• Home
  • About
  • Contact
    • Mail
  • She Talks Football
  • Untuk Nadhira
Powered by Blogger.
facebook twitter instagram

encyclopedhira

Rencana liburan, yang awalnya jalan-jalan di suatu kota di pulau Sumatera, seketika berubah setelah aku mengirim sebuah brosur pada Bunda, lewat Facebook sesaat setelah UAS Matematika.

Pada akhirnya, satu minggu nyantri di Bogor menjadi pilihanku, yang juga diikuti oleh adik pertamaku.

Tahfizh Alquran Academy, adalah sebuah program seperti Super Manzil, yaitu program percepatan tahfizh. Dikarantina di Kaki Gunung Bungalow, di sinilah aku menghabiskan 1 minggu liburanku.

Aku sampai di lokasi pukul setengah 12. Aku melihat sekeliling, rupanya sudah banyak yang datang. Aku berjalan ke tempat seperti restoran, hendak mengambil minum, hingga tiba-tiba...

"Nadhira!" Suara khas seseorang memanggilku. Sepersepuluh detik aku terheran.

"Eh, Pak Away. Assalamu'alaikum Pak."

Allahu akbar. Dunia ini memang sempit.

Pak Away mengatakan bahwa anaknya yang pertama, kelas 9 SMP, akan mengikuti acara ini. "Dia mau sendiri. Banyak temen juga katanya," ujar Pak Away.

Setelah sholat Dzuhur dan makan siang, semua peserta diarahkan ke aula. Di sana, kami dikumpulkan menurut musyrif dan musyrifahnya.

Aku baru sadar, kelompok-kelompok yang terbentuk disesuaikan dengan umurnya. Ada yang masih kelas 2 SD, ada juga kelompok ibu-ibu.

"Nadhira!"

Lagi-lagi ada yang memanggil namaku, ketika aku hendak berkumpul dengan musyrifahku. "Ya ampun Salsa!" jeritku.

Aku mengagungkan namaNya kembali. Allahu akbar. Aku bertemu teman SD-ku.

Aku berkumpul bersama kelompokku, dengan musyrifah Teh Ayu. Ia masih kuliah, berusia sekitar 20 tahun. Wajahnya mengingatkanku pada sosok Oki Setiana Dewi. Teman-teman kelompokku ada Hawwin, Salsa, Nida, Kamil, Fela, dan Kak Ika. Hawwin dan Salsa sama denganku, kelas XI. Nida, Kamil, dan Fela satu tingkat di atasku. Sedangkan Kak Ika, sudah memasuki semester 5 jurusan Biologi di sebuah universitas di Banjarmasin.

Setelah cukup saling memperkenalkan diri, kami digiring ke kamar. Aku mendapat kamar Tanjung 5A. Namun, entah atas dasar apa aku dan beberapa temanku dipindah ke Tanjung 3.

Tanjung 3 terletak di paling ujung dari kawasan vila. Mempunyai 10 kasur dan kamar mandi yang... sulit untuk dijelaskan. Ada 3, dan terpapar dengan udara terbuka. Kamar mandinya hanya berukuran (sepertinya) 1,5 m x 1 m. Berukuran 1/2 kali lipat dari kamar mandi Tanjung 5A. Ya sudahlah, ini yang terbaik.

Acara setelah sholat Asar hanya berkumpul bersama musyrifah dan membahas metode-metode yang bisa digunakan untuk menghafal.

Aktivitas menghafal + setoran dimulai setelah sholat Isya, hingga jam 9. Aku memulainya dengan menghafal surah Adz-Dzariyat, yang bilamana sudah selesai aku lanjut ke surah Al-Baqarah. Malam pertama di TAA, aku masih belum bisa menemukan kenyamanan dalam menghafal. Tapi bismillah, insyaallah esok hari lebih baik.

Sebelum memasuki alam mimpi, anak-anak kamar Tanjung 3 saling berkenalan. Dimulai dari kasur yang paling pinggir dekat pintu, ada Qonita (kelas 5), Salsa, Khansa besar (kelas 6), Callista (kelas 6), Ayesha (kelas 5), Nida, Khansa kecil (kelas 2), Nada (adikku, kelas 9), Nadhira, dan Hawwin. Setelah ditelusuri lebih lanjut, kami semua mempunyai hobi yang sama: makan. Hehehe.

Aktivitas yang kami jalani setiap harinya hampir sama. Berikut rinciannya:
1. 04:30 - 05:30 = Qiyamul lail, sholat Subuh, dan kultum
2. 05:30 - 06:30 = Tahfizh 1
3. 06.30 - 08:30 = Mandi, sarapan, merapikan kamar
4. 08:30 - 09:30 = Tahfizh 2
5. 09:30 - 10:30 = Istirahat
6. 10:30 - 11:30 = Tahfizh 3
7. 11:30 - 14:00 = Sholat Dzuhur, makan siang, dan tidur siang
8. 14:00 - 15:00 = Tahfizh 4
9. 15:00 - 16:00 = Sholat Asar dan kultum
10. 16:00 - 17:15 = Outdoor activity / istirahat
11. 17:15 - 18:00 = Mandi dan persiapan sholat Maghrib
12. 18:00 - 20:00 = Sholat Maghrib, makan malam, sholat Isya, kultum
13. 20:00 - 21:00 = Tahfizh 5
14. 21:00 = Tidur

Menurutku tidak terlalu padat. Malah, bila tidak ada outdoor activity di sore hari, aku dan teman-teman sekamar ngebolang ria ke tempat outbond yang ada di bawah.

Selama acara berlangsung, handphone dititipkan kepada musyrifah. Tapi, 2 hari sekali boleh diambil waktu malam untuk menelepon orang tua.

Tempat aku menghafal selalu berubah, dengan dalih mencari suasana baru. Kadang di dalam aula, di beranda aula, di saung, di depan kamar, bahkan tanah lapang menghadap ke sebuah kolam besar. Di tempat itulah aku melihat peserta-peserta TAA yang masih kecil bermain.

Peserta-peserta yang masih kecil tersebut hobi mencari belalang, yang lama-kelamaan kami sebut bolang: bocah belalang. Jika waktu tahfizh tiba, aku melihat mereka hafalan (talaqqi) dan setoran hanya setengah jam, sisanya bermain. Bikin iri saja.

Peserta kelas 2 SD kebanyakan perempuan. Ada Hana, Khansa, si kembar Sasya dan Rara, Azkia, Pelangi, dan Haya. Sedangkan peserta laki-lakinya yang kutahu hanya Irsya dan Iskandar. Mereka semua lucu juga imut. Rasanya ingin menculiknya dan membawanya ke rumah, hehe.

Teman-teman di sini masyaallah alimnya. Banyak diantara mereka yang sudah mengenakan khimar panjang dan gamis. Bikin iri juga, nih. Tapi mereka ramah dan supel.

Terkadang, kultum merupakan bagian setelah sholat yang bikin mengantuk. Tapi tidak dengan kultum Ustad Purwanto. Beliau merupakan suami dari event organizer acara ini, sekaligus ayah dari salah satu peserta.

Ustad Purwanto bercerita bahwa ia adalah seorang muallaf, yang lahir beragama Katolik. Sejak kelas 4 SD, beliau mulai ragu dengan kelogisan agamanya. Akhirnya, ia belajar semua agama, dimulai dari kitab sucinya, hingga pemuka agamanya. Ustad Purwanto berujar bahwa ia mempelajari Islam karena terpaksa, setelah hasil yang ia dapatkan setelah mempelajari banyak agama tetap tak bisa memuaskan hatinya.

Namun takdir Allah berkata lain. Ustad Purwanto jatuh cinta pada Islam. Sebelum masuk Islam, ia sudah menpelajari 4 kitab termahsyur yang bahkan aku saja belum membacanya. Sebut saja Tafsir Ibnu Katsir, dan 3 kitab lain yang aku lupa, hehe. Akhirnya, awal kelas 2 SMA, Ustad Purwanto megucap syahadat.

Kekagumanku pada Ustad Purwanto tidak berhenti di situ. Beliau juga sangat cerdas. Beliau menceritakan keajaiban ayat-ayat Alquran yang akan membuat siapapun yang mendengarnya terhenyak dan berkata, "Masyaallah, ternyata begitu ya." Sampai-sampai Nida berceletuk, "Kalau Ustad Purwanto ngasih materi 5 jam pun aku setia dengerin kok," yang aku pun menyetujuinya.

Seringkali, saat pagi hari, aku, Nida, Hawwin, dan Kak Ika keasyikan ngobrol dan berdiskusi dengan Teh Ayu, musyrifahku. Kami berdiskusi banyak hal. Dari mulai cerita pesantrennya Teh Ayu, kehidupan mengajar anak TK-nya Kak Ika, tentang jin dan qorin, bahkan cerita dunia persantetan di Jawa. Dan tanpa sadar waktu sudah menunjukkan pulul 07:15.

Outdoor activity yang paling menyenangkan adalah saat melempar balon berisi air. Aku sampai dibuat basah karenanya. Aku, Nada, Ayesha, Khansa besar tak segan untuk menyiram pemandu acara outdoor activity, Pak Sugeng. Tentu saja setelah itu kami meminta maaf. Para musyrifah yang melihat kejadian tersebut ikut tertawa dan malah meminta foto bersama Pak Sugeng.

Para musyrifah di sini, walaupun khimar panjang dan gamis menyelimuti tubuhnya, dan kesan pertamanya adalah alim banget, mereka sangat friendly. Tak jarang kami bercanda dan membuat tawa dengan para musyrifah. Kami berfoto ria dengan musyrifah, terlebih rata-rata umur musyrifahnya masih anak kuliahan.


Kalaulah cerita ini kuteruskan panjang kali lebar lagi, aku yakin bisa menghabiskan 20 halaman kertas A4 dengan margin seluruhnya 3 cm dan spasi 1,5. Yang pasti, aku bersyukur mengikuti acara TAA. Berkhalwat dengan Alquran, mendengar materi yang dapat membangkitkan iman, juga memperbanyak teman.

Kalau ada acara TAA lagi Ramadhan nanti, tunggu aku di sana, ya!
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Di dalam mobil.

Nada: "Kak, tas Kakak isinya apa aja?"
Nadhira: "Barang-barang berharga. Laptop Nad."
Nada: "Bawa kamera Kak?"
Nadhira: "Bawa. Rencananya Kakak mau mindahin foto hari ini."
Nada: "Bawa slide biologi gak Kak?"
Nadhira: ..... "Bawa kok Nad bawa!"

31 Desember 2015,
dalam perjalanan mendadak menuju Sukabumi (lagi)
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Tangannya sibuk mengaduk-aduk kolam kecil berisi genangan air, dengan menggunakan tongkat kayu. Sesekali ia masukkan jemarinya ke dalam kolam. Lama tidak beranjak dari tempatnya, kakak perempuan dari anak tersebut berteriak, "Dede, hafalan Dede! Nanti Kakak bilangin Bunda ya! Nggak temen loh,"

Anak laki-laki itu, yang biasa dipanggil Irsya, tetap tak bergeming. Malah ia semakin asyik menelusuri rerumputan di sekelilingnya, mencari belalang.

Akhirnya, Irsya datang ke aula setelah musyrifnya, Ustad Teddy, memanggilnya. Irsya duduk di hadapan Ustad Teddy. Dibukanya Alquran yang sudah tidak bersampul lagi pada surah Al-Baqarah, memasuki juz 2. Ustad Teddy membacakan ayat yang akan dihafal Irsya, kemudian Irsya mengulanginya. Perlahan, hingga 2 ayat terselesaikan.

Muhammad Irsya Fatturrahman Al-Gazali, adalah murid kelas 2 SDIT Nurul Ilmi, yang sayangnya aku lupa tempatnya dimana. Bocah laki-laki ini hobi bermain. Malah, ia lebih sering bermain bersama bocah-bocah cilik perempuan dibanding sesama laki-laki, terlebih saat pencarian belalang.

Irsya sangat hebat. Irsya sudah hafal 6 juz. Ketika ditanya, "Irsya, juz berapa aja yang dihafal?" Ia menjawab, "Dari An-Nas sampai Al-Ahqaf (juz 26), habis itu langsung ke Al-Baqarah."

Masyaallah. Anak kelas 2 SD lho. Kayaknya, aku masih belum hafal An-Naba waktu seumuran Irsya.

Ketika ditanya lagi, "Irsya dari kapan mulai menghafal Alquran?" Ia menjawab, "Dari umur 2 tahun, sama Bunda."

Ditanya kembali, "Cara menghafalnya gimana?" Dengan mantap ia menjawab, "Dengarkan, lalu ulangi." Maksudnya adalah dengan metode talaqqi, metode menghafal Alquran dengan mendengarkan bacaan seseorang, lalu kita ikuti.

Irsya anak yang sangat aktif, tidak segan bila ditanya. Bahkan sama teman-temannya yang umurnya jauh di atasnya.

Irsya selalu mencoba hal baru. Seperti di saat acara tasmi' dan penutupan TAA 2015, ia penasaran dengan kamera yang kupakai. Irsya ingin meminjamnya. Aku pun meminjamkan padanya, setelah sebelumnya mengajari Irsya dasar-dasar cara memakai kamera Nadhira yang serba manual.


Irsya memotret apa saja, walau terkadang tidak jelas. Ia sering mengeluhkan hasil fotonya yang blur, dan aku mengingatkannya berkali kali untuk memainkan fokus lensanya. Rasanya senang sekali melihat anak kecil mencoba mengoperasikan dan belajar memotret. Hehehe.


Dan tahukah kalian, Irsya pernah menjadi peserta Hafizh Indonesia, yang biasa tayang saat Ramadhan di salah satu stasiun televisi swasta. Aku tidak tahun tahun berapa. Tapi yang jelas, ia satu angkatan dengan Musa, hafizh 30 juz di usia belia. Itu pun berita dari orang-orang.

Yang lebih hebat lagi, Ust. Purwanto berkata bahwa Irsya pernah menjadi imam di Masjid Nabawi. Karena penasaran, salah satu temanku bertanya padanya, "Irsya, beneran kamu pernah jadi imam Masjid Nabawi?"

Dan dengan polosnya ia menjawab, "Pernah. Jadi imam sholat tahajud." Wallaahua'lam, masyaallah.

Walau hobi bermain, semangatnya menghafal Alquran tak pernah padam. Ia selalu antusias bila ditalaqqi oleh Ustad Teddy. Semangatnya dalam menghafal patut ditiru oleh kita, apalagi yang berumur jauh di atas Irsya. Jadikan ia sebagai inspirasi, juga motivasi untuk kita mempelajari alam Ilahi. Barakallah, Irsya.


Share
Tweet
Pin
Share
No comments
One of the most amazing organ that human has is the brain. The brain is like a nucleus, it coordinates (almost) all human's activities.

The brain doesn't have maximum capacity to memorize. It only arranges the datas. So, when we 'forget' something, doesn't mean we lost our memory, it because the brain is working hard searching the data in the shelves of memories.

The brain needs 'foods'. But, its food is knowledges abd learnings. If we don't use the brain to learn (anything in this world, not only school lesson), the brain will 'eat' the knowledges and learnings in itself. The brain will eat memories which a human has had. That's why old people seems to be forgetful. They rarely use their brain again to learn, so they become forgetful (in Bahasa we call pikun).

And I just realize from what The Prophet Muhammad has said, "Tholaabul 'ilmi minal mahdi ilal lahdi." The meaning is "Learn from your birth until your death." I just realize that yes, we all have-no-must learn during our life. Learn school lessons, learn Alquran, learn Islam, and learn everything in Allah's earth.

By the way,

.
.
.
.

I HAVE NOT EVEN TOUCHED MY BIOLOGY SLIDE.

BYE!

28th December 2015
Kaki Gunung Bungalow, Bogor
Share
Tweet
Pin
Share
2 comments
Sebelum memulai tulisan ini, terlebih dahulu kuucapkan terima kasih kepada kawan-kawan seperjuangan dan teman-teman satu angkatan yang telah membantu penulisan postingan ini.

Pertama, aku berterima kasih atas semangat tanpa lelah dalam membaca, menghafal, dan berusaha mengajarkan Alquran yang ada pada diri kalian. Secara tak sadar, kalianlah yang menjadikan kebiasaan membaca Alquran menular padaku.

Kedua, untuk saudari Himmaty Muyassaroh yang selalu memberi semangat padaku untuk menghafal. Bahkan, pesan terakhirnya sebelum liburan datang yang selalu kuingat, "Nadhira, jangan lupa olahraga sama nambah hafalan."

Ketiga, saudari Faliha Alya Maulida, teman seperjuangan pecinta Masjid Ulil Albab, terlebih bagian pojok kiri belakang dekat rak Alquran. Tak pernah sekalipun kau lewatkan waktu seusai sholat tanpa membaca Alquran, yang membuatku iri—dan insyaallah ini tidak apa. Rajinmu murojaah dan menghafal memacu semangatku untuk melakukan hal serupa.

Terakhir, aku berterima kasih kepada para penjaga Kalamullah lainnya yang tabpa lelah memotivasiku memahami dan memaknai surat cinta dariNya. Hafizh dan hafizhah, jaga hafalanmu, ajarkan isinya, dan kerjakan apa yang diperintahkanNya.


Menghafal di Insan Cendekia, jujur, sangatlah sulit. Seorang Nailatul Hana pun mengakuinya. Entah karena aktivitas harian yang padat atau mungkin karena kita tidak meluangkan waktu untuk Alquran, menambah hafalan barang satu halaman pun susah.

Namun, Allah selalu memudahkan hambaNya, bila ia berusaha. KasihNya mengalahkan beratnya menghafal yang kita lakukan. Betapa nikmatnya menghafal dan mempelajari Alquran, di bumi Insan Cendekia.

Setelah satu setengah tahun hidup di Insan Cendekia, aku mulai bisa menemukan pola menghafal sekaligus murojaahku. Dan kini, aku akan memberikan tips menghafal Alquran di Insan Cendekia, bersumber dari pengalaman Saudari Himmaty Muyassaroh dan Amatullah Asma Ashilah. Insyaallah tips-tips ini bermanfaat dan dapat digunakan untuk semua kalangan.

1. Gunakan waktu sehari-hari untuk murojaah. Murojaah merupakan salah satu hal penting dalam menghafal Alquran. Tak apalah hafalan hanya 2-3 juz tapi melekat dengan kuat di kepala.
Gunakan waktu sehabis sholat untuk murojaah, dan beri target murojaah setiap waktunya. Misalnya 2 lembar. Jika 2 lembar yang dimurojaahkan tersebut dirasa masih kurang lancar, ulangi lagi hingga kesalahan yang dilakukan adalah nol. Insyaallah tidak membutuhkan waktu yang lama, kok. Bila ada 5 kali sholat berjamaah di masjid, dan ditambah sholat Duha, satu hari kita bisa memurojaah satu juz, alhamdulillah.
Dan tentu saja, bagi yang mempunyai hafalan lebih banyak, jumlah lembar yang menjadi target murojaah harus lebih banyak pula.

2. Jangan dulu menambah hafalan baru bila hafalan yang kita punya belum benar-benar melekat. Ini juga merupakan tamparan dan peringatan buatku. Ingat, apa yang pernah kita hafal akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.

Lalu, kalau terus-terusan murojaah, kapan menghafalnya dong?

3. Gunakan waktu UAS untuk menambah hafalan. Serius. Mungkin masa UAS terlihat sibuk, namun waktu untuk berdiam di masjid lebih banyak. Saat UAS, tak ada belajar malam setelah sholat Maghrib. Di saat seperti itulah kita bisa menambah hafalan. Atau mungkin sehabis sholat Dzuhur. Karena jam 12:45 tidak lagi masuk kelas, tak ada alasan untuk tidak menambah hafalan setelah sholat tersebut. Tak perlu banyak-banyak menghafal, 3 ayat sampai setengah halaman pun cukup—kecuali kalau yang dihafal Al-Baqarah: 282, hehe.

4. Waktu luang seusai UAS lebih banyak lagi. Daripada menggabut ria tidur di asrama, lebih baik berkhalwat syahdu dengan kalamNya. Tempat menghafal bisa dimana saja. Namun, tempat terbaik dan ternyaman untuk menghafal tentulah masjid. Setelah asmaul husna Subuh, jangan buru-buru cabut ke kantin kemudian sarapan. Cobalah sekali-kali terjebak dalam buaian ayat-ayatNya hingga tak sadar waktu menunjukkan pukul 6.

5. Lebih baik lagi, luangkan sedikit waktu luang saat liburan untuk menghafal. Sedikit saja. Jangan mentang-mentang handphone di tangan kemudian lupa sama Alquran. Coba juga sekali mengikuti camp tahfizh saat liburan. Insyaallah, liburan kita tidak akan sia-sia. Apalagi, menikmati suasana baru saat liburan dan bertemu banyak kawan dari berbagai generasi (soon to be posted).

6. Jika hafalan-hafalan kita sudah benar-benar mutqin (melekat), tidak ada salahnya menambah hafalan di hari-hari biasa. Tidak perlu banyak-banyak, cukup 1-2 ayat perhari. Insyaallah mudah, dan menghafalnya pun tidak membutuhkan waktu lama. Setelah menghafal ayat baru tersebut, ulangi terus sepanjang hari.
Seperti kata pepatah, sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit. Bila kita menghafal 2 ayat perhari, bukan tidak mungkin kita bisa menghafal 1 halaman seminggu. Bila 1 juz ada 20 halaman, dalam 20 minggu kita bisa menghafal 1 juz. 1 semester 1 juz, insyaallah.

7. Karena tempat terbaik untuk menghafal adalah masjid, maka rajin-rajinlah pergi ke masjid. Usahakan dari mulai sholat Subuh sampai Isya kita dirikan di masjid. Terlebih untuk yang akhwat, karena memang beberapa waktu sholat tidak diwajibkan ke masjid.

8. Last, but not least, keep istiqomah. Cobaan terberat untuk para pejuang penghafal Alquran. Laa takhof, wa laa tahzan. Innallaaha ma'anaa. Sebut namaNya, pinta padaNya agar kita selalu istiqomah dalam menghafal dan menjaga kalamNya. Allah pasti akan membantu.

Mungkin, cuma segini yang bisa aku berikan. Bismillaah, aku sendiri akan mencoba mempraktikannya. Ayo kita berjuang bersama menjadi keluarga Allah SWT, dan berikan mahkota untuk ayah bunda tercinta.
Share
Tweet
Pin
Share
3 comments
Liburan

Kembali ke kampung halaman
Bertemu teman-teman
Dan reuni satu angkatan

Liburan

Lupakan sejenak pelajaran
Apalagi nilai semesteran

Liburan

Saat yang tepat untuk jalan-jalan
Tak pernah ada kata tidak untuk makan-makan
Apalagi buatan ayah bunda tersayang

Liburan

Inginnya bersenang-senang
Tapi masih kepikiran
Tentang Laporan Pertanggungjawaban

Liburan

Jangan lupa untuk menyentuh Alquran
Kalau bisa nambah hafalan
Lumayan, buat tabungan amal kebaikan
Jangan terus-terusan Facebook-an
Tidak kenal waktu saat chatting-an

Tapi, jangan lupa kawan
Siapkan dirimu untuk semester depan
Bersama tugas dan ujian yang menghadang
Belum lagi acara-acara yang kita pegang

Namun, jangan riskan
Bersama-sama kita berpegang tangan
Melangkah dalam satu tujuan
Insyaallah, Allah akan memudahkan

Liburan

Waktunya menebar kebaikan!
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Kamis, 3 Desember 2015.

Aku melangkahkan kaki keluar dari kelasku dengan perasaan bahagia—ya ampun, UAS selesai! Aku berkata lirih dalam hati. Setelah melewati 10 hari perjuangan, akhirnya berakhirlah Ujian Akhir Semester 1 tahun ajaran 2015/2016.

Pikiranku saat ini hanya satu. Meminta Pak Dayun membuka lab komputer lantai 1, hitung-hitung refreshing. Banyak yang ingin aku jelajahi. Namun sayang, Pak Dayun tidak bersedia membuka lab komputer dengan dalih sedang disetting untuk tryout UN berbasis komputer kelas XII.

Aku sedikit kecewa.

Dan pelarianku selanjutnya adalah pos satpam. Aku yakin, paket itu sudah tiba.

Benar saja, tak sulit mencari baramg berbentuk kotak dan dibungkus dengan kertas cokelat dengan nama penerima Nadhira KA. Senyumku semakin mengembang. Segera aku berlari ke depan Kopinma san membuka bungkusnya. 2 buah buku terlihat dalam pandanganku.

"Aaaa akhirnya sampai! Aaaaaa!" jeritku histeris.

Azmi dan Krisma, yang sedari tadi duduk di depan Kopinma, terlonjak kaget.

"Apa yang sampai Dhir?" tanya Krisma.

Sambil menunjukkan—sedikit memamerkan kedua bukuku, aku menjawab, "Novel Ayat-Ayat Cinta 2. Ada tanda tangan Kang Abik-nya lho."

Dengan senyuman yang mengembang, aku berlari-lari kecil menuju asrama. Sesampainya di kamar, aku tak kuasa untuk berteriak, hingga membangunkan Fitri yang tengah terlelap.

Fitri juga berteriak. Berteriak kegirangan karena ialah yang paling antusias terhadap sekuel novel Ayat-Ayat Cinta ini. Fitri juga membantu menyampul kedua bukuku. Tepat setelah Dzhuhur, novel yang tebalnya mengalahkan Kamus Inggris-Indonesia milikku siap dibaca.

Dalam waktu 12 jam, novel Ayat-Ayat Cinta 2 sudah kulalap habis. Itu pun terpotong makan, tidur, dan lainnya.

Karena postingan ini bukan resensi buku, jadi aku tidak akan menulis ringkasannya di sini. Silakan baca sendiri novelnya, hehe.

Seorang Fahri Abdullah mencontohkan bagaimana menjadi tetangga yang baik, walau tinggal di lingkungan mayoritas non-muslim.

Fahri juga membuatku terhenyak. Dengan segala kekayaan yang ia miliki, tak membuat ia tinggi hati. Malah, dengan senang hati menolong kakak beradik beragama Nasrani. Dengan ikhlas ia menggelontorkan dana beratus ribu poundsterling untuk membantu sesama manusia.

Novel Ayat-Ayat Cinta 2 membantah tuduhan para pengidap Islamofobia bahwa Muslim adalah teroris. Fahri menolong orang tanpa pandang agama. Bahkan, seorang nenek Yahudipun ditolong olehnya. Fahri tidak pernah marah kepada tetangganya, justru ia memerhatikan kondisi tetangganya di komplek rumahnya, di kawasan Edinburgh, Skotlandia.

Satu yang terpenting. Fahri juga menunjukkan bagaimana cara menjadi suami yang baik. Romantisme yang didasari cinta kepada Yang Maha Pemilik Cinta, membuat siapa saja yang membacanya berdesir hatinya, mengharapkan Allah sisakan satu manusia seperti Fahri Abdullah untuknya. So, buat para calon suami, novel ini bisa menjadi rujukan, hehehe.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
HELLO HELLOOO WOOHOOO!

I AM SO EXCITED. YES I AM.

BECAUSE I'M GOING HOME ON DECEMBER 19TH.

FORGET ALL ABOUT THE END SEMESTER'S REPORT.

GET READY FOR GOING HOME SWEET HOOOOMEY.
 
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Nadhira KA, 21. An architecture student who loves photography and proudly be as a Gooner.

Follow Us

  • twitter
  • instagram
  • behance

Categories

  • Nadhira dan Cinta Pertama
  • karena kita; Axiora
  • kehidupan ITB
  • kepingan kenangan

Blog Archive

  • ►  2023 (1)
    • ►  November 2023 (1)
  • ►  2020 (3)
    • ►  August 2020 (1)
    • ►  May 2020 (1)
    • ►  April 2020 (1)
  • ►  2019 (5)
    • ►  June 2019 (4)
    • ►  May 2019 (1)
  • ►  2018 (5)
    • ►  December 2018 (1)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  June 2018 (2)
    • ►  May 2018 (1)
  • ►  2017 (45)
    • ►  December 2017 (3)
    • ►  November 2017 (1)
    • ►  October 2017 (2)
    • ►  September 2017 (3)
    • ►  August 2017 (1)
    • ►  July 2017 (15)
    • ►  June 2017 (5)
    • ►  May 2017 (14)
    • ►  February 2017 (1)
  • ►  2016 (39)
    • ►  December 2016 (1)
    • ►  November 2016 (3)
    • ►  September 2016 (3)
    • ►  August 2016 (3)
    • ►  July 2016 (6)
    • ►  June 2016 (6)
    • ►  May 2016 (4)
    • ►  April 2016 (7)
    • ►  March 2016 (2)
    • ►  February 2016 (3)
    • ►  January 2016 (1)
  • ▼  2015 (46)
    • ▼  December 2015 (8)
      • Satu Minggu Penuh Syahdu
      • Kisah Kecil
      • Irsya Fatturrahman, Sibuk Cari Belalang, Namun Tet...
      • The Human's Brain
      • Perjuangan Para Penjaga Alquran dari Ranah Insan C...
      • Liburan?
      • Ayat-Ayat Cinta 2, Hadiah Pantas Atas Usainya UAS
      • COUNTDOWN TO GO HOME: D-5!
    • ►  November 2015 (2)
    • ►  September 2015 (4)
    • ►  August 2015 (6)
    • ►  July 2015 (3)
    • ►  June 2015 (4)
    • ►  May 2015 (1)
    • ►  April 2015 (3)
    • ►  March 2015 (5)
    • ►  February 2015 (8)
    • ►  January 2015 (2)
  • ►  2014 (24)
    • ►  December 2014 (7)
    • ►  November 2014 (4)
    • ►  October 2014 (12)
    • ►  September 2014 (1)

Facebook

ThemeXpose