• Home
  • About
  • Contact
    • Mail
  • She Talks Football
  • Untuk Nadhira
Powered by Blogger.
facebook twitter instagram

encyclopedhira


Sebuah kardus kubawa berjalan menyusuri teras masjid hijau SDIT Al-Izzah sekolahku, menuju samping masjid tempat berkumpulnya siswa kelas enam. Terinspirasi dari beberapa cerita fiksi yang pernah kubaca, aku dan beberapa temanku berniat membuat sebuah kapsul waktu untuk dibuka 10 tahun kemudian.

Hari itu, usai mendapatkan hasil Ujian Nasional 2011 dan pengumuman kelulusan, aku, Hamidah, Ani, Alma, dan Callista berkumpul memasukkan barang-barang yang akan kami buka Mei 2021 nanti. Callista menaruh sebuah novel, sedangkan Alma menaruh surat dengan cap bibirnya. Aku sendiri lupa barang apa yang kusimpan. Yang pasti, aku hanya ingat satu. 

Aku menulis surat untuk Nadhira 10 tahun yang akan datang, dengan pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya dapat dijawab ketika kubuka surat itu kembali.

***

Dari semua pertanyaan yang kutulis, hingga tulisan ini selesai dibuat, aku hanya ingat dua pertanyaan.
Untuk Nadhira 10 tahun ke depan,
1. Apakah sekolah SMA-mu di MAN Insan Cendekia Serpong?
2. Berapa gelar Arsenal yang berhasil didapat selama 10 tahun sejak aku menulis surat ini?

Pertanyaannya cukup menggelitik. Yang pertama, ternyata seorang Nadhira sudah ingin masuk MAN IC Serpong sedari SD.

Halo Nadhira yang baru saja akan lulus SD, untuk jawaban pertamamu, alhamdulillah, iya. Aku menghabiskan masa SMA-ku di MAN Insan Cendekia Serpong, terkurung dalam penjara suci, namun mendapatkan berjuta kenangan dan pelajaran disana.

Mungkin ada yang penasaran, mengapa aku mencantumkan Insan Cendekia dalam suratku. Aku tak akan menceritakan lebih jauh mengenai itu, karena mungkin akan menghabiskan satu cerita sendiri, hehe.

Pertanyaan kedua. Aku tersenyum. Mungkin baru 7 tahun sejak surat itu ditulis, namun, izinkan aku menjawabnya.

Hai Nadhira tahun 2011, aku tahu, saat itu sudah hampir 6 tahun Arsenal puasa gelar. Kamu yang baru menyukai The Gunners tak lama sebelumnya mungkin bersikap tak acuh. Masa bodo mendapat gelar atau tidak, yang penting Arsenal aku cinta. Mungkin kamu tak sepenuhnya salah, namun setelah 6 tahun tanpa gelar, masih ada beberapa tahun lagi Arsenal melanjutkan puasa gelarnya.

Aku masuk ke dunia sekolah menengah pertama, masih dalam satu yayasan dengan SD-ku dahulu, SMPIT Al-Izzah. Aku semakin rajin menonton Arsenal, bahkan rela bangun tengah malam hanya untuk menyaksikan pertandingan yang tercinta. Mulai masa ini, beberapa pertandingan mulai terekam dalam ingatanku. Salah satunya adalah pembantaian Arsenal 5-3 di kandang Chelsea dengan hattrick ciamik dari Robin van Persie, yang membuatku semakin jatuh hati pada striker Belanda tersebut. Namun masih, musim 2011/2012 berakhir tanpa tambahan trofi pada lemari klub.

Hai Nadhira. Musim 2011/2012 menjadi tahun ketujuh Arsenal tanpa gelar juara. Hmmm, sebetulnya ada sih satu gelar yang didapat, yaitu pencetak gol terbanyak Liga Inggris musim tersebut, sang kapten Robin van Persie. Tapi itu tak mungkin masuk hitungan gelar milik klub, kan? Lagipula, di akhir musim tersebut, ah sudahlah. Terlalu sakit hati untuk dibicarakan.

2012/2013 pun tak jauh berbeda. Van Persie kembali menjadi top scorer Liga Inggris. Namun bedanya... ia kini tak berseragam Arsenal, melainkan sang setan rival yang sama-sama berwarna merah. Ugh. Arsenal masih terhenti di babak 16 besar Liga Champions. Pun dengan klasemen akhir musim tersebut, masih harus kualifikasi untuk masuk menuju panggung Liga Champions musim depan, alias peringkat keempat.

Nadhira, lupakan sakit hati yang kau alami. Mari kita tatap musim 2013/2014 dengan semangat berapi-api! Jangan lewatkan #AHA-nya Podolski. Dan oh, jangan lupa. #OzilIsAGunner.

Bursa transfer pemain seringkali menjadi ajang pemberian harapan palsu bagi para fans Arsenal. Pernah dikaitkan dengan Karim Benzema, Gonzalo Higuain, bahkan Luis Suarez, tak ada yang terjadi pada bursa musim panas 2013/2014 tersebut. Yang mengejutkan, di detik-detik menjelang penutupan bursa transfer, beredar pemberitaan bahwa punggawa Real Madrid, Mesut Ozil, resmi digaet Arsenal dengan durasi kontrak lima tahun.

Hey Nadhira. Hari itu, Sabtu, 17 Mei 2014. Kau baru saja melewati hari panjang nan melelahkan, menentukan nasib mau dimana SMA-mu berlabuh. Hari itu, salah satu motivasimu mengerjakan soal tes masuk Insan Cendekia adalah final Piala FA 2014. Tim kesayanganmu berhasil masuk final Piala FA, maka kau pun semangat melahap soal-soal tes agar diterima di sekolah impianmu.

Arsenal akan bermain melawan Hull City di final Piala FA 2014, menjadi satu harapan mengakhiri puasa gelar selama, umm, sembilan tahun ternyata. Aku baru sampai rumah pada malam hari, dan melewatkan babak awal pertandingan yang dilangsungkan di Stadion Wembley tersebut. Tes masuk yang berdurasi dari jam 7 pagi hingga jam 5 sore rupanya membuatku letih. Di akhir babak kedua, aku tertidur, sedangkan skor masih menunjukkan 2-2.

Nadhira, kau tahu, hal yang pertama aku cari setelah bangun tidur dan sholat Subuh adalah hasil pertandingan semalam. Aku membuka HP-ku, mencari informasi siapakah yang berhasil mengangkat trofi Piala FA. Betapa senangnya diri ini ketika mengetahui gol Aaron Ramsey pada babak perpanjangan waktu berhasil mengakhiri 9 tahun puasa gelar Arsenal. Dan saat itu pun aku yakin, aku akan lolos dalam tes masuk Insan Cendekia. Thanks to Our Fans, begitu yang tertulis dalam banner parade perayaan juara Arsenal di jalanan London.

Selama tiga tahun setelahnya, aku cukup vakum menonton Arsenal. Bagaimana tidak, aku hidup dalam asrama, tidak ada TV, kalau pun mau menonton harus streaming. Aku sayang Arsenal, tapi aku lebih menyayangi kuotaku yang hanya sebesar 2 GB perbulannya. CSA pun tutup pukul 10 malam tiap harinya, jadilah aku mendapatkan hasil pertandingan liga dari situs berita online yang itupun jarang kubuka.

Hai Nadhira. Satu tahun setelah Arsenal juara Piala FA 2014, sang meriam kembali berjaya pada pergelaran tersebut. Menggilas Aston Villa 4-0, Arsenal berhasil mengukuhkan trofi Piala FA ke-12-nya. Aku, tentu saja tidak menontonnya. IC belum libur dan pertandingan berlangsung diatas pukul 10 malam. Jadilah aku membaca jalannya pertandingan lewat koran yang terbit dua hari setelahnya.

Fans Arsenal kembali merasa gregetan karena pada penghujung musim 2015/2016, Arsenal menjadi runner up Liga Inggris, terpaut 10 poin dari sang penguasa tahta, Leicester City. Berarti, tahun depan bisa optimis dapat gelar juara Liga Inggris pastinya.

Hai Nadhira. Sayang seribu sayang, musim 2016/2017 menjadi awal mula petaka bagi Arsenal. Sebelum pergantian tahun 2016, Arsenal merasakan dinginnya puncak klasemen. Namun, di akhir musim, posisi kelima lah yang pantas didapatkan skuat besutan Arsene Wenger tersebut. Itu artinya, pertama kali dalam hampir 20 tahun, Arsenal terdampar ke Liga Europa. Sedih memang. Apalagi melihat spanduk dan banner #WengerOut yang terpampang di stadion. Tapi jangan berkecil hati. Karena di tahun 2017 juga, Arsenal kembali menjadi kampiun Piala FA ke-13 kalinya, menjadi klub dengan jumlah gelar juara Piala FA terbanyak.

Rumor pengunduran diri Arsene Wenger dari kursi kepelatihan Arsenal kian memuncak. Para Gooners berpikir inilah momen yang tepat untuk The Professor melepaskan jabatannya. Dengan trofi Piala FA sebagai persembahan terakhirnya, Arsene Wenger akan dikenang klub sebagai legenda. Namun ternyata, Wenger memilih bertahan. Mungkin ia optimis meraih paling tidak trofi Liga Europa untuk yang pertama dan (mungkin) terakhir kalinya.

Nadhira, musim 2017/2018 tidak menjadi musim yang sukses untuk Arsenal. Aku kini berkuliah di SAPPK ITB, namun masih terkadang menonton Arsenal. Ya, manusia ini memiliki keterbatasan kuota untuk streaming pertandingan bola. Arsenal menyelesaikan musim dengan peringkat lebih rendah dibanding musim sebelumnya, yaitu peringkat 6. Lagi-lagi, Liga Europa lah yang menjadi tempat berlabuh The Gunners dalam kompetisi antarklub Eropa. 22 April 2018, Arsene Wenger mengumumkan pengunduran diri dari pelatih Arsenal, setelah 22 tahun lamanya menjadi juru taktik Arsenal. Tagar #MerciArsene bertebaran dimana-mana. Aku pun tak ketinggalan menggunakan tagar tersebut. Suasana timeline Instagramku menjadi mengharukan. Banyak pemain yang mengungkapkan rasa terima kasihnya pada pelatih asal Prancis tersebut. Tak hanya punggawa Arsenal, mantan punggawa Arsenal pun mengirimkan rasa terima kasih, termasuk ia, sang mantan terindah.

Saat itu sehari sebelum tenggat waktu pengumpulan makalah TTKI, sekaligus pengumpulan gambar layout untuk Tekpres Arsi. Aku mengerjakan makalah di kos temanku, Caca, sedangkan ia menyelesaikan layout kandang burungnya terlebih dahulu. Malam itu menjadi laga terakhir Arsene Wenger di Emirates Stadium. Aku mangkir dua setengah jam dari pengerjaan tugas, menumpang wi-fi kos milik Caca, dan menonton pertandingan yang berakhir dengan kemenangan 5-0 Arsenal atas Burnley. Perasaanku semakin bercampur aduk lantaran seusai pertandingan diadakan upacara perpisahan dengan sang juru taktik. Satu yang kuingat dari pidato perpisahan Wenger, “I would like to finish this with one sentence. I will miss you.”

Hai Nadhira. Sepertinya aku terlalu banyak cerita ya. Intinya, tujuh tahun setelah kau menulis surat itu, dengan bangga kujawab, Arsenal berhasil mendapatkan 6 gelar. Tiga gelar Piala FA di tahun 2014, 2015, dan 2017, serta tiga gelar Community Shield di tahun yang sama dengan kemenangan Piala FA. Entahlah, apakah trofi Community Shield kau anggap prestisius dan masuk hitungan. Namun bagiku, hal tersebut menjadi bukti bahwa Arsenal masih layak diperhitungkan dalam perebutan gelar juara, terutama menjadi juara Liga Inggris. Walaupun target musim 2018/2019 ini masih top four, tapi siapa tahu, kedepannya, menjadi peraih poin tertinggi di kancah Premier League akan menjadi kenyataan.

Aku termenung. Masih dua setengah musim lagi untuk merampungkan jawaban dari surat tersebut. Namun dalam sepakbola, segala hal dapat terjadi dalam 90 menit pertandingan. Tetap optimis, dan jadilah suporter yang baik. Teruslah mendukung tim pujaan hati, dengan semangat dan nyanyian Unai Emery’s red and white army.

#WeAreTheArsenal
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Siapa yang tidak pernah jatuh cinta? Hampir semua orang, rasanya, pernah merasakan hati berbunga-bunga dan jantung yang berdebar tak berirama ketika tersebut nama yang dipuja.

Lalu, apakah Nadhira pernah jatuh cinta? Jawabannya, tentu saja iya. Namun, kapankah Nadhira pertama kali 'merasa' jatuh cinta? Maka kali ini, izinkan Nadhira menumpahkan curahan hatinya dalam sebuah pahit-manisnya perjuangan jatuh dan bertahan ke dalam lubang bernama cinta. Lebih dalam lagi, curahan hati ini akan berkisah mengenai Nadhira dan sosok cinta pertamanya.

Jika kalian bertanya padaku siapa orang pertama yang membuat seorang Nadhira jatuh cinta? Dengan bangga akan kujawab, Arsenal. Sebuah klub sepakbola asal London Utara ini berhasil membuat Nadhira yang baru memasuki kelas 6 SD merasakan indahnya jatuh cinta.

***

Semua bermula dari secarik kertas yang diberikan ayah kepadaku, jadwal pertandingan Piala Dunia 2010, yang beliau ambil dari sebuah surat kabar. Aku ingat, hari itu adalah beberapa hari menjelang Ujian Akhir Sekolah semester 2 SDIT Al-Izzah Serang. Aku yang saat itu berada di kelas 5 menerima jadwal tersebut, melihat, dan menaruhnya di dalam lemari meja belajarku. Bunda sampai protes kepada ayah atas pemberian kertas jadwal pertandingan tersebut. Mau ujian, nanti gak fokus, alasannya.

Singkat cerita, aku mendukung sang runner up Piala Dunia 2010, timnas Belanda. Salah satu alasan mendukung Der Oranje adalah karena beberapa pemain Belanda memiliki darah Indonesia. Sebut saja Giovanni van Bronckhorst, Mark van Bommel, dan Robin van Persie. Nama terakhirlah yang sejujurnya menghantarkanku menemukan cinta pertamaku, sekaligus mendapat porsi lebih di lubuk hatiku.

Robin van Persie, 6 Agustus 1983, posisi forward, klub Arsenal. Arsenal? Nama apa itu? batinku. Aku yang baru mengenal dunia sepakbola tentulah tidak mengerti perihal klub-klub yang bertebaran di seluruh penjuru dunia. Yang kutahu saat itu, beberapa pertandingan dengan nama Arsenal di dalamnya ditayangkan di salah satu stasiun televisi Indonesia.

Satu kali, dua kali, tiga kali. Aku mencoba menonton klub sepakbola yang dibela Van Persie tersebut. Jujur aku lupa lawan tanding dan skor akhir pertandingan yang kutonton. Namun satu yang pasti kuingat. Nama kedua dari klub Arsenal yang kuketahui adalah Arsene Wenger, pelatih klub tersebut.

Empat kali, lima kali. Entah beberapa kali aku menonton pertandingan Arsenal, sampai pada akhirnya aku menyadari, kutemukan kenyamanan setiap melihat sentuhan, tendangan, operan, dan permainan klub besutan Arsene Wenger tersebut. Inikah yang dinamakan cinta?

Perlahan tapi pasti, benih-benih cinta pun muncul. Dari hanya mengenal Van Persie dan Arsene Wenger, nama-nama lain pun menjadi tak asing dalam hidupku. Cesc Fabregas, Samin Nasri, Bacary Sagna, Andrey Arshavin, dan banyak nama lainnya menjadi penghias kehidupanku kala itu.

Satu fakta kudapatkan pada awal lika-liku cintaku pada Arsenal. Tatkala saat itu, musim 2010/2011, menjadi musim kelima Arsenal tanpa trofi terpajang dalam lemari klub. Untuk sebuah klub sepakbola yang hampir selalu bertengger di empat teratas klasemen Liga Inggris, hal itu sungguh mengecewakan (bagi para fans yang sudah lama mencintai Arsenal tentunya!). Terakhir kali Arsenal menjuarai sebuah kompetisi adalah musim 2004/2005, yaitu menjadi kampiun dalam pergelaran FA Cup.

Mengetahui fakta tersebut, aku memilih diam. Aku bersikap bodo amat dengan apa yang sedang terjadi. Namanya orang baru jatuh cinta, hatinya pasti berbunga-bunga. Semua omongan orang tak dihiraukan dan pandangan hanya tertuju pada ia yang tercinta. Ya, cinta memang semembutakan itu.

Di sekolah, aku mulai mengumumkan bahwa aku adalah seorang Gooner, alias suporter Arsenal. Teman-teman laki-laki di kelas, yang notabene lebih mengerti bola, tentu saja meledekku. “Ngapain Nad suka sama klub yang ga pernah juara?!” oloknya. Tentu aku tidak bisa menjawab. Bukan hanya karena masih awam dalam mengerti sepakbola, ada hal lain yang tidak dapat kuungkapkan, terlebih soal perasaan.

Ketika aku menyukai sebuah klub, apakah aku menyukainya karena klub itu sendiri – ataukah klub tersebut saat meraih banyak trofi kemenangan? Pemikiran ini, yang disadur dari perkataan pemain legenda Arsenal–Dennis Bergkamp, menjadi dasar mengapa aku bertahan menerima olokan teman-temanku.

Nadhira, kelas 6 SD, merasakan jatuh cinta pertama kali, kepada kumpulan manusia yang bermain sepakbola dalam sebuah naungan klub berjuluk Meriam London, Arsenal FC.

***

Mungkin itulah cerita singkat awal pertemuan Nadhira dengan cinta pertamanya (uhuk). Mulai dari itu, akan banyak tragedi yang terjadi dalam sepak terjang rasa cinta ini terhadap Arsenal. Tentang sosok Robin van Persie, bangun (dan membangunkan adik) tengah malam hanya untuk menonton Arsenal, meminta orang tua untuk membeli jersey Arsenal, menulis surat untuk Nadhira masa depan (saat membuat time capsule sebelum lulus SD) dan bertanya tentang Arsenal, diikuti oleh akun Arsenal di Twitter, hingga berkesempatan langsung menyaksikan pertandingan Arsenal di Stadion Gelora Bung Karno. Terlalu banyak hal yang menarik untuk diceritakan, dan tak mungkin dituang dalam satu tulisan saja.

Maka biarkanlah aku mengungkapkan perasaanku dalam kumpulan kisah “Nadhira dan Cinta Pertama”, sekaligus membuktikan bahwa sedari dulu, sekarang, hingga masa yang akan datang, aku akan tetap mencintai dan mendukung The Gunners.

Ooh to—  ooh to be— oh to be a Gooner!


Spoiler: Ketika aku bilang bahwa Arsenal adalah sosok yang pertama kali membuatku jatuh cinta, maka (salah satu pemain) Arsenal juga lah yang membuatku menangis karena laki-laki untuk pertama kalinya!
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Wah ada 2 part. Banyak ya. Iya, soalnya kenangannya juga banyak. Uhuy.

Kenapa dibuat 2 part? Soalnya tulisan ini buat blog, ringan, jadi gausah panjang-panjang. Lagipula tulisan ini bukan esai tekpres kan, hehe.

Selamat (lanjut) membaca!



5. Kuis Kalkulus


Rabu sore, pukul 15.00-17.00 kali itu dipakai untuk kuis kalkulus bab 12. Kelas sudah diberi tahu satu minggu sebelumnya. Aku pun sudah mempersiapkan (baca: belajar) untuk kuis nanti, modal latihan soal hanya dari jam 13.00-14.30, hehe. Alhamdulillah kelas TTKI (Tata Tulis Karya Ilmiah) hari itu diliburkan, sehingga aku dapat belajar.

Paginya saat kelas, Pak Prama bilang, “Karena jam tiga itu mepet asar, jadi kuisnya mulai jam 15.45 ya,” dan dijawab serentak oleh kelas, oke Pak.

Usai sholat asar, aku ke kelas. Pak Prama belum datang (dan ternyata tidak datang). Jam 15.45, datanglah dua orang, yang nantinya kutahu sebagai mahasiswa magister Matematika, membawa setumpuk kertas.

“Ini kelasnya Pak Afif, kan?” tanya salah satu dari dua orang tersebut.

Aku ingin menjawab ya, tapi salah satu anak di kelas menyahut dengan suara rendah, “Pak Afif siapa?” Hehehe bocah bocah jarang ikut tutor nih. Pak Afif kan asdos kelas kita. Hehehe.

Karena seisi kelas hanya bergeming, orang tersebut kemudian bertanya lagi, “Dosen kalian siapa?”

“Pak Prama, Kak,” jawab seisi kelas.

Salah satu temanku mendengar satu dari dua orang tersebut berkata lirih, “Oh, kelasnya Kak Prama.”

Iya Kak, ini kelasnya Mas Pram Kak Prama. Eh Pak Prama.

Setumpuk kertas yang tadi kulihat merupakan lembar soal dan jawaban kuis. Dan kuis pun akan dimulai. “Sebelum kuis dimulai, ada pertanyaan?” tanya salah satu dari dua orang kakak magister tersebut.

Entah kenapa, aku mengacung tangan. “Kak, Pak Prama-nya gak dateng?”

“Nggak.”

Tiba-tiba terdengar celetukan, “Yah, Nadhira kecewa.”

 

6. NIM


Sebelum kelas tutor Rabu sore pukul 15.00-17.00 mulai, aku masih suka menggambar di papan tulis (aku tidak kapok dengan kejadian memalukanku sebelumnya). Salah satu temanku, Nico, menulis deretan angka di papan.

10111010

“Apaan tuh Nico? Kode biner?” tanyaku.

Nico menggeleng. “Bukan, itu NIM Bapaknya waktu kuliah (bapaknya disini adalah Pak Dosen ya).”

“Hah? Beneran? Tau dari mana?” tanyaku lagi.

“Coba aja tanya,” jawab Nico, selalu dengan gaya cool-nya.

Papan tulis sudah bersih ketika Pak Prama masuk kelas. Tutorial pun dimulai, dan pukul 15.30 kelas diistirahkatkan untuk sholat asar. Sebelum sholat asar, aku ke toilet. Alhasil, aku datang kembali ke kelas pun agak telat.

Aku melangkahkan kakiku ke dalam kelas. Sejurus kemudian, teman-teman kelasku menyorakiku. “Ah, Nadhira sayang banget dateng telat. Ah Nad, sayang banget. Kamu ketinggalan informasi nih,” begitu katanya.

Bingung lah aku. Aku bertanya pada Elfira, yang duduk di belakangku. “Ada apaan sih?” tanyaku.

“Rahasia,” Elfira tersenyum misterius.

“Ih apaan dah,” kataku tak sabar.

“Ada deeeh,” Elfira makin membuatku penasaran. “Lagian, kamu istirahat lama banget, sih,” katanya.

“Ih tadi ke toilet dulu,” belaku.

Dan saat pulang, aku tau apa yang dibicarakan teman-teman sekelasku saat aku belum kembali ke kelas. Mereka menanyakan kebenaran NIM Pak Prama ke orangnya langsung.

Dan ternyata benar, NIM Pak Prama saat kuliah di ITB dulu adalah 10111010. 101, kode jurusan Matematika. 11, angkatan 2011. Dan 010, absen 10. Iya, Pak Prama angkatan 2011. Cuma beda 6 tahun di atas angkatanku. Masih muda kan? Hehe.


7. Nama


Kelas tutorial kalkulus hari Rabu sore pukul 15.00-17.00 membuatku dan teman-teman kelasku (yang rajin datang tutor pastinya) menganggap Pak Prama seperti kakak tutor ketimbang dosen. Bahkan Pak Prama lebih muda daripada kakak tutor kalkulus kelasku semester lalu yang sering ku bully. Aku, Hanafi, Yazid, Amanda, Amara, dan Yita menjadi langganan duduk lesehan di bawah, tidak di kursi, saking santainya.

Waktu masih menunjukkan pukul 15.05. Salah satu temanku, Caca, menyeletuk. “Bapak, sholat yuk.”

Pak Prama terkekeh. “Nanti ya, tunggu adzan. Jangan bikin aliran aneh-aneh kamu, ya.” Aku dan teman-teman kelasku pun tertawa. Aku ingat, saat itu waktu asar berada pada pukul 15.11.

10 menit kemudian, Pak Prama berujar. “Nah, karena sudah adzan, dan untuk memenuhi permintaan Salsabila, sekarang kita istirahat sholat asar dulu ya.”

Caca, yang memang nama aslinya adalah Salsabila, kaget. “Ih, Bapak tau nama saya?” tanyanya, ngegas.

“Tau lah.”

Hanafi pun menyeletuk. “Coba Pak, sebutin nama kita satu-satu. Gak boleh liat absen ya Pak,” tantangnya.

Pak Prama menunjuk, dimulai dari sebelah kanan beliau.

“Fitri, Friska, Yita, Aisha, Dyah, Amara, Amanda, Nadhira, Hanafi, Yazid...”

Reaksi Fitri: Ih Bapaknya kenal aku dengan hebohnya.

“Calvin, Nico, Jennifer, Ivory, duh ini siapa ya? Salma?”

Reaksi kelas: Bukan Paaak. Ica Pak.

“Ah ya. Hafidza ya, baru sebelahnya Salma. Kalian ini duduknya sering sebelahan, jadi saya ketuker juga. Salsabila...”

Reaksi Caca: Salsabila siapa Pak?

“Duh kalau itu saya harus liat daftar hadir. Tapi saya tahu ada dua Salsabila di kelas ini.”

Dan Pak Prama pun lanjut menyebutkan nama-nama anak kelas yang hadir (sekitar 20-30 orang). Hampir semuanya benar, hanya tiga-empat orang yang salah sabut atau tertukar.

Satu lagi. Dosen pertama yang kutemui, yang menghafal hampir seluruh muridnya, padahal belum satu semester. Dosen kimiaku, Bu Ria juga hafal nama-nama kami, tapi sepertinya tidak sebanyak Pak Prama.


8. Membahas Pertanyaan Sulit


Hal yang menyedihkan pun datang. Tibalah Rabu sore, pukul 15.00-17.00 itu menjadi jam tutorial terakhir bersama Pak Prama. Kami membahas beberapa pertanyaan sulit bab 13, Aplikasi Integral, yang belum sempat dijawab saat kelas pagi hari.

Setelah pertanyaan terjawab, Hanafi bertanya. “Pak, kalau sumbunya yang diubah, gimana?” Ia bertanya dengan soal yang sama dengan sebelumnya, namun ditambah sedikit modifikasi.

Pak Prama kemudian mencoba menjawab pertanyaan tersebut sambil menjelaskan, namun buntu di suatu jalan.

“Pak, kalau gini bisa gak?” salah satu temanku memberi usulan.

Pak Prama mencoba mengerjakan dengan usulan temanku tersebut, namun lagi-lagi beliau buntu.

Kami pun bersama-sama memikirkan cara menjawab pertanyaan tersebut, sambil berdiskusi. Dan tak terasa, waktu menunjukkan pukul 15.50.

“Nanti ya, kita lanjutkan lagi diskusinya. Sekarang kita break sholat dulu ya,” kata Pak Prama.

“Iya Pak, sholat dulu aja. Siapa tahu, setelah sholat dapet ilham gitu buat jawabnya,” sang pemberi pertanyaan, Hanafi, menambahkan, sambil tertawa.

Aku, dan beberapa temanku pun keluar kelas untuk melaksanakan sholat asar.

Benarlah, seusai sholat dan kelas mulai kembali, Pak Prama sudah mendapatkan jawabannya. “Nah, jadi ini tuh begini,” Pak Prama pun menjelaskan. Kami manggut-manggut.

"Benar ternyata. Harus sholat dulu, baru ketemu jawabannya," ujar Pak Prama, terkekeh.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Aku tak tahu bagaimana mulanya, sejujurnya. Namun yang kutahu, segala kejadian penimbul kenangan muncul setiap hari Rabu, di jam kuliah terakhir, pukul 15.00-17.00.

Ada apa di jam tersebut? Jam tutorial.

Mata kuliahnya? Matematika Dasar 2A, yang lebih familiar disebut Kalkulus. 


1. Mungkinkah ini Awal?


Satu waktu, jam kuliah kalkulus minggu depan ditarik satu minggu sebelumnya. Kuliah hari Rabu pagi minggu depan diadakan Rabu minggu sebelumnya, di jam tutorial kalkulus, pukul 15.00-17.00.

Ah, jam nanggung, batinku. Kusebut jam nanggung karena jam tiga sore adalah waktu menjelang sholat asar. Mau sholat dulu sebelum kelas, tapi adzan baru berkumandang sekitar 15.20 (pada waktu tersebut). Atau sholat setelah kelas, sedangkan kelas baru usai pukul 16.40, yang membuat selama pelajaran sedikit tidak tenang. Pilihan paling tepat mungkin izin di tengah pelajaran. Ah, tapi takut gak nyambung dan gak paham dengan materinya, hehe.

Akhirnya, kuputuskan untuk masuk kelas saja. Lagipula, hanya sekali pergantian jam kuliah seperti ini. Kalau jam tutorial sebenarnya relatif lebih santai. Mau masuk jam berapa pun tidak masalah (bahkan tidak masuk pun tak apa!). Yang mengajarnya pun bukan dosen, melainkan asisten dosen. 

Dosen kalkulusku, Pak Prama, datang lebih dulu, sehingga kelas mulai tepat pada pukul 15.00. Materi yang dibahas adalah penjelasan lanjut mengenai kekonvergenan deret, materi yang sedikit belum kupahami karena beban pikiran lebih berat kepada satu mata kuliah 3 SKS rasa 10 SKS, Tekpres Arsi. Karena aku masih belum mengerti materi yang diajarkan (bahkan aku masih mencerna materi yang dijelaskan pagi hari saat jam kuliah asli) dan hawa sore Bandung dan ruang 9223 GKU Timur yang cukup adem, aku pun tertidur. Mungkin sekitar 10-15 menit.

Aku terbangun, melihat jam. 15.45. Aku bangun persis di saat Pak Prama berkata, “Kita break dulu ya, 10 menit, buat sholat asar. Bagi yang melaksanakan sholat asar, silakan sholat dulu.”

Di tengah ambang sadar dan tidak sadar sehabis bangun tidur, aku langsung berdiri, mengajak beberapa temanku untuk sholat. Aku tersentak. Baru kali ini aku mendapati dosen yang memberikan waktu istirahat untuk sholat. Memang, sih, aku baru merasakan kelas jam tiga sore di semester dua, dan hanya hari Senin-Rabu. Senin sore matkul PRD (Pengantar Rekayasa dan Desain), Selasa sore praktikum, dan Rabu sore tutorial kalkulus. Untuk Selasa sore jelas tidak bisa izin sholat di tengah praktikum. Dan untuk Senin dan Rabu sore, jujur saja aku belum penah minta izin untuk sholat (atau bahasanya izin ke toilet) di tengah pelajaran. 

Kelak, seluruh kisah di bawah akan menceritakan dosen kalkulusku yang satu ini, dosen yang akan selalu kuingat sebagai dosen pertama yang memberikan waktu sholat asar di tengah pelajaran.


2. Tutor Sebelum UTS


UTS kalkulus tinggal tiga hari lagi. Aku merasa belum siap. Seperti yang sudah kusebutkan – karena materi deret konvergen dan segala tetek bengeknya yang masih sulit kupahami. Di kelas pagi tadi, Pak Prama menawarkan untuk melanjutkan review materi di jam tutorial nanti. Anak-anak di kelas pun tentu saja setuju. Jadilah untuk kedua kalinya, Pak Prama mengajar di jam tutorial kalkulus, Rabu sore pukul 15.00-17.00.

Aku pun tenang datang ke kelas. Bapaknya pasti ngasih waktu istirahat sholat, pikirku. Pak Prama pun, selalu datang pukul tiga kurang.

Pukul 15.00, Pak Prama berujar–dan bertanya, “Karena adzan asar sekarang jam 15.07, kita mulai kelasnya jam setengah empat aja ya, nanti selesainya jam 17.10. Biar yang sholat bisa sholat dulu. Gimana? Gapapa kan?” Aku dan teman sekelasku mengiyakan.

Dan saat itu aku semakin tersentak, idaman panutan banget dah si Bapak.


Sebelum berlanjut ke cerita ketiga.
H-1 UTS kalkulus, aku belajar mati-matian (ya biasalah karena baru buka buku H-2 UTS), mempelajari tiga bab yang menjadi bahan ujian, hingga pukul dua pagi, dengan semangat dan sedikit catatan di halaman pertama buku latihanku. Buat bangga Pak Prama!



3.  Bukan di Jam Tutorial


Cerita ini bukan di jam tutorial, melainkan di jam kelas hari Senin pagi, pukul 07.00-09.00, tepat dua hari setelah UTS kalkulus– yang alhamdulillah ya Allah aku bisa huhu sungguh mengharukan.

Pak Prama, setelah mengucapkan salam dan selamat pagi, bertanya. “Gimana ujiannya kemaren?”

Dan seisi kelas menjawab kompak–dengan jawaban tipikal anak ITB, “Aduh Pak, lupakan Pak. Jangan dibahas.”

Bapak Dosen pun tertawa. Kemudian, beliau bertanya lagi. “Jadi, untuk sekarang, jam tutorialnya mau sama saya atau sama Pak Afif asdos?”

Seisi kelas lagi-lagi menjawab kompak, “Sama Bapaaaaaak!”

Dan jadilah, mulai Rabu, 14 Maret 2018, Pak Prama resmi mengajar tutorial kalkulus kelas 45–kelasku, mengantikan Pak Afif, sang asisten dosen, yang aku saja sering skip masuk kelas beliau, hehe.


4. Tutor Pertama–Tragedi Pertama


Aku belum pernah begitu semangat datang ke kelas tutorial kalkulus (di semester dua) seperti hari ini. Wah, kalau tutor kalkulus semester satu lain cerita. Aku semangat karena dapat belajar sambil membully kakak asdosnya, Om Azhar, hehe. Kelas hari Rabu sore, pukul 15.00-17.00 pun menjadi penyemangat bagiku untuk menjalani hari Rabu, haha. Salah satu alasannya, karena aku tak perlu takut telat sholat asar saat belajar. Alasan lainnya, tentu saja, sebuah alasan yang tak dapat dijabarkan.

Tutor kali ini akan membahas beberapa soal bab 12, tentang Turunan di Ruang Berdimensi-n. 10 menit sebelum jam tiga, aku dan beberapa temanku sudah berada di kelas, ruang 9223 GKU Timur. Papan tulis hijau ruangan tersebut memanggilku untuk aku corat-coret. Jadilah aku dan Hanafi menulis dan menggambar di papan tersebut. Aku menulis lafadz basmalah, kemudian menulis sesuatu yang akan membuatku sangat malu, calculove (tolong jangan bully saya wahai netizen yang budiman). Aku juga menulis lirik lagu Sayang milik Via Vallen.

Sayang
Opo kowe krungu
Jerite hatiku
Berharap engkau kembali

Hanafi menghapus kata hatiku dan menggantinya dengan Nadhira. Jadilah jerite Nadhira. Dan aku masih menulis lirik lagu lanjutannya.

Sayang
Nganti memutih rambutku
Ra bakal luntur tresnoku

Tepat usai selesai menulis kata tresnoku, aku membalikkan badan. Betapa terkejutnya diri ini ketika mengetahui sang dosen sudah berdiri di depan meja sambil tertawa.

“Aaaaah!” aku teriak saking kagetnya. Dan bodohnya aku, bukannya menghapus papan tulis, aku malah berlari keluar kelas. Sedetik kemudian aku baru bisa berpikir jernih. Cepat-cepat aku menghapus papan tulis, berlari ke tempat dudukku, mengucapkan “Maaf Pak, maaf Pak,”, dan menutup mukaku dengan tas Elmo-ku yang berwarna merah.

“Nggak apa-apa, semua orang boleh dan bebas berekspresi,” ucap Pak Prama sambil tertawa, yang membuatku semakin malu.

Aku berbisik kepada Hanafi yang duduk di sebelahku, sambil mendengus. “Eh Hanafi, kok lu gak bilang-bilang si Bapak udah dateng, sih?”

“Ih Nad, tadinya aku mau ngasih tau kamu. Tapi Bapaknya bilang gausah gausah, gitu,” jawab Hanafi.

Mampus gua.



Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Wah. Long time no see ya. Sudah bulan Mei saja. Sudah empat hari lagi menjelang Ramadhan. Sudah lima bulan aku tidak menulis apapun di sini.

Ya, sebenarnya, aku nulis sih. Menulis esai pula. Haha. Lebih tepatnya buat tugas Tekpres, hehe.

Dan tidak terasa, sudah satu tahun yang lalu wisuda Axiora. Sudah hampir satu tahun aku berada di bumi Ganesha, melanjutkan menuntut ilmu di jenjang yang lebih tinggi.

Kau tahu. Banyak sekali hal yang ingin kusampaikan. Banyak cerita yang ingin aku tuliskan. Kisah perjalananku di semester dua ini, terlalu banyak dicicipi oleh manis pahitnya perkuliahan.

Sebelumnya, apa kabar iman?


Ramadan reminder 1439 H.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Nadhira KA, 21. An architecture student who loves photography and proudly be as a Gooner.

Follow Us

  • twitter
  • instagram
  • behance

Categories

  • Nadhira dan Cinta Pertama
  • karena kita; Axiora
  • kehidupan ITB
  • kepingan kenangan

Blog Archive

  • ►  2023 (1)
    • ►  November 2023 (1)
  • ►  2020 (3)
    • ►  August 2020 (1)
    • ►  May 2020 (1)
    • ►  April 2020 (1)
  • ►  2019 (5)
    • ►  June 2019 (4)
    • ►  May 2019 (1)
  • ▼  2018 (5)
    • ▼  December 2018 (1)
      • Nadhira dan Cinta Pertama: Surat unt...
    • ►  November 2018 (1)
      • Nadhira dan Cinta Pertama: Sebuah Pertemuan
    • ►  June 2018 (2)
      • Antara Jam Tiga dan Lima (part 2)
      • Antara Jam Tiga dan Lima (part 1)
    • ►  May 2018 (1)
      • Lima Bulan Berlalu
  • ►  2017 (45)
    • ►  December 2017 (3)
    • ►  November 2017 (1)
    • ►  October 2017 (2)
    • ►  September 2017 (3)
    • ►  August 2017 (1)
    • ►  July 2017 (15)
    • ►  June 2017 (5)
    • ►  May 2017 (14)
    • ►  February 2017 (1)
  • ►  2016 (39)
    • ►  December 2016 (1)
    • ►  November 2016 (3)
    • ►  September 2016 (3)
    • ►  August 2016 (3)
    • ►  July 2016 (6)
    • ►  June 2016 (6)
    • ►  May 2016 (4)
    • ►  April 2016 (7)
    • ►  March 2016 (2)
    • ►  February 2016 (3)
    • ►  January 2016 (1)
  • ►  2015 (46)
    • ►  December 2015 (8)
    • ►  November 2015 (2)
    • ►  September 2015 (4)
    • ►  August 2015 (6)
    • ►  July 2015 (3)
    • ►  June 2015 (4)
    • ►  May 2015 (1)
    • ►  April 2015 (3)
    • ►  March 2015 (5)
    • ►  February 2015 (8)
    • ►  January 2015 (2)
  • ►  2014 (24)
    • ►  December 2014 (7)
    • ►  November 2014 (4)
    • ►  October 2014 (12)
    • ►  September 2014 (1)

Facebook

ThemeXpose