bahkan suatu hari, ia berkata pada Atrika, “Trik, ini lagu Korea pertama yang gue anggap enak didengar,” setelah mendengar lagu Whistle milik Blackpink.

***

“Dhir, Dhir...”

Suara seseorang membangunkanku. Setengah sadar, aku bangkit dari kasur. Oalah, ternyata aku tertidur di kasur Wilda. “Duh, maaf ya Wil,” ucapku sambil berlalu. Dan tahukah, kejadian itu sering terjadi, hampir di setiap minggunya. Hehe.

***

Di kelas XIl, dua kali ia menjadi teman sebangku seperjalanan. Pertama, saat studi kolaboratif ke Lampung lalu. Dan kedua, saat rihlah ke Taman Bunga Nusantara sebelum menghadapi Ujian Nasional. Di perjalanan, aku senang meminjam iPod Ale. Selain berisikan lagu-lagu yang enak didengar, iPod-nya juga berisikan murottal seorang qari yang tak kalah merdunya.

***

Aku belajar berkebun dari Wilda. Suatu minggu setelah lari pagi, aku dan Wilda berjalan menuju green house. Saat masuk, ia terkaget melihat tanaman yang berada di dalamnya mulai kering. Dengan bantuan ember dan keran yang tersedia, ia mengajakku untuk menyiram tanaman green house. Jadilah selama tiga minggu kami menjadi florist. Selain menyiram tanaman, kami juga menaman tanaman. Lidah buaya dan lidah mertua menjadi tanaman pilihan kami. Kata Wilda, menanamnya mudah dan tumbuhnya cepat. Tanaman lidah buaya kami namakan Bang Ben, dan tanaman lidah mertua kami namakan John. Nama itu terinspirasi dari salah satu serial favorit kami, Sherlock Serial.

***

Semester satu, Ale pernah berujar. “Sebenarnya gak seru kalau dapet SNM mah. Perjuangannya kurang kerasa.” Eh, tahunya ia sekarang sudah berstatus mahasiswa FTSL ITB, sedangkan aku masih berjuang dan berharap diberi yang terbaik oleh Allah.

***

Wilda, orang pertama yang meminta padaku untuk dibuatkan cover mushaf Alqurannya. Dari semester satu pula. Aku megiyakan. Malam yang suntuk ia rela datang ke kamarku untuk melihat progres cover mushaf miliknya. Hingga aku tertidur dengan laptop di hadapanku dan Wilda di sampingku, namun tidak menyadari kapan ia beranjak dari tempat tidurku.

***

Ale termasuk barisan paling akhir yang pulang dari masjid. Ia yang tidak pernah melepas Alqurannya di masjid. Ia yang sering datang padaku agar aku menyimak hafalannya. Ia juga yang terus menyemangatiku untuk murojaah dan menambah hafalan. Ale, yang terkadang memohon kepadaku setiap pagi, agar aku menyetorkan hafalan ke Bu Dini. Biar ia tidak ditanya, alasannya.

***

Wilda, kata teman-teman, kamu mirip Mafaz. Tapi sampai detik ini, aku masih tidak tahu bagian mana darimu yang mirip sama Mafaz.

***

Ale, tahukah kamu, salah satu motivasi terbesarku menghafal selama di Insan Cendekia adalah kamu. Bukan Ridho, Haris, Zhofir, apalagi Mafaz. Iya, kamu. Melihatmu setiap usai sholat membaca Alquran dan mendengarkan murojaahmu membuatku selalu berpikir, aku tidak boleh kalah dari Ale. Terima kasih ya Le, semoga ini jadi pahala kebaikan buatmu.

***

Wilda, kemarin kita bertemu di Jogja. Berjuang bersama di UTUL UGM, dan bermain menjelajah Gunung Kidul. Saat kau hendak berangkat ke stasiun di pagi hari, aku memelukmu erat. Berkali-kali bahkan. Ditambah kamu yang terus berkata, “Dhir, kapan kita bertemu lagi ya?” membuatku semakin berat untuk menahan air mata. Namun senyum tetap kusunggingkan, dan lambaian tangan tetap kulakukan.

***

Le, kamu bilang, kalau kita kuliah bersama di ITB nanti, kita harus saling mengingatkan ya. Jangan sampai murojaah dan hafalan kita kendur. Katamu, kalau bisa, kita buat semacam halaqah, untuk saling menyetor dan saling membenarkan bacaan bila ada yang salah. Kamu benar, Le. Kita harus istiqomah. Perjuangan menjadi keluarga Allah, tidak boleh ada kata menyerah.

***

Teruntuk Wilda dan Alya, sukses dunia-akhirat ya!



Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

About me

About Me

Nadhira KA, 21. An architecture student who loves photography and proudly be as a Gooner.

Follow Us

  • twitter
  • instagram
  • behance

Categories

  • Nadhira dan Cinta Pertama
  • karena kita; Axiora
  • kehidupan ITB
  • kepingan kenangan

Blog Archive

  • ▼  2023 (1)
    • ▼  November 2023 (1)
      • Unsent Letter - Untuk yang Terakhir Kalinya
  • ►  2020 (3)
    • ►  August 2020 (1)
    • ►  May 2020 (1)
    • ►  April 2020 (1)
  • ►  2019 (5)
    • ►  June 2019 (4)
    • ►  May 2019 (1)
  • ►  2018 (5)
    • ►  December 2018 (1)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  June 2018 (2)
    • ►  May 2018 (1)
  • ►  2017 (45)
    • ►  December 2017 (3)
    • ►  November 2017 (1)
    • ►  October 2017 (2)
    • ►  September 2017 (3)
    • ►  August 2017 (1)
    • ►  July 2017 (15)
    • ►  June 2017 (5)
    • ►  May 2017 (14)
    • ►  February 2017 (1)
  • ►  2016 (39)
    • ►  December 2016 (1)
    • ►  November 2016 (3)
    • ►  September 2016 (3)
    • ►  August 2016 (3)
    • ►  July 2016 (6)
    • ►  June 2016 (6)
    • ►  May 2016 (4)
    • ►  April 2016 (7)
    • ►  March 2016 (2)
    • ►  February 2016 (3)
    • ►  January 2016 (1)
  • ►  2015 (46)
    • ►  December 2015 (8)
    • ►  November 2015 (2)
    • ►  September 2015 (4)
    • ►  August 2015 (6)
    • ►  July 2015 (3)
    • ►  June 2015 (4)
    • ►  May 2015 (1)
    • ►  April 2015 (3)
    • ►  March 2015 (5)
    • ►  February 2015 (8)
    • ►  January 2015 (2)
  • ►  2014 (24)
    • ►  December 2014 (7)
    • ►  November 2014 (4)
    • ►  October 2014 (12)
    • ►  September 2014 (1)

Facebook

ThemeXpose