• Home
  • About
  • Contact
    • Mail
  • She Talks Football
  • Untuk Nadhira
Powered by Blogger.
facebook twitter instagram

encyclopedhira

Salah satu acara dari rangkaian kegiatan I-CARE 2016 adalah donor darah, yang dilaksanakan pada hari Jumat, 23 April lalu. Banyak murid yang sengaja bolos masuk kelas untuk mencoba mendonorkan darahnya.

Begitu pula aku. Tekad yang satu ini sudah terbesit sejak setahun lalu, pada acara yang sama. Aku berazam bahwa tahun ini aku harus bisa donor darah karena sebelumnya aku ditolak PMI sebab tekanan darah sedikit rendah.

I will not explain you about what did I do in wisma (the place that the blood donor was held), but here I will tell you the story after the blood donor in the class.

Aku dan Vara datang ke kelas tepat setelah istirahat, sekitar jam 10:15. Pelajaran matematika dasar. Bu Arthi belum datang. Aku duduk di bangku favoritku--paling belakang, menenteng bingkisan yang diberikan PMI setelah donor.

Dan kisah pun dimulai.
"Ih gue gak bisa donor nih!" keluh Azmi.

"Habis Hb-mu rendah sih," ucapku.

"Aku juga gak bisa! Tekanan darahku rendah!" dengus Maul.

"Kasihan," hibur Tyas.

"Tau nih, sama PMI aja ditolak, apalagi sama dia," cerocos Azmi.

Uhuk. Aku terbatuk ketika meminum susu yang diberi PMI, dan sesaat kemudian tertawa.

***
"Eh, sebelum donor periksa apa aja deh?" tanya Amal.

"Periksa tekanan darah sama cek Hb doang," jawabku.

"Nggak periksa kolestrol sama gula?" tanya Amal lagi.

"Lo kira mau donor darah atau cek diabetes?!" geram Febi.

"Ya siapa tau donor darah bisa menguruskan badan."

Amal melirikku dan Febi.

***
Nadhira's iseng mode: on

"Depaaaaaaa (baca: Daffa), kok gak ikut donor?" celetukku.

Bukan Daffa yang menjawab, tapi Muflih. "Lo mau Daffa tambah lemes apa?"

Aku terkikik.

"Nggak sekalian tanya Rama, Dhir?" tambah Faris.

"Rama, kok nggak...."

Aku menutup mulutku, tak kuasa untuk melanjutkan.

***
Vara

"Aduh Tyas, habis donor nih, gak boleh ngangkat yang berat-berat."

"Bu Arthi, habis donor Bu. Gak boleh mikir yang berat-berat."

"Azmi, angkatin dong, habis donor, nih."

***
Edisi wali kelas kompor

Pelajaran Bu Arthi sudah mulai, dan Syafiq telat masuk kelas.

"Syafiq, kenapa telat?" tanya Bu Arthi.

"Habis donor, Bu," jawab Syafiq.

"Wah, tumben kamu senyum. Ibu jarang liat kamu senyum, lho. Apa perlu Syafiq donor darah terus supaya tersenyum?"

Seisi kelas berteriak, "Eaaaaa."

"Habis donor dikasih apa aja?" tanya Bu Arthi lagi.

"Susu, Pop Mie, sama Pocari Sweat, Bu," jawab Syafiq.

"Sama dikasih nomor HP suster-suster petugasnya, Bu," celetuk Arfan.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Sore ini, sesaat sebelum ulangan biologi,

Aku duduk di kursi guru, menggertukan nilai yang kudapatkan pada ulangan biologi sebelumnya, materi sistem saraf.

Well, I got 63. Hehe.

Aku sedikit merasa kesal karena 'orang itu' mendapatkan nilai hampir 85.

"Ish, pinter banget dah itu orang. Nilainya 84 koma sekian,"curhatku.

Febi, yang tengah berjalan ke kursi deretan belakang, menyahut.

"Iya lah, calon dokter nilai biologinya harus bagus!"

Aku hanya terkekeh.

Kemudian, Febi menyerocos kembali.

"Eh Dhir, pasangan fisika-biologi tuh keren ya.

Kayak Pak Nur sama Bu Etty, pasangan fisika-biologi olimpiade,

Tamam-Tamara juga come. Fisika-biologi. Namanya hampir sama pula.

Kalau Nadhira sama 'itu' sih... Hmm, pasangan fisika-biologi juga sih,

tapi...

tapi...

Nggak lucu aja."

Okaay, byeeeeeeeee.
Share
Tweet
Pin
Share
3 comments
Setelah 3 minggu menghilang, akhirnya kutemukan kau!

"Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu."
(QS. Ghafir: 60)

SD card kesayangan, terakhir kulihat adalah setelah perlombaan akustik Vellajuel 2016. Esoknya, aku sama sekali tidak bisa menemukan SD card yang kubeli seminggu sebelum Sonic Linguistic 2016.

Aku gelisah. Seriusan. That SD card is like a gold for me. That's a precious thing.

Aku berdoa, bahkan aku menyempatkan sholat hajat saat waktu Duha sebelum berangkat sekolah.

Hingga ketika homestay aku terpaksa meminjam SD card Jihan. Pun ketika aku memulangkampungkan kameraku. Tidak ada SD card  di dalamnya.

Tepat hari Kamis, 14 April 2016, saat adzan Asar berkumandang. Aku keluar dari kamar mandi masjid. Aku terperangah karena mendengar suara jejatuhan air hujan yang deras.

Aku teringat sesuatu. Salah satu doa yang diijabah Allah SWT. adalah saat hujan tiba.

Lalu aku berdoa. Ya Allah, mudahkanlah hamba mencari SD card hamba. Aku butuh, sebentar lagi i-Care....

Di kamar, sesaat setelah merendam baju untuk dicuci, aku duduk di kursi meja belajar, dan iseng mengambil buku 'Surat untuk Muslimah' yang diberikan Ziyad padaku sebagai hadiah ulang tahunku.

Aku melihat suatu halaman yang mempunyai 'jarak' yang bisa dibilang tidak normal bila disisipi pembatas buku.

Aku terperanjak. "YA ALLAH, MAKASIH YA ALLAH!"

Aku tak kuasa untuk berteriak menemukan SD card yang selama ini kucari di dalamnya. Bahkan aku tak ingat pernah menyimpannya di dalam buku tersebut.

Kekuatan doa memang dahsyat.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Tahu gak, kenapa anak Acafella sering menyebut-nyebut, "Jijik"?

Semua berawal ketika waktu mengerjakan UH Matdas materi statistika akan berakhir.

Daffa menghitung mundur, dari 10, 9, 8, dan seterusnya.

Aku duduk di paling belakang, hendak mengumpulkan soal dan jawaban.

Ketika aku berada di depan kelas, keluarlah niat iseng seorang Nadhira.

"Daffa, kalau countdown yang tegas dong. Gak kedengeran tau sampai belakang. Gimana, sih? Masa' kedis suaranya kecil? Pantas aja ya banyak yang telat, madol apalagi. Ckckck, gimana sih?!" cecarku.

Kemudian, Daffa menjawab,

"Apaan, sih. Udah udah, pindah sana, pindah!"

Seketika hening.

"Jijik!"

Daffa mengumpat (benarkah?) kepadaku.

Sedetik kemudian, Faishal tertawa terbahak-bahak.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Selamat datang, kami adalah penjual nasi goreng keliling bernama Acafella Manalagi! Dengan motto, just burn it, everywhere and everytime, dan buka 24 jam setiap harinya, nasi goreng ini ingin menunjukkan eksistensinya sebagai penjual nasi goreng terpanas di seluruh dunia. Dimana keduapuluh dua anggota Acafella Manalagi turut menyumbang sesuatu demi lancarnya penjualan nasi goreng tek-tek ini.

Ayo kita tengok satu-satu.

Dimulai dari komponen utama dalam membuat nasi goreng: Kompor!

Yang pertama, kompor pasti membutuhkan gas. Tyas-lah gas tersebut. Sebagai bahan bakar, ia tidak pernah kehabisan cadangan api untuk memasak nasi goreng.

Apinya sendiri merupakan Vara. Dari api merah sampai api biru yang paling panas, ia punya. Apinya sendiri hobi membakar barang-barang lain. Wajan, nasi, bawang, bahkan kerupuk pun ia bakar.

Penghubung antara gas dan kompornya—regulator—adalah Icha. Ia bisa mengarahkan mau dikemanakan apinya. Mau membakar wajan-kah, membakar nasi-kah, atau bahkan membakar abang-abang penjual nasi gorengnya.

Kompor pasti memiliki pemantik. Pemantiknya adalah Maul, yang bisa ia besar-kecilkan sesuka hati dengan kekuatan psikopatnya. Terkesan tidak berarti apa-apa, namun sekali diputar, wuush, apinya langsung membesar.

Memasak nasi goreng membutuhkan wajan. Keras, hitam, tidak bergeming walau digeser kanan-kiri, dan selalu terkena api. Yap, itulah Daffa! Si ketua kelas tahan banting!

Setelah wajan ditaruh di atas kompor, hal yang pertama dilakukan adalah memanaskan minyak. Supplier minyak nasi goreng tek-tek Acafella Manalagi adalah si Japanese-wanna-be boy, Arfan! Bisa melelehkan segala hal, bahkan mencipratkan minyaknya kepada orang lewat tak berdosa.

Komponen utama nasi goreng tentu saja: Nasi! Si anak kecil kebelet dewasa—Amil—lah yang menjadi nasi. Dimasak dan dibakar, tetapi malah menjadi enak (baca: keasyikan). Selalu bersama wajan, tidak bisa apa-apa. Yaa walaupun ia bisa menyerap minyak, sih.

Namanya nasi goreng, pasti butuh kecap. Si pemanis ini biasa membuat kerak di wajan, tapi si wajan—seperti biasa tetap menerima. Selain berfungsi membuat nasi goreng menjadi manis, Ziyad juga dapat meletup-letup jika terciprat minyak yang panas.

Satu lagi pelengkap si wajan: Spatula! Hobinya ya ngaduk-ngaduk nasi dan mukul-mukulin wajan kalau sedang keliling mencari pelanggan. Kalau sudah mukul-mukulin wajan, suaranya bisa memecah keheningan malam. Perkenalkan, spatula nasi goreng Tek-tek Acafella Manalagi, Amal! (plus Ichlasul, kadang-kadang)

Terkadang kalau gas hampir habis, nasi goreng tek-tek Acafella Manalagi membutuhkan kipas untuk memperbesar api di kompornya. Namun, tak hanya saat gas habis, hampir di setiap waktu Febi menggunakan kipasnya—tentunya, selain untuk membesarkan api—juga berfugsi buat ngadem.

Nasi goreng tidak lengkap tanpa bumbu. Bumbu-bumbu penyedap ini—yang membuat rasa nasi goreng menjadi asin dan gurih—adalah Syafiq. Tidak berperan langsung dalam proses bakar membakar, tetapi berperan langsung menambah cita rasa nasi goreng—beserta kompor dan gasnya.

Sedangkan Rama, hanyalah sebongkah batu (baca: anak kebumian) yang disimpan abang-abang penjual nasi goreng yang dipakai ketika tidak ada lagi nasi yang harus dimasak.

Diam-diam menambah rasa pedas pada nasi goreng. Bon Cabe level 22 namanya, Dhana orangnya. Sama seperti si bumbu, tidak berperan langsung dalam membakar, namun, jika sudah ditaburkan, pedas dan panasnya tiada terkira.

Selain bumbu, nasi goreng juga membutuhkan bawang-bawangan. Bawang putih dan bawang merah. Kedua jenis bawang ini biasa dimasak (baca: dibakar) langsung, ketika minyak sudah cukup panas, sebelum memasak nasi goreng. Merekalah pecinta kucing dan maniak novel, Faishal dan Inas.

Benda yang satu ini suka disimpan di mana saja. Dipakai hanya ketika pemantik tidak bisa bekerja. Dialah Adra, si korek api! Kalau tidak digesek dia tidak bergeming. Namun, kalau sudah menyala, panasnya menyamai apinya kompor.

Nasi goreng tidak bisa dimakan tanpa piring dan sendok. Piring dan sendok yang dipakai terbuat dari besi. Memang, Irun sih diam, tapi dengan sifat konduktornya, ia pun bisa panas bila didekatkan dengan api.

Yang tajam, cocok buat motong-motong, dan bisa terkonduksi panas—siapa lagi kalau bukan pisau. Selain bisa digunakan memotong kerupuk menjadi bubuk kecil, Muflih juga hobi memotong-motong wajan. Sesuai dengan slogannya, setajam silet.

Serpihan-serpihan kerupuk. Itulah Nadhira. Renyah (baca: garing) sih, tapi pasti dirindukan kalau makan nasi goreng. Bunyi kriuk-kriuknya menambah sensasi memakan nasi goreng yang panash dan pedash.

Jualan nasi goreng tidak afdol kalau tidak pakai gerobak. Dikemas dengan kata-kata yang menarik dan gambar yang menggugah selera, ditambah lagi kemampuan ala sales promotion girl, Salsa membuat jualan nasi goreng ini menjadi semakin laris.

Terkadang, ketika gas membucahkan seluruh isinya, pemantik mulai memutar posisi kompor menjadi maksimal, spatula sudah memukul-mukul wajan, (negara) api mulai menyerang, minyak mulai panas, dan kipas semakin memperbesar api, dibutuhkan pendingin—air untuk menetralkannya kembali. Faris, the most gentleman guy ever, merupakan sosok tepat untuk memadamkan kobaran api.

Dan terakhir,

Siapa yang ingin berkenalan dengan abang-abang penjual nasi goreng tek-tek ini? Si pengatur segalanya, mulai dari gas, api, minyak, spatula, nasi, bumbu, bahkan hingga sendok dan piringnya, semua dikuasai olehnya. Azmi, tak hanya jago dalam urusan bakar membakar, juga jago dalam urusan memengaruhi orang lain agar membeli nasi gorengnya. Bahkan, kalau ia sangat bersemangat, ia dapat memasak hingga membakar satu gerobak penuh!

Nah, keseluruhan elemen pembentuk ini saling bekerja sama membuat nasi goreng tek-tek Acafella Manalagi terkenal di seantero dunia—Insan Cendekia tepatnya.

Jadi, ada yang tertarik membeli nasi goreng tek-tek Acafella Manalagi?
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
I found this.

Jika ingin memotret subjek secara candid namun subjek memergoki anda sedang memotret dia, senyum saja. Subjek pasti akan membalas senyum.

Yakin bisa? Kayaknya aku langsung pasang tampang watados, deh.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Di perjalanan menuju rumah,

seorang Bunda berujar.

"Kak, nanti liburan bikin KTP ya."

Seketika aku lupa sudah 17 tahun.

Duh, tua ya.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Nadhira KA, 21. An architecture student who loves photography and proudly be as a Gooner.

Follow Us

  • twitter
  • instagram
  • behance

Categories

  • Nadhira dan Cinta Pertama
  • karena kita; Axiora
  • kehidupan ITB
  • kepingan kenangan

Blog Archive

  • ►  2023 (1)
    • ►  November 2023 (1)
  • ►  2020 (3)
    • ►  August 2020 (1)
    • ►  May 2020 (1)
    • ►  April 2020 (1)
  • ►  2019 (5)
    • ►  June 2019 (4)
    • ►  May 2019 (1)
  • ►  2018 (5)
    • ►  December 2018 (1)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  June 2018 (2)
    • ►  May 2018 (1)
  • ►  2017 (45)
    • ►  December 2017 (3)
    • ►  November 2017 (1)
    • ►  October 2017 (2)
    • ►  September 2017 (3)
    • ►  August 2017 (1)
    • ►  July 2017 (15)
    • ►  June 2017 (5)
    • ►  May 2017 (14)
    • ►  February 2017 (1)
  • ▼  2016 (39)
    • ►  December 2016 (1)
    • ►  November 2016 (3)
    • ►  September 2016 (3)
    • ►  August 2016 (3)
    • ►  July 2016 (6)
    • ►  June 2016 (6)
    • ►  May 2016 (4)
    • ▼  April 2016 (7)
      • Dibalik Donor Darah
      • Fisika-Biologi
      • Akhirnya Kutemukan!
      • Ji... jik?
      • Nasi Goreng Tek-Tek
      • Well, yeah
      • Coming Back to Home!
    • ►  March 2016 (2)
    • ►  February 2016 (3)
    • ►  January 2016 (1)
  • ►  2015 (46)
    • ►  December 2015 (8)
    • ►  November 2015 (2)
    • ►  September 2015 (4)
    • ►  August 2015 (6)
    • ►  July 2015 (3)
    • ►  June 2015 (4)
    • ►  May 2015 (1)
    • ►  April 2015 (3)
    • ►  March 2015 (5)
    • ►  February 2015 (8)
    • ►  January 2015 (2)
  • ►  2014 (24)
    • ►  December 2014 (7)
    • ►  November 2014 (4)
    • ►  October 2014 (12)
    • ►  September 2014 (1)

Facebook

ThemeXpose