• Home
  • About
  • Contact
    • Mail
  • She Talks Football
  • Untuk Nadhira
Powered by Blogger.
facebook twitter instagram

encyclopedhira

Hari ini, aku disuruh Bunda menyetrika. Selepas subuh, aku langsung menggelar alas setrika dan menyalakan setrikanya. Aku menyetrika baju-baju milik Najla. Sebenarnya, ini tugas Nada semalam. Namun karena satu dan lain hal adikku yang satu itu tidak menyelesaikan pekerjaannya. Jadilah aku yang ditugasi untuk menyelesaikannya.

Setelah dzhuhur, Bunda kembali memintaku untuk menyetrika. Kali ini, aku diberi tugas menyetrika pakaian rumahan milikku, Nada, Bunda, Ayah, dan ditambah dua stel seragam kerja Ayah. Namun, rasa kantuk menghampiri sehingga aku tertidur bahkan sebelum memulai menyetrika.

Aku bangun menjelang pukul setengah tiga sore. Dengan mata yang masih berat dan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, aku kembali menggelar alas setrika dan menyalakan setrikanya. Aku memulai dari seragam Ayah terlebih dahulu.

Pekerjaan menyetrika kulakukan dengan senang hati, karena aku sudah terbiasa melakukannya semasa di Insan Cendekia. Biasanya, aku bergantian dengan teman kamarku untuk menyetrika, karena kebetulan anak kamar 102 H semuanya mencuci baju sendiri.

"Kak, bisa nyetrika seragam Ayah?" Bunda muncul dari balik pintu.

"Bisa lah. Kakak sering kali nyetrika di IC," ucapku.

"Jangan terlalu panas ya Kak setrikanya, nanti bolong lagi kayak kerudung Najla..."

Oke. Jika di IC aku rajin menyetrika, lain halnya dengan di rumah. Urusan menyetrika diserahkan pada Mbak yang bekerja di rumah. Namun, karena Mbak-nya belum masuk dan entah kapan akan masuk kembali, jadilah aku yang mengganti peran beliau. Karena itulah Bunda agak sedikit ragu dengan kemampuan menyetrikaku. Terlebih, beberapa bulan lalu, aku membuat sebuah lubang di tengah kerudung Najla yang baru dibeli Bunda. Hehe.

Tak terasa, adzan asar mulai berkumandang. Sedangkan setrikaanku masih seperempat lagi.

"Kakak, sholat asar dulu."

"Iya," teriakku dari dalam kamar.

Seketika, aku teringat kembali masa-masa di Insan Cendekia. Aku yang senang menyetrika lewat pukul dua siang, hingga waktu asar pun datang.

"Dhir, masjid yuk."

Jika sudah terdengar adzan, Nuni dan Hani pasti mengajakku ke masjid. Sering kali kutinggalkan tumpukan pakaian yang belum disetrika di lantai, mencabut kabel setrika, dan bergegas mengambil wudhu dan pergi ke masjid. Pekerjaan menyetrika kulanjutkan kembali setelah balik dari masjid (kalau rajin), atau kurapikan sejenak baju yang sedikit berserakan di lantai untuk dilanjutkan sepulang sholat isya.

Inilah yang aku syukuri. Mempunyai teman yang selalu mengingatkan pada kebaikan, bahkan ketika aku sedang melakukan pekerjaan calon ibu rumah tangga. Kapan lagi ketika aku sedang menyetrika disuruh ke masjid?


Akhirnya, usai sholat asar, aku kembali melaksanakan tugas menyetrika. Hanya tersisa bajuku dan Nada, serta kerudung Najla berwarna hitam yang pernah kubolongi itu. Namun kali ini, aku tidak membolonginya lagi. Hehe.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

MENEMBUS BATAS LANGIT

18 Ramadan 1438 H., bertepatan dengan 13 Juni 2017, dan bertepatan pula dengan pengumuman SBMPTN. Ded-degan, pasti. Penuh harapan, apalagi.

Seandainya aku masih di Insan Cendekia, aku pasti akan menggenggam erat tangan teman-temanku, menunggu hasil yang keluar tepat pukul dua siang. Saling berpelukan, sambil komat-kamit membaca doa.

Seandainya aku masih di Insan Cendekia, ucapan selamat dan tetap semangat pasti akan bergema dimana-mana. Merayakan kesenangan, sekaligus menghibur teman yang butuh belaian.

Seandainya aku masih di Insan Cendekia, Axiora pasti tak henti-hentinya melaksanakan sholat hajat berjamaah. Berharap diberikan yang terbaik olehNya.

Namun kenyataannya, aku sudah tidak lagi berada di Insan Cendekia. Walaupun lantunan doa hanya terucap lewat media sosial, aku yakin, nama Axiora akan selalu terucap dalam setiap sujud kepadaNya.

Kami memang terpisah jauh. Ada yang di Sumatera, Jawa dari Barat ke Timur, hingga Kalimantan. Kami memang jauh di mata, namun kami, dekat dalam doa.

Hari ini, Axiora mengetuk pintu langit bersama-sama, dengan keyakinan dan kepasrahan kepadaNya. Ya, kami mengadakan khataman Alquran, seperti yang sering kami lakukan semasa di Insan Cendekia. Bedanya, kami melakukan khataman Alquran dari berbagai tempat. Jarak yang jauh bukan halangan bagi kami untuk memanjatkan doa bersama.

Khataman Alquran ini memang tidak direncanakan sebelumnya. Ketika aku mengumumkan di grup Line Axiora bahwa akan diadakan khataman dan menyediakan list­-nya, aku sungguh tidak percaya banyak sekali yang antusias dan berpartisipasi dalam acara ini. Bahkan, banyak yang kecewa karena telat mengetahui info dan tidak kebagian juz. Akhirnya, khataman pun dilaksanakan dua kali, sebelum dzhuhur dan setelahnya.

Jujur, aku merasa bahagia sekaligus terharu. Sungguh rasa yang tidak bisa kujelaskan dengan tulisan. Rasanya ingin menangis melihat Axiora sebegitu kompaknya. Saling mendoakan, bahkan hingga detik-detik menjelang pengumuman SBMPTN. Ya Allah, aku benar-benar bersyukur mempuyai teman seperti Axiora.

Hingga akhirnya, khataman Alquran Axiora benar-benar menembus langit. Kabar bahagia pun bermunculan. Hampir semua anak Axiora yang mengikuti SBMPTN diterima, hanya kurang dari 10 yang tidak diterima. Aku bersyukur sekaligus bangga padamu, Axiora.

Namun, jangan bersenang dahulu. Mari doakan kembali teman-teman yang masih berharap pada hasil Utul, Simak, STAN, STIS, dan lain sebagainya. Siapa tahu, doa salah satu dari kalian mendarat di langitNya dan membuat satu orang merasa bahagia. Semakin banyak kita berdoa, insyaallah kabar bahagia lainnya akan segera bermunculan. Aamiin.

***
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

MENCOBA MENDEKAT


Suatu ketika, seseorang terjebak di antara barisan perempuan bergaun putih, dengan wajah yang memancarkan cahaya. Indah nian rupa para wanita tersebut. Dengan senyum yang selalu menghiasi wajah mereka, para wanita tersebut bersiap memasuki sebuah gerbang yang dijaga oleh makhluk yang tak kalah indahnya.

Seseorang tersebut tertegun. Siapakah mereka? batinnya.

Mengapa aku berada di barisan ini?

Seseorang tersebut berdiri di barisan paling belakang. Walau begitu, ia bisa mendengar percakapan yang terjadi di depan gerbang yang berada cukup jauh darinya.

“Apa pertanggungjawabanmu terhadap Alquran?” tanya sang penjaga gerbang.

Seorang wanita yang berdiri tepat di hadapan sang penjaga tersebut, menjawab dengan tenang, “Saya hafal 30 juz Alquran dengan mutqin.”

“Kalau begitu, masuklah.”

Wanita tersebut kemudian memasuki gerbang yang di dalamnya terhampar taman yang keindahannya tidak dapat disamakan dengan apapun di muka bumi ini.

Kemudian wanita selanjutnya, terus ke belakang, diperkenankan memasuki gerbang tersebut. Makin belakang barisannya, semakin sedikit hafalan Alquran yang mereka punya.

Kini, tibalah seseorang tersebut berhadapan dengan sang penjaga gerbang. Ia takut, gugup. Keringat dingin membasahi tubuhnya.

“Apa pertanggungjawabanmu terhadap Alquran?”

Seseorang tersebut tidak mampu berkata-kata. Mulutnya seolah terkunci. Tak mampu ia menjawab pertanyaan dari sang penjaga gerbang. Ia tahu, ia tidak pernah menghafal Alquran. Membacanya saja masih terbilang jarang. Lantas, mengapa ia berada di barisan para penjaga kitabullah tersebut?

***
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

SEBUAH PERTEMUAN


Hari ini, aku kembali ke Salman, untuk yang kedua kalinya. Bukan, bukan sebagai mahasiswa ITB (karena pengumuman SBMPTN masih tanggal 13 Juni nanti), namun sebagai salah satu peserta program yang diadakan YPM Salman ITB. Namanya PPA, Para Penghafal Alquran. Untuk yang kedua kalinya, aku mengikuti dauroh / karantina menghafal Alquran.

Di sini, aku kembali bertemu tiga kawan semasa SMAku. Dhina, Almyra, dan Jihan. Tak hanya mereka, aku juga mendapat 25 teman baru dari berbagai daerah di Indonesia. Yang terjauh dari Batam dan Ngawi. Sisanya, tersebar di Bandung, Cirebon, dan wilayah Jabodetabek.

Kami berkenalan dengan cara yang unik. Panitia mengadakan permainan dimana masing-masing dari kami menyebutkan nama nenek, nama tetangga, makanan dan minuman favorit, cita-cita, bahkan ukuran sepatu. Setelah itu, kami dibagi menjadi empat kelompok dan bertanding siapa yang paling mengingat nama-nama tidak umum seperti itu. Yang terbanyak menjawabnya, menjadi pemenangnya.

Walau belum mengenal satu sama lain, canda dan tawa tidak mengenal tempat, orang, dan waktu. Maka malam itu, sebuah ikatan pertemanan baru saja dibentuk. Sebuah pertemanan dalam perjuangan menjaga surat-surat cinta dari Yang Maha Cinta.

Ya, insyaallah kami bertemu karena Allah, untuk menjadi keluarga Allah, dan menjadi lebih baik di hadapan Allah.

***
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

LANGIT LEBIH TINGGI

Menjelang Asar tadi, grup Line MB Squad (awalnya ini hanya grup anak-anak yang ikut tur Malang-Banyuwangi, namun seiring berjalannya waktu lebih tepat disebut Majelis Ulil Albab) membahas suatu hal menarik yang patut dibicarakan. Masih ingat kah sekitar dua minggu yang lalu ketika sebuah tulisan berjudul “Warisan” mulai ramai diperbincangkan oleh warganet? Nah, grup MB Squad mendiskusikan hal tersebut.

Masing-masing dari kami bertukar pandangan, yang intinya adalah bagaimana cara kita menyikapi hal tersebut. Dari situ aku belajar, membaca banyak buku itu penting sekali. Menambah wawasan, sekaligus pengetahuan. Aku juga menyadari, penting mempunyai landasan dan prinsip yang kuat dalam membaca buku. Salah-salah kita termakan oleh pemikiran tidak benar yang belum tentu menjadi maksud si pengarang.

Aku juga belajar untuk selalu berpikir positif terhadap orang lain. Perintahnya jelas, Jauhilah banyak dari prasangka, karena sebagian prasangka adalah dosa (QS. Al-Hujurat: 12). Kalaupun memang kelakuan seseorang tidak pantas ditiru, bencilah dengan perbuatannya, bukan dengan orangnya. Itu yang temanku selalu pesankan.

Selain itu, tidak boleh menghukumi orang lain seenaknya. Tidak boleh mengecap seseorang begini, atau orang lain begitu. Hal itu sama saja seperti mencari-cari kesalahan orang lain. Padahal, Allah berfirman, Janganlah mencari kesalahan-kesalahan orang lain, yang merupakan kelanjutan dari ayat yang telah kusebutkan. Apalagi, orang yang dicap merupakan orang besar yang belum tentu ilmu kita menyamai orang tersebut.

Bicara soal ilmu, setelah perbincangan dan tukar pikiran usai, salah seorang teman mengirim video Ustad Muzammil Hasballah yang sedang talaqqi surah Al-Fatihah bersama Syekh Thyazen Alhakimi. Dalam video tersebut, Muzammil yang terkenal akan hafizh dan suara mengajinya saja masih dibenarkan makharijul huruf-nya oleh sang Syekh. Itu berarti, setinggi-tingginya ilmu seseorang, masih ada yang lebih tinggi lagi ilmunya. Karena di atas langit, masih ada langit yang lebih tinggi.

Benar lah Rasulullah SAW. memerintahkan kita untuk mencari ilmu, dari buaian hingga liang lahat, sampai ke negeri China. Karena sebanyak-banyaknya ilmu yang kita dapatkan, tidak akan pernah bisa menandingi ilmu Allah, yang bahkan lautan dan seisinya pun tidak cukup untuk menulis ilmu Allah...

***
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Nadhira KA, 21. An architecture student who loves photography and proudly be as a Gooner.

Follow Us

  • twitter
  • instagram
  • behance

Categories

  • Nadhira dan Cinta Pertama
  • karena kita; Axiora
  • kehidupan ITB
  • kepingan kenangan

Blog Archive

  • ►  2023 (1)
    • ►  November 2023 (1)
  • ►  2020 (3)
    • ►  August 2020 (1)
    • ►  May 2020 (1)
    • ►  April 2020 (1)
  • ►  2019 (5)
    • ►  June 2019 (4)
    • ►  May 2019 (1)
  • ►  2018 (5)
    • ►  December 2018 (1)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  June 2018 (2)
    • ►  May 2018 (1)
  • ▼  2017 (45)
    • ►  December 2017 (3)
    • ►  November 2017 (1)
    • ►  October 2017 (2)
    • ►  September 2017 (3)
    • ►  August 2017 (1)
    • ►  July 2017 (15)
    • ▼  June 2017 (5)
      • Ketika Nadhira Menyetrika
      • #SalamRamadan – Day 18
      • #SalamRamadan – Day 8
      • #SalamRamadan – Day 7
      • #SalamRamadan – Day 6
    • ►  May 2017 (14)
    • ►  February 2017 (1)
  • ►  2016 (39)
    • ►  December 2016 (1)
    • ►  November 2016 (3)
    • ►  September 2016 (3)
    • ►  August 2016 (3)
    • ►  July 2016 (6)
    • ►  June 2016 (6)
    • ►  May 2016 (4)
    • ►  April 2016 (7)
    • ►  March 2016 (2)
    • ►  February 2016 (3)
    • ►  January 2016 (1)
  • ►  2015 (46)
    • ►  December 2015 (8)
    • ►  November 2015 (2)
    • ►  September 2015 (4)
    • ►  August 2015 (6)
    • ►  July 2015 (3)
    • ►  June 2015 (4)
    • ►  May 2015 (1)
    • ►  April 2015 (3)
    • ►  March 2015 (5)
    • ►  February 2015 (8)
    • ►  January 2015 (2)
  • ►  2014 (24)
    • ►  December 2014 (7)
    • ►  November 2014 (4)
    • ►  October 2014 (12)
    • ►  September 2014 (1)

Facebook

ThemeXpose