• Home
  • About
  • Contact
    • Mail
  • She Talks Football
  • Untuk Nadhira
Powered by Blogger.
facebook twitter instagram

encyclopedhira

Berjalanlah di sekitar Masjid Salman ITB saat sore hari. Dimana kau akan menemukan betapa ramainya koridor dan lapangan rumputnya.

Berjalanlah di sekitar Masjid Salman ITB saat sore hari. Tak hanya anak kuliahan, banyak pula siswa berseragam putih abu-abu di dalamnya.

Berjalanlah di sekitar Masjid Salman ITB saat sore hari. Berjejer papan tulis putih dimana-mana.

Berjalanlah di sekitar Masjid Salman ITB saat sore hari. Lingkaran-lingkaran suatu perkumpulan terlihat di sana-sini.

Berjalanlah di sekitar Masjid Salman ITB saat sore hari. Tak hanya perkumpulan untuk belajar, banyak juga yang berkumpul untuk mengaji.

Berjalanlah di sekitar Masjid Salman ITB saat sore hari. Barangkali kau akan melihatku, tengah tersenyum menatapmu sambil berkata, “Hai.”

***

Aku melihat dua teman Rusaku, Nadif dan Kia, sedang berbincang di lapangan rumput, beralaskan karpet dan bermodalkan papan tulis. Aku menghampiri mereka.

“KLC ya?” tanyaku. Mereka mengangguk.

KLC, atau Karisma Leraning Center, merupakan suatu wadah bagi mahasiswa ITB untuk menyalurkan ilmunya kepada adik-adik SMP dan SMA. Mereka mengajar beberapa pelajaran dan membantu dalam mengerjakan PR milik sang adik. Semacam bimbel gitu.

Banyak dari temanku, khususnya anak Rusa yang menjadi pengajar di Karisma. Sebut saja Nadif, Kia, Zhafran, dan Zuffy. Sedangkan teman-teman Axiora ITB-ku lebih banyak yang memilih mengajar di badan semi-organisasi di bawah ITB, Skhole.

Kembali ke Karisma. Satu hal yang aku salut dari sistem pengajaran di Karisma adalah setiap sebelum kegiatan belajar-mengajar, ada satu ritual yang tidak boleh terlupakan. Yaitu tilawah. Yap, selain dengan doa, kegiatan bimbel Karisma juga dibuka dengan tilawah bersama. Para pengajar dan siswa yang diajar bergantian melantunkan ayat suci Alquran, sebagai keberkahan sebelum memulai suatu kegiatan.

Selain Karisma, satu hal lain yang ramai terlihat saat sore hari di Salman adalah halaqah. Bisa halaqah Alquran, atau halaqah mentoring biasa. Pernah kulihat beberapa siswa SMA duduk melingkar membaca Alquran dan mendengarkan materi dari seorang murabbiah yang notabene seorang mahasiswa. Pernah juga aku melihat beberapa anak SMA sedang menyetorkan hafalan kepada seseorang. Tentunya, yang aku lihat tidak hanya siswa SMA. Mahasiswa yang berkumpul dalam majelis ilmu dan Alquran pun lebih banyak lagi.

Aku merasa, visi Masjid Salman untuk membangun peradaban dimulai dari hal kecil ini. Masjid Salman tidak hanya menjadi tempat sholat biasa, namun juga menjadi pusat segala aktivitas. Belajar, kajian, halaqah, bahkan sampai pembinaan anak-anak pun dilakukan di Salman.

***

Berjalanlah di sekitar Masjid Salman ITB saat sore hari. Kau akan melihat, masa depan cerah Islam, Indonesia, dan dunia berawal dari sini.

Aamiin.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Selasa, 26 September 2017

Usai subuh, aku berjalan menuju Masjid Al-Muhajirin yang terletak tidak jauh dari rumah (asrama Rusa Muda, red). Hanya sekitar 30 meter dari gerbang depan. Setiap selasa, terdapat agenda rutin pembinaan fiqih dari Masjid Salman ITB yang bertempat di masjid bernuansa biru tersebut. Tepatnya berada di lantai dua, bersama rusa-rusa lainnya.

Naik ke lantai dua, aku melihat teman-temanku sedang menggelar karpet untuk duduk. Batang hidung anak lelaki belum terlihat. Rusa satu mungkin baru selesai sholat di Masjid Al-Iman, sedangkan Rusa dua sepertinya baru kembali dari Masjid Manunggal.

Waktu menunjukkan pukul 04.55. Baru Nadif dan Furqon yang datang. Aku tidak membawa HP, apalagi buku pelajaran. Sembari menunggu, kubuka Alquranku, membuka surah Al Baqarah juz 3 dan mulai membacanya. Teduh, salah satu temanku–yang merupakan kakak kelas adikku di MAN 2 Serang–terlihat mengantuk dan menidurkan kepalanya pada pahaku. Hampir semua temanku melakukan hal yang sama. Mereka membuka Alquran dan mulai melantunkan ayat-ayat suciNya.

Aku terhanyut dalam bacaanku. Lama sekali rasanya tidak mengaji sebanyak ini dalam sekali duduk. Aku tidak tahu suaraku terlalu keras atau tidak (karena semakin banyak anak laki-laki yang datang), dan aku tidak memedulikan itu. Ketika aku mengaji, aku merasa tidak bisa berhenti. Seolah Alquran memuntahkan kerinduannya terhadap bacaanku yang membuatku tidak ingin mengakhiri membacanya. Seakan Alquran meluapkan kekesalannya kepadaku yang belum bisa mengaji sebanyak yang biasa kulakukan di Masjid Ulil Albab dulu.

“Nad,” Teduh terbangun, aku menatapnya. “Aku gak pernah lho ngaji sebanyak dan selama kamu,” ungkapnya.

Aku tersenyum. Namun dalam hati, aku merasa teriris. Dahulu, hampir setiap habis sholat lima waktu aku membuka Alquranku, duduk di pojokan dan bermesraan dengannya. Sekarang, aku baru bisa melantunkannya sebelum subuh, sebelum dan sesudah dzhuhur, dan setelah asar. Setelah maghrib mungkin bisa dihitung jari, entah karena aku dalam perjalanan pulang dari kampus atau makan malam bersama di rumah. Setelah isya apalagi. Aku sudah sibuk dengan aktivitas lain.

Aku masih terus mengaji hingga pukul 05.25, tepat saat Pak Yayat, pemateri fiqih tiba dan memulai kajian mengenai dasar-dasar ilmu fiqih dan sumber hukumnya.

***

Masih di hari yang sama, saat pelajaran fisika, 10 menit sebelum kelas berakhir. Tepatnya pukul 10.30. Aku sedang mendengarkan Bu Neni menerangkan materi tentang usaha dan energi, ketika tiba-tiba teman sampingku, Hanafi, memanggilku.

“Nadhira,” panggilnya. Aku menoleh.

“Iya, apa?” tanyaku.

“Habis ini mau kemana? Ke Salman?” Hanafi balik bertanya.

“Iya,” jawabku.

“Nanti bareng ya ke Salmannya,” pinta Hanafi.

“Okeee!” aku mengiyakan.

“Ih, tahu gak sih, Nad, kemarin aku seneng banget lho, sempat sholat dhuha. Udah lama banget gak sholat dhuha... Biasanya pas libur doang,” tiba-tiba Hanafi bercerita dengan muka sumringah.

“Ayo, hari ini harus sholat dhuha juga!” seruku.

Kemudian aku berpikir. Selama kuliah ini, alhamdulillah aku dapat melaksanakan sholat dhuha. Senin-Selasa-Rabu aku keluar kelas pukul 11 kurang. Biasanya, aku dan beberapa temanku langsung bergegas menuju Masjid Salman untuk melaksanakan sholat dhuha sekaligus menunggu adzan dzhuhur berkumandang.

Memang sih, aku seringnya sholat dhuha 25-30 menit sebelum dzhuhur. Berbeda dengan semasa di IC dahulu, aku selalu sholat dhuha sebelum masuk sekolah. Karena aku masuk kuliah jam 7 dan perjalanan rumah-kampus cukup jauh (belum ditambah macet), maka aku tidak bisa menyempatkan diri untuk sholat dhuha sebelum berangkat. Khusus hari Kamis, aku masuk pukul 07.30, yang memungkinkanku untuk melaksanakan sholat dhuha di rumah. Sedangkan hari Jumat, jika aku sedang jadwal praktikum, aku bisa melaksanakannya setelah praktikum selesai, sekitar pukul 10an. Jika tidak praktikum, tentu saja libur dan aku bisa melakukannya di rumah.

Seketika aku teringat. Bila ada suatu hadis yang berkata bahwa sholat dhuha dapat membukakan pintu rezeki, bagiku, bisa melaksanakan sholat dhuha saja sudah menjadi rezeki tersendiri.

Kelas fisika sudah selesai. Aku mengambil tas dan botol minumku (yang selalu kubawa tiap hari, hehe), keluar kelas, turun tangga dari Gedung Kuliah Umum (GKU) Barat yang bikin pusing, dan berjalan beriringan menuju Salman, bersama teman-teman seperjuangan pencuri waktu sholat dhuha, yaitu Titi, Shifa, Fira, Hanafi, Irsyad, Firqi, dan Syafrul.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Rabu, 6 September 2017

Gawang sepakbola menjadi tempat bersandarku sore itu. Pukul 15.00, cuaca di Sarana Olahraga (Saraga) ITB cukup mendung. Pelajaran olahragaku sudah selesai. Sedangkan anak laki-laki kelasku masih diam di lapangan hendak bermain sepakbola.

“Hei, kenapa belum mulai main bola?! Kalau gak mulai sekarang, lari empat putaran lagi!” suara dosen pengganti Pak Doddy menggelegar kencang.

“Adzan, Pak,” ujar salah seorang dari anak laki-laki. Aku tertegun. Padahal, suara adzan tidak begitu terdengar dari lapangan Saraga. Aku juga tidak ingat siapa yang mengucapkannya. Yang jelas, setelah itu, bapak dosen pengganti berkata, “Oh iya, maaf.”

Pukul 15.30, permainan sepakbola berhenti. Aku juga masih nongkrong di bawah gawang (yang tidak dipakai tentunya), sambil mendinginkan badan yang penuh keringat akibat tes kebugaran fisik, sekaligus menunggu Guntur sang ketua kelas membagikan kartu latihan mandiri olahraga yang telah dikumpulkan.

“Jangan lupa, jam setengah lima nanti ada kumpul angkatan di Lapcin (Lapangan Cinta-red) ya,” pesan Guntur.

Aku bertanya kepada beberapa temanku. “Eh, gimana nih, badanku masih basah, sholat asarnya gimana?”

“Pakai baju yang tadi aja, aku sih ada,” usul salah satu temanku, Irsyad. Aku mengangguk. “Yuk, ke Salman. Udah jam setengah empat lebih,” lanjutnya.

Akhirnya, aku dan beberapa temanku berjalan dari Saraga ke ITB kemudian melanjutkan ke Salman. Di gerombolanku ada Imel, temanku yang non muslim. “Mel, mau nunggu dimana?” tanyaku.

“Aku duduk di sini aja ya,” jawab Imel. Ia duduk di bangku dekat tempat wudhu akhwat.

Sebagai pasukan pengambil air minum di Salman, aku tawarkan sesuatu kepada Imel. “Mel, sekalian tuh ambil minum, gratis hehe,” kataku sambil tertawa. Imel membalas dengan tawa juga.

Setengah lima lebih kami sampai di Lapcin dan forum angkatan baru saja mulai. Hingga maghrib hampir tiba, forum pun berakhir. Suara adzan Salman terdengar dari tempatku berada. Aku menghampiri temanku. “Syad, Salman, kan?” tanyaku. Irsyad mengangguk.

“Yuk, biar dapat jama’ah,” katanya.

Pulang dari Salman menuju rumah, qadarullah aku seangkot dengan Irsyad, yang ternyata ngekos di daerah yang tak jauh denganku, Tubagus Ismail. Di tengah perjalanan, aku bertanya. “Syad, yang tadi itu qunut nazilah bukan?”

“Iya,” jawabnya.

“Kalau qunut nazilah itu bebas ya bacaannya?” tanyaku lagi.

“Bebas sih, tapi biasanya doa buat bencana,” jelasnya. “Tadi aja disebutin sama imam negara Palestina, Mesir, Libya, Myanmar, kan?”

Aku mengangguk. Sedetik kemudian, aku bersyukur menemukan teman sepertinya, juga beberapa lagi yang belum kusebut namanya.

***

Kamis, 7 September 2017

“Jangan lupa ya, hari ini ada orasi calon ketua angkatan di Amphiteater GKU Barat jam 15.15!” seseorang di kelasku mengingatkan, tepat setelah mata kuliah kimia berakhir. Kulirik jam tanganku. Jam tiga kurang lima menit. Kulirik lagi penunjuk waktu sholat di jamku. 15.05. Yah, bentar lagi ashar, batinku.

Aku melangkahkan kaki keluar gedung kuliah bersama Titi, temanku yang satu SMP dengan Ale dulu. Kami berjalan perlahan, menunggu teman-temanku yang lain bermunculan. Aku berjalan serombongan, sampai tiba di gedung Labtek V. Arah Amphiteater GKU Barat belok kanan dari tempatku berdiri. Aku dan Titi berhenti sejenak.

“Mau sholat dimana?” tanyaku.

“Salman aja, yuk,” jawab Irsyad.

Temanku yang lain berkata. “Di labtek V ada mushola kok. Biar acaranya cepet mulai juga.”

“Nggak, ah. Di Salman aja. Lebih enak di Salman sholatnya, lebih khusyuk,” lagi-lagi Irsyad yang berbicara.

Akhirnya beberapa dari kami berpisah. Empat temanku Imel, Sonita, Inggrid, dan Jontor (nama aslinya Joseph Pintor) yang memang non muslim berbelok ke kanan, juga Firqi yang menjadi panitia pemilihan ketua angkatan SAPPK 2017. Mau tak mau, ia memang harus sudah berada di lokasi sebelum teman-teman yang lain bermunculan. Jadilah aku, Titi, Irsyad, Hanafi, Hafidz (yang kebetulan ketemu di jalan, maklum tidak sekelas), Zufar, Syafrul, Yoda, dan Juangga berjalan menuju masjid seberang kampus ITB tersebut.

“Lebih baik telat datang orasi, daripada telat sholat,” ujar salah satu dari kami. Dan kami menjawabnya, “Masyaallah!”

Orasi calon ketua angkatan pun berlangsung (lagi-lagi) hingga beberapa menit sebelum maghrib. Ketiga calon–Haikal, Mayong, dan Guntur telah memaparkan visi dan misi mereka bila terpilih menjadi ketua angkatan SAPPK 2017.

Aku dan Titi berjalan menuju Salman kembali. Ditemani Sonita, Inggrid, Bella, Hanafi, Yoda, Yoga, Juangga, dan Andre. “Lah, si Irsyad sama Firqi kemana?” tanya Hanafi.

“Duluan kayaknya,” jawabku. “Hafidz mana?” kali ini aku yang bertanya.

“Dia kabur duluan tau, sama Tamam,” jawab Hanafi. Oh iya. Hanafi merupakan teman satu daerah dengan Tamam, dari Bojonegoro. Aku lupa mereka satu SMP atau bukan.

Di tengah perjalanan menuju Salman, Sonita berkata, “Eh, laper tau. Makan, yuk!” ajaknya.

“Iya nih, laper.”

“Mau makan, gak?” Sonita menyenggol bahuku.

“Buka puasa dulu,” jawabku.

“Bentar lagi, kan?” ucap Inggrid sambil melirik jam tangannya. Aku mengangguk.

Beberapa langkah sebelum keluar gerbang ITB, adzan maghrib berkumandang. Untungnya aku membawa minum. Biasa lah, mengisi di Salman. Jadi aku sempat berbuka dengan beberapa teguk air.

Di gerbang samping Masjid Salman, Sonita berhenti. “Duh, gua beneran laper, dah,” katanya.

“Ya sudah, makan aja sana,” ucapku.

“Ya udah, makan yuk!” celetuk Yoga.

“Lah bukannya lo harus sholat dulu?” tanya Inggrid pada Yoga. Aku terkikik. “Sholat dulu Mas-Mas yang muslim,” candaku. Lantas aku tersenyum. Dalam hati, entah mengapa aku bersyukur. Aku berterima kasih padaMu ya Allah telah membantu mengingatkan temanku untuk memenuhi panggilan adzan-Mu, bahkan lewat seorang non muslim sekalipun.

Aku dan Titi berjalan di selasar masjid, tanpa sengaja bertemu Irsyad yang baru saja keluar dari kantin Salman, memegang botol air mineral.

“Udah buka puasa?” tanyanya.

“Udah, kok,” jawabku. Sesaat kemudian, aku berpikir. Lah darimana dia tau aku puasa? Ah sudahlah.

Kemudian aku dan Titi melaksanakan sholat maghrib, dan dilanjutkan makan pecel lele bersama Sonita, Yoga, Kevin, dan Andre.

***

Mengapa aku menceritakan ini?

Dalam dua hari terakhir, aku mendapatkan banyak pelajaran. Aku bersyukur mempunyai teman dekat yang sepulang kuliah / sehabis kelas mengajakku ke Salman dan selalu berusaha melaksanakan sholat di awal waktu. Memang kebanyakan dari mereka merupakan laki-laki, karena tiga dari empat teman perempuan terdekatku di kelas merupakan non muslim.

Yang muslimah dan rajin ke Salman tentu saja ada, namun biasanya mereka pergi duluan, hingga aku tidak lagi melihat batang hidungnya. Teman-teman dekatku, para akhwat penghuni Masjid Salman rata-rata tidak sekelas, sehingga sulit untuk ke Salman bersma.

Satu hal lagi. Teguran dan kasih sayang Allah itu berbagai macam bentuknya. Bahkan seorang non muslim sekalipun dapat menjadi jalan dari Allah agar kita tidak melalaikan kewajiban kita sebagai hamba-Nya. Smoga Allah merahmati kalian. Aamiin.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Nadhira KA, 21. An architecture student who loves photography and proudly be as a Gooner.

Follow Us

  • twitter
  • instagram
  • behance

Categories

  • Nadhira dan Cinta Pertama
  • karena kita; Axiora
  • kehidupan ITB
  • kepingan kenangan

Blog Archive

  • ►  2023 (1)
    • ►  November 2023 (1)
  • ►  2020 (3)
    • ►  August 2020 (1)
    • ►  May 2020 (1)
    • ►  April 2020 (1)
  • ►  2019 (5)
    • ►  June 2019 (4)
    • ►  May 2019 (1)
  • ►  2018 (5)
    • ►  December 2018 (1)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  June 2018 (2)
    • ►  May 2018 (1)
  • ▼  2017 (45)
    • ►  December 2017 (3)
    • ►  November 2017 (1)
    • ►  October 2017 (2)
    • ▼  September 2017 (3)
      • Salman Sore Hari
      • Rezeki Pagi
      • Sepulang Kuliah
    • ►  August 2017 (1)
    • ►  July 2017 (15)
    • ►  June 2017 (5)
    • ►  May 2017 (14)
    • ►  February 2017 (1)
  • ►  2016 (39)
    • ►  December 2016 (1)
    • ►  November 2016 (3)
    • ►  September 2016 (3)
    • ►  August 2016 (3)
    • ►  July 2016 (6)
    • ►  June 2016 (6)
    • ►  May 2016 (4)
    • ►  April 2016 (7)
    • ►  March 2016 (2)
    • ►  February 2016 (3)
    • ►  January 2016 (1)
  • ►  2015 (46)
    • ►  December 2015 (8)
    • ►  November 2015 (2)
    • ►  September 2015 (4)
    • ►  August 2015 (6)
    • ►  July 2015 (3)
    • ►  June 2015 (4)
    • ►  May 2015 (1)
    • ►  April 2015 (3)
    • ►  March 2015 (5)
    • ►  February 2015 (8)
    • ►  January 2015 (2)
  • ►  2014 (24)
    • ►  December 2014 (7)
    • ►  November 2014 (4)
    • ►  October 2014 (12)
    • ►  September 2014 (1)

Facebook

ThemeXpose