• Home
  • About
  • Contact
    • Mail
  • She Talks Football
  • Untuk Nadhira
Powered by Blogger.
facebook twitter instagram

encyclopedhira

Di tengah gencarnya Indonesia mempertahankan kemerdekaannya dalam berbagai cara, 2 tokoh dari (mungkin) sekian orang Indonesia ini membelot kepada Belanda. Dialah R. Abdulkadir Wijoyoatmojo dan Sultan Hamid II.

1. R. Abdulkadir Wijoyoatmojo
Tokoh ini merupakan ketua delegasi Belanda dalam perjanjian Renville. Ia berpangkat kolonel KNIL dan kepala NICA. Ia juga sudah berdekatan lama dengan pihak Belanda. Hal itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa ia memihak Belanda dalam perjanjian Renville.
2. Sultan Hamid II
Tatap lambang pancasila yang terdapat di kelasmu. Tokoh ini adalah penggambar lambang garuda yang kita lihat setiap hari. Namun tahukan anda, bahwa ia pernah berhianat terhadap Indonesia? Sultan Hamid II merupakan menteri tanpa portofolio yang hanya megurusi acara kenegaraan dan lambang negara. Sebenarnya, ia ingin menjadi menteri pertahanan RI, berbekal lulusannya di akademi militer Belanda. Namun, Presiden Soekarno tak pernah menunjuknya. Ia heran, dan kecewa pastinya. 
Westerling, seorang Belanda, mengajak Sultan Hamid II untuk bergabung bersamanya, membentuk APRA (Angkatan Perang Ratu Adil). Bersama Westerling, Sultan Hamid memberontak di berbagai daerah. Ia bahkan pernah merencanakan pembunuhan terhadap Sultan Hamengkubuwono IX. Namun rencana itu gagal, dan Sultan Hamid II pun ditangkap dan diadili.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Para pahlawan Indonesia memang tiada duanya. Tak hanya dihormati di tanah air, namun mereka juga diabadikan di negeri orang. Tahukah kalian, bahwa banyak tokoh-tokoh Indonesia yang namanya dipakai sebagai nama jalan?

Mari simak penjelasannya di bawah ini.

1. Rue Soekarno, Rabat, Maroko
Diresmikan tanggal 2 Mei 1960. Yang lebih hebat lagi, jalan itu diresmikan oleh Presiden Soekarno sendiri. Raja Muhammad V sangat menghargai Presiden Soekarno, terlebih setelah aktif berperan di Konferensi Asia Afrika.

2. Mohammed Hatta Straat, Harleem, Belanda
Walaupun Belanda pernah menjajah Indonesia, tokoh yang satu ini bahkan diabadikan menjadi nama jalan di negeri kicir angin.
3. RA Kartini Straat, Utrecht, Belanda
Bahkan tokoh emansipasi wanita ini diabadikan di Belanda! Adakah nama jalan RA Kartini di Indonesia?
4. Sjahrir Straat, Leiden, Belanda
Tak hanya nama presiden dan wakil presiden yang dijadikan nama jalan, nama perdana menteri Indonesia ini pun menjadi salah satu kebanggaan negeri tercinta.
5. Munir Straat, Den Haag, Belanda
Ada yang tak tahu Munir? Kalau begitu, buka kembali buku-buku tentang perjuangan reformasi Indonesia tahun 1998.

6. Ahmad Soekarno Street, Mesir
Semua sudah tahu bahwa Mesir merupakan negara pertama yang mengakui negara Indonesia. Puncak hubungan harmonis ini terjadi ketika Raja Gamal Abdul Nasser mengabadikan nama presiden pertama Republik Indonesia ini sebagai nama jalan.

Bila di negara lain pahlawan-pahlawan Indonesia sebegitu dihargainya, apakah pahlawan kita dijunjung tinggi oleh bangsanya sendiri?

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Bukan Pak Erwin namanya jika tidak memberikan tugas unik untuk muridnya. Kali ini, salah satu guru sejarah MAN Insan Cendekia Serpong menyuruh murid-muridnya, secara berkelompok, untuk membuat teks proklamasi buatan sendiri.

Kami diberi waktu sekitar 30 menit untuk membuatnya. Jujur, untuk membuat 2 kalimat saja, hal tersebut sulit dilakukan. Kami berdebat, entah dengan pemilihan katanya, ataupun dengan makna yang terkanding di dalamnya.

Akhirnya, setelah 30 menit berpusing ria, jadilah teks proklamasi karya Adra, Salsa, Maul, dan Nadhira.


Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Malam Jumat, 16 Agustus 1945. Suasana amat tegang di lantai dua rumah Laksamana Maeda. Berbagai tokoh Indonesia, dari golongan tua maupun muda, berdebat, berusaha memberikan kata-kata terbaik mereka untuk naskah pendeklarasian kemerdekaan Indonesia. Tak pelak Ir. Soekarno pun berpikir keras menyusun kata-katanya.

Usulan Mr. Ahmad Soebarjo untuk kalimat pertama naskah pendeklarasian kemerdekaan Indonesia diterima Bung Karno. Setelah merevisi sedikit kalimatnya, akhirnya jadilah kalimat pertama itu. Kami, bangsa Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.

Terinspirasi dari piagam deklarasi kemerdekaan Amerika Serikat, Moh. Hatta mengusulkan kalimat kedua naskah tersebut hendaknya berbicara tentang pemindahan kekuasaan. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasan dan lain lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jadilah kalimat tersebut.

Iwa Kusuma Sumantri, seorang ahli bahasa, dan bukan merupakan golongan tua ataupun muda, mengusulkan naskah tersebut dinamai teks proklamasi. Sebuah kata yang tak diambil dari bahasa Inggris, apalagi bahasa Arab. Asal kata proklamasi sendiri masih menjadi perdebatan, apakah itu merupakan kata asli bahasa Indonesia, atau diserap dari bahasa Yunani. Apapun jawabannya, orang-orang yang hadir setuju.

Peserta rapat dibuat bingung kembali. Kira-kira, siapakah yang berhak menandatangani naskah proklamasi ini? Datanglah Sukarni, seseorang dari golongan muda dengan usulan cerdasnya. "Bagaimana bila naskah ini ditandatangani oleh Bung Karno dan Bung Hatta, atas nama bangsa Indonesia?"

Semua orang saling berpandangan. Mereka menangguk, setuju. Naskah proklamasi yang ditulis oleh Soekarno kemudian diketik oleh Sayuti Melik, salah seorang dari golongan muda, yang membuat naskah tersebut menjadi naskah proklamasi Indonesia yang otentik, asli.

Berikut dilampirkan naskah proklamasi tulisan tangan Ir. Soekarno dan ketikan Sayuti Melik.




Catatan: Cerita pendek ini dibuat berdasarkan catatan sejarah, dan apa yang disampaikan oleh Pak Erwin. Beberapa kalimat mungkin dibuat untuk memperindah alur. Bila ada sesuatu yang mungkin melenceng dari kejadian sebenarnya, silakan memberi tahukan kepadaku. Terima kasih.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Kembali lagi, dengan hari-hari yang dipenuhi catatan sejarah di muka bumi ini.


Badan semi militer bentukan Jepang:
a.       Seinendan: Barisan pemuda; Melatih para pemuda agar dapat menjaga dan mempertahankan tanah air
b.      Fujinkai: Himpunan wanita; Memberikan latihan kemiliteran pada wanita berusia minimal 15 tahun
c.       Keibodan: Barisan pembantu polisi; Bertugas membantu polisi
d.      Shuisintai: Barisan pelopor; Untuk menanamkan semangat nasionalisme kepada pemuda
e.      Kaikyo Seinen Teishintai: Tentara cadangan Jepang; Menjaga bahaya udara dan menguatkan usaha untuk kepentingan perang
f.        Gakukotai: Barisan pelajar; Menanamkan semangat kemiliteran untuk pelajar
g.       Jibakutai: Barisan berani mati
h.      Jawa Hokokai: Mengumpulkan pajak dan hasil bumi kepada Jepang



Alasan bendera Indonesia berwarna merah dan putih:
a.       Bendera berwarna merah dan putih dikibarkan ketika Prabu Jayakatwang bertempur melawan Kertanegara dari Singosari
b.      Bendera berwarna merah dan putih dikibarkan dalam upacara hari kebesaran raja Majapahit
c.       Bendera perang Sisingamangaraja IX menggunakan warna merah dan putih
Intinya, warna merah dan putih sudah dipakai di Nusantara sejak zaman dahulu kala, dari zaman kerajaan Hindu-Buddha, sekitar 6000 tahun yang lalu, menurut Moh. Yamin.



Rancangan dasar negara yang paling mirip dengan Pancasila:
                Menurut saya, dari ketiga tokoh perumus dasar negara, yaitu Mr. Moh. Yamin, Mr. Soepomo, dan Ir. Soekarno, yang paling mendekati kemiripannya dengan dasar negara republik Indonesia sekarang, Pancasila, ialah rancangan milik Mr. Moh. Yamin. Mulai dari rancangan terucap, maupun tertulisnya.
                Rancangan terucapnya, adalah sebagai berikut:
1.       Peri kebangsaan
2.       Peri kemanusiaan
3.       Peri ketuhanan
4.       Peri kerakyatan
5.       Kesejahteraan rakyat
Peri kebangsaan, bermakna sama dengan sila ketiga Pancasila, persatuan Indonesia. Peri kemanusiaan, sejalan dengan sila kedua Pancasila, kemanusiaan yang adil dan beradab. Peri ketuhanan, memiliki arti yang sama dengan Ketuhanan yang Maha Esa. Adapun peri kerakyatan, menjunjung tinggi prinsip demokrasi, sesuai dengan sila keempat Pancasila.
Rancangan tertulis milik Moh. Yamin bahkan seperti fotokopi dari Pancasila. Kelima asas yang beliau kemukakan hampir  tak ada bedanya dengan Pancasila yang sekarang.
Berikut rancangan tertulis dasar negara milik Moh. Yamin:
1.       Ketuhanan yang Maha Esa
2.       Kebangsaan persatuan Indonesia
3.       Rasa Kemanusiaan yang adil dan beradab
4.       Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
5.       Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
It's been a long day, without you my friend
And I'll tell you all about it when I see you again

Long time no see you. It's been two weeks I think.
*talks to my laptop*

Okay okay, seriously I missed my laptop. Since 28th of July, I didn't open it. Even touch it. And finally, I open it again, hoho.

I'm sitting here, at the second floor of RKB building, in my new class, XI MIPA 4!

Welcome back to the reality, Nadhira. Welcome back to the time when all you have to do is struggling hard with lessons. I have new classmates, now mixing with boys.

I'm in one class with Azmi, my ex-roommate. *suddenly miss daun* I'm in one class too with Irun, illegal members of 112 J, lol. My Beremix mates, Dhana and Adra, are in one class to with me.

In X MIA 6, my absent number is 6, from 14 students. And in XI MIPA 4, my absent number is... 20, among 22 students.

Talking about absent, my one-number-earlier-than-my-absent is someone who I can't talk about. Sighs. A boy, vice leader of this class, the one who... afraid of me huh?

Pfft. I hope, I will have better communication be in one class with him. Hello, Gale S., do you read this? Hehe.

Well, I have English task to do. See you later!

But now, we're 118.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Nadhira KA, 21. An architecture student who loves photography and proudly be as a Gooner.

Follow Us

  • twitter
  • instagram
  • behance

Categories

  • Nadhira dan Cinta Pertama
  • karena kita; Axiora
  • kehidupan ITB
  • kepingan kenangan

Blog Archive

  • ►  2023 (1)
    • ►  November 2023 (1)
  • ►  2020 (3)
    • ►  August 2020 (1)
    • ►  May 2020 (1)
    • ►  April 2020 (1)
  • ►  2019 (5)
    • ►  June 2019 (4)
    • ►  May 2019 (1)
  • ►  2018 (5)
    • ►  December 2018 (1)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  June 2018 (2)
    • ►  May 2018 (1)
  • ►  2017 (45)
    • ►  December 2017 (3)
    • ►  November 2017 (1)
    • ►  October 2017 (2)
    • ►  September 2017 (3)
    • ►  August 2017 (1)
    • ►  July 2017 (15)
    • ►  June 2017 (5)
    • ►  May 2017 (14)
    • ►  February 2017 (1)
  • ►  2016 (39)
    • ►  December 2016 (1)
    • ►  November 2016 (3)
    • ►  September 2016 (3)
    • ►  August 2016 (3)
    • ►  July 2016 (6)
    • ►  June 2016 (6)
    • ►  May 2016 (4)
    • ►  April 2016 (7)
    • ►  March 2016 (2)
    • ►  February 2016 (3)
    • ►  January 2016 (1)
  • ▼  2015 (46)
    • ►  December 2015 (8)
    • ►  November 2015 (2)
    • ►  September 2015 (4)
    • ▼  August 2015 (6)
      • Ia dan Ia, yang Menghianati Indonesia
      • Pahlawan Indonesia yang Namanya Diabadikan sebagai...
      • Sekedar Tugas: Proklamasi Buatan Sendiri
      • Detik-Detik Menuju Proklamasi
      • Secarik Tugas Sejarah
      • Hello Second Grader!
    • ►  July 2015 (3)
    • ►  June 2015 (4)
    • ►  May 2015 (1)
    • ►  April 2015 (3)
    • ►  March 2015 (5)
    • ►  February 2015 (8)
    • ►  January 2015 (2)
  • ►  2014 (24)
    • ►  December 2014 (7)
    • ►  November 2014 (4)
    • ►  October 2014 (12)
    • ►  September 2014 (1)

Facebook

ThemeXpose