"We do not buy superstars. We make them."
-Arsene Wenger
Happy belated birthday.
Congratulations for becoming older.
Be older be wiser yap.
Hope your dreams will come true.
Be more sholeh.
Be more dilligent.
Be more and more.
Success for your study here.
Success for your imtaq division.
Success for being a class leader until this semester is ended.
Keep becoming my motivation. bleh.
Wish you nothing but the best, abi.
Congratulations for becoming older.
Be older be wiser yap.
Hope your dreams will come true.
Be more sholeh.
Be more dilligent.
Be more and more.
Success for your study here.
Success for your imtaq division.
Success for being a class leader until this semester is ended.
Keep becoming my motivation. bleh.
Wish you nothing but the best, abi.
Tomorrow I'll have Arabic exam
And I haven't studied yet
And I haven't finished my homework
And Physics' last tasks
And Indonesian too
KBYE
And I haven't studied yet
And I haven't finished my homework
And Physics' last tasks
And Indonesian too
KBYE
Puisi ini dibuat ketika UAS semester 1 mata pelajaran bahasa Indonesia. Aspek yang dinilai pada pembuatan puisi ini lebih ditekankan kepada majas.
Puisi ini merupakan karya dari salah seorang temanku, Haris. Alasan aku ingin mengepost puisinya ialah karena aku suka dengan pilihan kata dalam puisi tersebut.
Bahaya Korupsi
Karya
Haris Abdul Majid
Disaat uang menjadi tuhan
Disaat pangkat menjadi tujuan
Disaat jabatan menjadi buruan setan
Ketika segala lawan kau terjang
Semua rintangan kau lawan
Tanpa peduli siapa yang di belakang
Tanpa rasa bersalah dan kasihan
Kini
Tuhamu adalah uang, Tuhanmu adalah jabatan, kini Tuhanmu adalah
pangkat
Kau sembah tuhan-tuhan yang sesat
Kau acuhkan semua laknat
Tunggu saja
Tunggulah saat dimana tuhan-tuhanmu
datang melaknat
Menjemput ajalmu tanpa iringan doa malaikat
Hingga tuhan-tuhanmu menjadikanmu hina dan rendah di mata
masyarakat
Maka tuhan-tuhanmu telah datang melaknat
Menjadikanmu sampah masyarakat
Karena ketamakanmu wahai koruptor, ketamakan kalian pada nikmat
dunia sesaat
It’s
been more than 6 months since the first time I stayed in holy jail a.k.a
dormitory. I had never felt homesick – err maybe just a little miss my parents
and sisters teehee. There were so many memories that I had from living in dorm.
A dormitory is a bit different from a house, because you don’t stay with parents in dorm. And the main thing is YOU CAN’T BRING YOUR PHONE, ha-ha-ha. But that’s no problem! Masih banyak hal yang lebih menarik dari sebuah kotak kecil berwarna bergambar berkamera dan berinternet itu. Have you ever felt so close with your friends when phone is around you? It must be no, right. Perhatian kita bakal tersita oleh HP. I know it for sure.
Have you ever felt the hilarious mabit? Menginap sehari di sekolah, seru kan? Chit chat with friends until midnight, atau bahkan gak tidur sama sekali. Seakan-akan tidak akan ada yang habis untuk dibicarakan dengan teman seperjuangan. Belajar bersama, mengerjakan tugas hingga larut malam, saling membangunkan kalau ada teman yang mengantuk, dan lain sebagainya.
Belajar, belajar, belajar. No parents doesn’t mean you don’t study. Apalagi di sekolahku, yang bila kau tidak masuk sehari berasa tidak masuk berminggu-minggu. I’ve felt it. I joined training for facing OSK and left the class for one week. When I entered back to class, I felt what-the-hell-the-lesson-is, especially chemistry lesson. And I hadn’t done some exams. Rawr. Well yeah it happens to me right now. So, doakan aku supaya bisa mengejar materi dengan baik ya. Hehe.
Jika musim ulangan harian, yang terkadang one day can up to 4 examinations, kopi dan mie menjadi teman sejati. But I don’t do that hee. Atau radio maupun music box menjadi penghias belajar mandiri. Terlebih jika musim UTS/UAS, buku-buku dan slide presentasi banyak dibaca di masjid. Tetapi, aku menganut asas masjid-tempat-beribadah-mendekatkan-diri-kepada-Allah-dilarang-membawa-buku hahaha.
Ketika di rumah, saat musim UAS, sekolah pulang siang. Saat jam pulang sekolah aku harus segera kembali ke rumah. Kalau tidak, Bunda akan menasihatiku. Berbeda ketika aku di asrama. Aku boleh pulang kapan saja. Misal, pulang sekolah jam 3 sore. Langsung ke masjid dan melaksanakan sholat Ashar, setelah itu aku bebas untuk ke mana saja. Kembali ke asrama dan mencuci baju, mengunjungi perpustakaan, atau pergi ke koperasi tentu saja dilegalkan.
I’m the kind of kid that most of time staying at house. Aku tidak pernah keluar rumah, apalagi untuk sekedar jalan-jalan bersama teman. Namun di sini, setiap hari aku keluyuran saat malam hari. Of course, I go to masjid everyday hee. Atau mungkin teaching ke rumah guru dekat lapangan. And the way I go there usually dark.
Satu hal yang pasti, jauh dari orang tua tiada enaknya. When I’m down and feel like want to give up, there is no Ayah or Bunda that I can hug and cry on their shoulders. Tetapi, ketika tiada tempat untuk bersandar, selalu ada tempat untuk bersujud. So I pray, pray, and pray the best for me and for them. Eww.
Prinsip ekonomi sangat dibutuhkan when living in dormitory. Mulai dari perencanaan anggaran, hingga penghambur-hamburan anggaran tersisa harus jelas. Maksudnya, aku dituntut untuk bisa mengatur uang. Setidaknya dalam dua minggu, sebelum aku dijenguk kembali oleh orang tuaku, aku harus bisa mengatur uang yang diberikan Bunda dengan baik. Terlebih dengan banyaknya kas yang harus kubayar haha.
The one that I missed so much is watching football ha-ha-ha. Oh I miss my Arsenal that much. I can only know about theirs news from newspapers, or internet if I have time.
With those differences, both of dorm and house have similarity. Both of them are home. Define home; A place where your heart belongs. Kesulitan berada di asrama akan selalu ada, tetapi duka akan selalu dikalahkan oleh rasa suka, rasa nyaman, dimana aku punya keluarga baru di sini, Axiora Vandernata Eternallic, bersama 119 anak lainnya yang insyaallah cerdas, sholeh/ah, dan tentunya unik.
Peristiwa masuknya
agama dan kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia pada abad pertama masehi membawa
pengaruh yang sangat penting. Peristiwa tersebut menandai berakhirnya zaman prasejarah
Indonesia dan memasuki zaman sejarah serta membawa perubahan dalam susunan
masyarakat dan kebudayaan yang berkembang di Indonesia.
Proses masuknya
pengaruh budaya India ke Indonesia, sering disebut penghinduan. Pada dasarnya
istilah ini sebenarnya kurang tepat, karena disamping agama Hindu, masuk pula
agama Budha. Proses ini terjadi didahului adanya hubungan Indonesia dengan
India, sebagai akibat perubahan jalur perdagangan dari jalur tengah (sutera)
berganti ke jalur pelayaran (rempah-rempah. Hal ini didasarkan bukti
peninggalan arca dan prasasti di Indonesia. Sedangkan di India terdapat karya
sastra, diantaranya kitab Jataka, Ramayana dan Raghuwamsa. Kitab Jataka berisi
kisah perjalanan Budha yang menjumpai Swarnabhumi. Kitab Ramayana terdapat
istilah Jawadwipa dan Swarnabhumi. Kitab Raghuwamsa karya Kalisada tentang
perdagangan India yang menyebutkan Dwipantara sebagai asal bahan perdagangan
cengkih atau lavanka.
Datangnya agama Hindu dan Budha ke Nusantara membawa pengaruh terhadap semua aspek
kehidupan bangsa Indonesia, yakni terjadinya perubahan perubahan menurut pola
Hindu-Budha. Perubahan-perubahan tersebut mencakup perubahan dalam
agama, bidang politik, ilmu pengetahuan, sosial dan seni budaya.
Berikut adalah dampak pengaruh agama Hindu-Budha di Indonesia.
1. Bidang politik dan pemerintahan
Munculnya kerajaan kerajaan Hindu dan Budha
seperti Sriwijaya, singasari, Mataram kuno,dan lainya. Sistem pemerintahan
mengikuti pola dari India yaitu kerajaan, dimana kekuasaan dipegang oleh raja
dan bersifat turun temurun. Pergantian penguasaan berdasarkan keturunan.
2. Bidang agama
Masyarakat di Indonesia yang semula menganut
animisme dan dinamisme beralih menjadi memeluk agama Hindhu dan Budha. meskipun demikian,
kepercayaan asli tidak hilang akibat tergeser oleh agama Hindhu dan Budha
3. Bidang ilmu pengetahuan
Di kenalnya sistem pengetahuan yaitu seperti
huruf pallawa dan bahasa Sansekerta menjadi pembuka jalan bagi perkembangan
ilmu dan pengetahuan. Para Brahmana berperan sebagai rohanaiwan sekaligus
ilmuwan
4. Bidang sosial
Sebelum masuk pengaruh Hindhu dan Budha,
stratifikasi sosial didasarkan pada profesi. Namun setelah masuk pengaruh
Hindhu dan Budha, sistem stratifikasi mengikuti ola dari india yaitu pembagian
masyarakat berdasarkan sistem kasta.
5. Bidang seni budaya
Pengaruh Hindhu Budha dalam bidang seni dan
budaya dapat dilihat dari penyelenggaraan upacara keagamaan seperti : seni
tari, seni sastra, sesaji, arsitektur pada bangunan candi dan seni relief.
sources:
http://www.sosiosejarah.com/2012/08/teori-masuknya-hindu-buddha-di-indonesia.html
http://www.gerbangilmu.com/2014/06/dampak-pengaruh-agama-hindu-budha-di.html
Sebelum datangnya Islam, kerajaan-kerajaan di Nusantara memahami kepercayaan Hindu dan Budha.
Teori tentang masuknya kebudayaan Hindu-Budha
di Indonesia pada dasarnya dapat dibagi dalam dua pandangan. Pendapat pertama
menekankan pada peran aktif dari orang-orang India dalam menyebarkan
Hindu-Budha. Pendapat kedua mengemukakan peran aktif
orang-orang Indonesia dalam menyebarkan agama Hindu-Budha di Indonesia.
1. Teori Waisya
Teori Waisya dikemukakan oleh NJ. Krom yang
menyatakan bahwa golongan Waisya (pedagang) merupakan golongan terbesar yang
berperan dalam menyebarkan agama dan kebudyaan Hindu-Budha. Para pedagang yang
sudah terlebih dahulu mengenal Hindu-Budha datang ke Indonesia selain untuk
berdagang mereka juga memperkenalkan Hindu-Budha kepada masyarakat Indonesia.
Karena pelayaran dan perdagangan waktu itu bergantung pada angin musim, maka
dalam waktu tertentu mereka menetap di Indonesia jika angin musim tidak
memungkinkan untuk kembali. Selama para pedagang India tersebut tinggal
menetap, memungkinkan terjadinya perkawinan dengan perempuan-perempuan pribumi.
Dari sinilah pengaruh kebudayaan India menyebar dalam kehidupan masyarakat
Indonesia.
2. Teori Ksatria
Teori Ksatria berpendapat bahwa penyebaran
kebudayaan Hindu-Budha yang dilakukan oleh golongan ksatria. Pendukung teori ini kebanyakan sejarawan India,
terutama Majumdar dan Nehru. Selain
itu, terdapat pula pendukung teori Ksatria yang lainnya, yaitu:
a. C.C. Berg menjelaskan bahwa golongan ksatria turut menyebarkan kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia. Para ksatria India ini ada yang terlibat konflik dalam masalah perebutan kekuasaan di Indonesia. Bantuan yang diberikan oleh para ksatria ini sedikit banyak membantu kemenangan bagi salah satu kelompok atau suku di Indonesia yang bertikai. Sebagai hadiah atas kemenangan itu, ada di antara mereka yang dinikahkan dengan salah satu putri dari kepala suku atau kelompok yang dibantunya. Dari perkawinannya itu, para ksatria dengan mudah menyebarkan tradisi Hindu-Budha kepada keluarga yang dinikahinya tadi. Selanjutnya berkembanglah tradisi Hindu-Budha dalam kerajaan di Indonesia.
a. C.C. Berg menjelaskan bahwa golongan ksatria turut menyebarkan kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia. Para ksatria India ini ada yang terlibat konflik dalam masalah perebutan kekuasaan di Indonesia. Bantuan yang diberikan oleh para ksatria ini sedikit banyak membantu kemenangan bagi salah satu kelompok atau suku di Indonesia yang bertikai. Sebagai hadiah atas kemenangan itu, ada di antara mereka yang dinikahkan dengan salah satu putri dari kepala suku atau kelompok yang dibantunya. Dari perkawinannya itu, para ksatria dengan mudah menyebarkan tradisi Hindu-Budha kepada keluarga yang dinikahinya tadi. Selanjutnya berkembanglah tradisi Hindu-Budha dalam kerajaan di Indonesia.
b. Mookerje mengatakan bahwa golongan ksatria dari
Indialah yang membawa pengaruh kebudayaan Hindu-Budha ke Indonesia. Para
Ksatria ini selanjutnya membangun koloni-koloni yang berkembang menjadi sebuah
kerajaan.
c. J.L.
Moens menjelaskan bahwa proses terbentuknya kerajaan-kerajaan di Indonesia pada
awal abad ke-5 ada kaitannya dengan situasi yang terjadi di India pada abad
yang sama. Sekitar abad ke-5, ada di antara para keluarga kerajaan di India
Selatan melarikan diri ke Indonesia sewaktu kerajaannya mengalami kehancuran.
Mereka itu nantinya mendirikan kerajaan di Indonesia.
d. FDK.
Bosch menggunakan istilah hipotesa ksatria. Menurut teori ini, peran utama
masuknya budaya India ke Indonesia adalah ksatria. Hal ini disebabkan di India
terjadi kekacauan politik yaitu perang brahmana dengan ksatria, para ksatria
yang kalah melarikan diri ke Indonesia. Mereka mendirikan kerajaan dan
menyebarkan agama Hindu.
3. Teori Brahmana
Teori ini dikemukakan oleh JC. Van Leur, FDK.
Bosch, dan OW. Wolters yang menyatakan bahwa agama
dan kebudayaan Hindu-Budha yang datang ke Indonesia dibawa oleh golongan
Brahmana (golongan agama) yang sengaja diundang oleh penguasa Indonesia.
Pendapatnya didasarkan pada pengamatan terhadap sisa-sisa peninggalan
kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Budha di Indonesia, terutama pada
prasasti-prasasti yang menggunakan Bahasa Sansekerta dan Huruf Pallawa. Di
India bahasa itu hanya digunakan dalam kitab suci dan upacara keagamaan dan
hanya golongan Brahmana yang mengerti dan menguasai penggunaan bahasa tersebut.
Orang Indonesia/ kepala suku aktif mendatangkan
brahmana untuk mengadakan upacara abhiseka secara Hindu, sehingga kepala suku
menjadi maharaja. Dalam perkembangannya, para brahmana akhirnya menjadi
purohito (penasehat raja).
Teori ini mempertegas bahwa hanya kasta
Brahmana yang memahami ajaran Hindu secara utuh dan benar. Para Brahmanalah
yang mempunyai hak dan mampu membaca kitab Weda (kitab suci agama Hindu)
sehingga penyebaran agama Hindu ke Indonesia hanya dapat dilakukan oleh
golongan Brahmana.
4. Teori Arus Balik
Teori ini dikemukakan oleh F.D.K Bosch yang
menjelaskan peran aktif orang-orang Indonesia dalam penyebaran kebudayaan
Hindu-Budha di Indonesia. Menurut Bosch, yang pertama kali datang ke Indonesia
adalah orang-orang India yang memiliki semangat untuk menyebarkan Hindu-Budha.
Karena pengaruhnya itu, ada di antara tokoh masyarakat yang tertarik untuk
mengikuti ajarannya. Pada perkembangan selanjutnya, banyak orang Indonesia
sendiri yang pergi ke India untuk berziarah dan belajar agama Hindu-Budha di
India. Sekembalinya di Indonesia, merekalah yang mengajarkannya pada masyarakat
Indonesia yang lain.
5.
Teori Nasional
Teori ini dikemukakan oleh JC. Van Leur, dimana sebagai dasar berpikir
adalah hubungan antara dunia maritim dengan perdagangan. Hubungan dagang
Indonesia dengan India yang meningkat diikuti brahmana untuk menyebarkan agama
Hindu dan Budha. Orang- orang Indonesia yang tertarik ajaran itu, mengirimkan
kaum terpelajar ke India untuk berziarah dan menuntut ilmu. Setelah cukup lama,
mereka kembali ke Indonesia dan ikut menyebarkan agama Hindu- Budha dengan
menggunakan bahasa sendiri. Dengan demikian, ajaran agama lebih cepat diterima bangsa Indonesia.
Teori ini juga dikemukakan oleh F.D.K. Bosch yang mengatakan
bahwa dalam proses penyebaran agama Hindu ini, bangsa Indonesia berperan sangat
aktif. Setelah dinobatkan sebagai seorang Hindu, mereka kemudian giat
menyebarkan agama Hindu dan segala aktivitasnya. Pendapatnya ini didasarkan
pada temuan adanya unsur-unsur budaya India dalam budaya Indonesia. Menurutnya,
pada masa itu telah terbentuk golongan cendekiawan yang disebut
"Clerk". Proses akulturasi antara budaya Indonesia dan India
disebutnya sebagai proses penyuburan. Hal-hal yang dilakukan para brahmana di
Indonesia dalam rangka penghinduan, antara lain,
a.
Abhiseka,
yaitu upacara penobatan raja,
b.
Vratyastoma,
yaitu upacara pencucian diri (pemberian kasta),
c.
Kulapanjika,
yaitu memberikan silsilah raja, dan
d. Castra, yaitu cara membuat mantra.
d. Teori Sudra
Teori
ini menyatakan bahwa agama Hindu masuk ke Indonesia dibawa oleh kasta sudra.
Mereka datang ke Indonesia dengan tujuan mengubah kehidupan karena di India
mereka hanya hidup sebagai pekerja kasar dan budak.
e. Teori campuran
Teori ini beranggapan
bahwa baik kaum brahmana, ksatria, para pedagang, maupun golongan sudra
bersama-sama menyebarkan agama Hindu ke Indonesia sesuai dengan peran
masing-masing.
http://www.ilmukaula.com/2014/01/teori-masuknya-agama-hindu-budha-di.html
http://sejarah-indonesiaraya.blogspot.com/2011/04/teori-masuknya-hindu-budha-di-indonesia.html
http://www.slideshare.net/sorakokaze/tugas-sejarah-34256918
http://www.tuanguru.com/2012/08/teori-masuknya-hindu-budha-ke-indonesia.html

