• Home
  • About
  • Contact
    • Mail
  • She Talks Football
  • Untuk Nadhira
Powered by Blogger.
facebook twitter instagram

encyclopedhira

"We do not buy superstars. We make them."
-Arsene Wenger

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Happy belated birthday.
Congratulations for becoming older.
Be older be wiser yap.
Hope your dreams will come true.
Be more sholeh.
Be more dilligent.
Be more and more.
Success for your study here.
Success for your imtaq division.
Success for being a class leader until this semester is ended.
Keep becoming my motivation. bleh.
Wish you nothing but the best, abi.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
from left to right: Kak Uqi, Kak Tyas, Kak Nia, Kak Ummah... and me.

Akhwat's Journalistic division of OSIS.
But minus Jihan. :"
Still trying to find our full photos.
Peter Parker, jjang!
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Tomorrow I'll have Arabic exam
And I haven't studied yet
And I haven't finished my homework
And Physics' last tasks
And Indonesian too




KBYE
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Puisi ini dibuat ketika UAS semester 1 mata pelajaran bahasa Indonesia. Aspek yang dinilai pada pembuatan puisi ini lebih ditekankan kepada majas.

Puisi ini merupakan karya dari salah seorang temanku, Haris. Alasan aku ingin mengepost puisinya ialah karena aku suka dengan pilihan kata dalam puisi tersebut.

Bahaya Korupsi
Karya Haris Abdul Majid

Disaat uang menjadi tuhan
Disaat pangkat menjadi tujuan
Disaat jabatan menjadi buruan setan

Ketika segala lawan kau terjang
Semua rintangan kau lawan
Tanpa peduli siapa yang di belakang
Tanpa rasa bersalah dan kasihan

Kini
Tuhamu adalah uang, Tuhanmu adalah jabatan, kini Tuhanmu adalah pangkat
Kau sembah tuhan-tuhan yang sesat
Kau acuhkan semua laknat

Tunggu saja
Tunggulah saat dimana tuhan-tuhanmu datang melaknat
Menjemput ajalmu tanpa iringan doa malaikat
Hingga tuhan-tuhanmu menjadikanmu hina dan rendah di mata masyarakat
Maka tuhan-tuhanmu telah datang melaknat
Menjadikanmu sampah masyarakat
Karena ketamakanmu wahai koruptor, ketamakan kalian pada nikmat dunia sesaat
Share
Tweet
Pin
Share
No comments


It’s been more than 6 months since the first time I stayed in holy jail a.k.a dormitory. I had never felt homesick – err maybe just a little miss my parents and sisters teehee. There were so many memories that I had from living in dorm.

A dormitory is a bit different from a house, because you don’t stay with parents in dorm. And the main thing is YOU CAN’T BRING YOUR PHONE, ha-ha-ha. But that’s no problem! Masih banyak hal yang lebih menarik dari sebuah kotak kecil berwarna bergambar berkamera dan berinternet itu. Have you ever felt so close with your friends when phone is around you? It must be no, right. Perhatian kita bakal tersita oleh HP. I know it for sure.

Have you ever felt the hilarious mabit? Menginap sehari di sekolah, seru kan? Chit chat with friends until midnight, atau bahkan gak tidur sama sekali. Seakan-akan tidak akan ada yang habis untuk dibicarakan dengan teman seperjuangan. Belajar bersama, mengerjakan tugas hingga larut malam, saling membangunkan kalau ada teman yang mengantuk, dan lain sebagainya.

Belajar, belajar, belajar. No parents doesn’t mean you don’t study. Apalagi di sekolahku, yang bila kau tidak masuk sehari berasa tidak masuk berminggu-minggu. I’ve felt it. I joined training for facing OSK and left the class for one week. When I entered back to class, I felt what-the-hell-the-lesson-is, especially chemistry lesson. And I hadn’t done some exams. Rawr. Well yeah it happens to me right now. So, doakan aku supaya bisa mengejar materi dengan baik ya. Hehe.

Jika musim ulangan harian, yang terkadang one day can up to 4 examinations, kopi dan mie menjadi teman sejati. But I don’t do that hee. Atau radio maupun music box menjadi penghias belajar mandiri. Terlebih jika musim UTS/UAS, buku-buku dan slide presentasi banyak dibaca di masjid. Tetapi, aku menganut asas masjid-tempat-beribadah-mendekatkan-diri-kepada-Allah-dilarang-membawa-buku hahaha.

Ketika di rumah, saat musim UAS, sekolah pulang siang. Saat jam pulang sekolah aku harus segera kembali ke rumah. Kalau tidak, Bunda akan menasihatiku. Berbeda ketika aku di asrama. Aku boleh pulang kapan saja. Misal, pulang sekolah jam 3 sore. Langsung ke masjid dan melaksanakan sholat Ashar, setelah itu aku bebas untuk ke mana saja. Kembali ke asrama dan mencuci baju, mengunjungi perpustakaan, atau pergi ke koperasi tentu saja dilegalkan.

I’m the kind of kid that most of time staying at house. Aku tidak pernah keluar rumah, apalagi untuk sekedar jalan-jalan bersama teman. Namun di sini, setiap hari aku keluyuran saat malam hari. Of course, I go to masjid everyday hee. Atau mungkin teaching ke rumah guru dekat lapangan. And the way I go there usually dark.

Satu hal yang pasti, jauh dari orang tua tiada enaknya. When I’m down and feel like want to give up, there is no Ayah or Bunda that I can hug and cry on their shoulders. Tetapi, ketika tiada tempat untuk bersandar, selalu ada tempat untuk bersujud. So I pray, pray, and pray the best for me and for them. Eww.

Prinsip ekonomi sangat dibutuhkan when living in dormitory. Mulai dari perencanaan anggaran, hingga penghambur-hamburan anggaran tersisa harus jelas. Maksudnya, aku dituntut untuk bisa mengatur uang. Setidaknya dalam dua minggu, sebelum aku dijenguk kembali oleh orang tuaku, aku harus bisa mengatur uang yang diberikan Bunda dengan baik. Terlebih dengan banyaknya kas yang harus kubayar haha.

The one that I missed so much is watching football ha-ha-ha. Oh I miss my Arsenal that much. I can only know about theirs news from newspapers, or internet if I have time.

With those differences, both of dorm and house have similarity. Both of them are home. Define home; A place where your heart belongs. Kesulitan berada di asrama akan selalu ada, tetapi duka akan selalu dikalahkan oleh rasa suka, rasa nyaman, dimana aku punya keluarga baru di sini, Axiora Vandernata Eternallic, bersama 119 anak lainnya yang insyaallah cerdas, sholeh/ah, dan tentunya unik.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Peristiwa masuknya agama dan kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia pada abad pertama masehi membawa pengaruh yang sangat penting. Peristiwa tersebut menandai berakhirnya zaman prasejarah Indonesia dan memasuki zaman sejarah serta membawa perubahan dalam susunan masyarakat dan kebudayaan yang berkembang di Indonesia.
Proses masuknya pengaruh budaya India ke Indonesia, sering disebut penghinduan. Pada dasarnya istilah ini sebenarnya kurang tepat, karena disamping agama Hindu, masuk pula agama Budha. Proses ini terjadi didahului adanya hubungan Indonesia dengan India, sebagai akibat perubahan jalur perdagangan dari jalur tengah (sutera) berganti ke jalur pelayaran (rempah-rempah. Hal ini didasarkan bukti peninggalan arca dan prasasti di Indonesia. Sedangkan di India terdapat karya sastra, diantaranya kitab Jataka, Ramayana dan Raghuwamsa. Kitab Jataka berisi kisah perjalanan Budha yang menjumpai Swarnabhumi. Kitab Ramayana terdapat istilah Jawadwipa dan Swarnabhumi. Kitab Raghuwamsa karya Kalisada tentang perdagangan India yang menyebutkan Dwipantara sebagai asal bahan perdagangan cengkih atau lavanka.
Datangnya agama Hindu dan Budha ke Nusantara membawa pengaruh terhadap semua aspek kehidupan bangsa Indonesia, yakni terjadinya perubahan perubahan menurut pola Hindu-Budha. Perubahan-perubahan tersebut mencakup perubahan dalam agama, bidang politik, ilmu pengetahuan, sosial dan seni budaya.
Berikut adalah dampak pengaruh agama Hindu-Budha di Indonesia.

1. Bidang politik dan pemerintahan
Munculnya kerajaan kerajaan Hindu dan Budha seperti Sriwijaya, singasari, Mataram kuno,dan lainya. Sistem pemerintahan mengikuti pola dari India yaitu kerajaan, dimana kekuasaan dipegang oleh raja dan bersifat turun temurun. Pergantian penguasaan berdasarkan keturunan.

2. Bidang agama
Masyarakat di Indonesia yang semula menganut animisme dan dinamisme beralih menjadi memeluk agama Hindhu dan Budha. meskipun demikian, kepercayaan asli tidak hilang akibat tergeser oleh agama Hindhu dan Budha

3. Bidang ilmu pengetahuan
Di kenalnya sistem pengetahuan yaitu seperti huruf pallawa dan bahasa Sansekerta menjadi pembuka jalan bagi perkembangan ilmu dan pengetahuan. Para Brahmana berperan sebagai rohanaiwan sekaligus ilmuwan

4. Bidang sosial
Sebelum masuk pengaruh Hindhu dan Budha, stratifikasi sosial didasarkan pada profesi. Namun setelah masuk pengaruh Hindhu dan Budha, sistem stratifikasi mengikuti ola dari india yaitu pembagian masyarakat berdasarkan sistem kasta.

5. Bidang seni budaya
Pengaruh Hindhu Budha dalam bidang seni dan budaya dapat dilihat dari penyelenggaraan upacara keagamaan seperti : seni tari, seni sastra, sesaji, arsitektur pada bangunan candi dan seni relief.


sources:
http://www.sosiosejarah.com/2012/08/teori-masuknya-hindu-buddha-di-indonesia.html
http://www.gerbangilmu.com/2014/06/dampak-pengaruh-agama-hindu-budha-di.html 
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Sebelum datangnya Islam, kerajaan-kerajaan di Nusantara memahami kepercayaan Hindu dan Budha.
Teori tentang masuknya kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia pada dasarnya dapat dibagi dalam dua pandangan. Pendapat pertama menekankan pada peran aktif dari orang-orang India dalam menyebarkan Hindu-Budha. Pendapat kedua mengemukakan peran aktif orang-orang Indonesia dalam menyebarkan agama Hindu-Budha di Indonesia.

1.  Teori Waisya
Teori Waisya dikemukakan oleh NJ. Krom yang menyatakan bahwa golongan Waisya (pedagang) merupakan golongan terbesar yang berperan dalam menyebarkan agama dan kebudyaan Hindu-Budha. Para pedagang yang sudah terlebih dahulu mengenal Hindu-Budha datang ke Indonesia selain untuk berdagang mereka juga memperkenalkan Hindu-Budha kepada masyarakat Indonesia. Karena pelayaran dan perdagangan waktu itu bergantung pada angin musim, maka dalam waktu tertentu mereka menetap di Indonesia jika angin musim tidak memungkinkan untuk kembali. Selama para pedagang India tersebut tinggal menetap, memungkinkan terjadinya perkawinan dengan perempuan-perempuan pribumi. Dari sinilah pengaruh kebudayaan India menyebar dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

2.  Teori Ksatria
Teori Ksatria berpendapat bahwa penyebaran kebudayaan Hindu-Budha yang dilakukan oleh golongan ksatria. Pendukung teori ini kebanyakan sejarawan India, terutama Majumdar dan Nehru. Selain itu, terdapat pula pendukung teori Ksatria yang lainnya, yaitu: 
a. C.C. Berg menjelaskan bahwa golongan ksatria turut menyebarkan kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia. Para ksatria India ini ada yang terlibat konflik dalam masalah perebutan kekuasaan di Indonesia. Bantuan yang diberikan oleh para ksatria ini sedikit banyak membantu kemenangan bagi salah satu kelompok atau suku di Indonesia yang bertikai. Sebagai hadiah atas kemenangan itu, ada di antara mereka yang dinikahkan dengan salah satu putri dari kepala suku atau kelompok yang dibantunya. Dari perkawinannya itu, para ksatria dengan mudah menyebarkan tradisi Hindu-Budha kepada keluarga yang dinikahinya tadi. Selanjutnya berkembanglah tradisi Hindu-Budha dalam kerajaan di Indonesia.
b. Mookerje mengatakan bahwa golongan ksatria dari Indialah yang membawa pengaruh kebudayaan Hindu-Budha ke Indonesia. Para Ksatria ini selanjutnya membangun koloni-koloni yang berkembang menjadi sebuah kerajaan.
c. J.L. Moens menjelaskan bahwa proses terbentuknya kerajaan-kerajaan di Indonesia pada awal abad ke-5 ada kaitannya dengan situasi yang terjadi di India pada abad yang sama. Sekitar abad ke-5, ada di antara para keluarga kerajaan di India Selatan melarikan diri ke Indonesia sewaktu kerajaannya mengalami kehancuran. Mereka itu nantinya mendirikan kerajaan di Indonesia.
d. FDK. Bosch menggunakan istilah hipotesa ksatria. Menurut teori ini, peran utama masuknya budaya India ke Indonesia adalah ksatria. Hal ini disebabkan di India terjadi kekacauan politik yaitu perang brahmana dengan ksatria, para ksatria yang kalah melarikan diri ke Indonesia. Mereka mendirikan kerajaan dan menyebarkan agama Hindu.

3.  Teori Brahmana
Teori ini dikemukakan oleh JC. Van Leur, FDK. Bosch, dan OW. Wolters yang menyatakan bahwa agama dan kebudayaan Hindu-Budha yang datang ke Indonesia dibawa oleh golongan Brahmana (golongan agama) yang sengaja diundang oleh penguasa Indonesia. Pendapatnya didasarkan pada pengamatan terhadap sisa-sisa peninggalan kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Budha di Indonesia, terutama pada prasasti-prasasti yang menggunakan Bahasa Sansekerta dan Huruf Pallawa. Di India bahasa itu hanya digunakan dalam kitab suci dan upacara keagamaan dan hanya golongan Brahmana yang mengerti dan menguasai penggunaan bahasa tersebut.
Orang Indonesia/ kepala suku aktif mendatangkan brahmana untuk mengadakan upacara abhiseka secara Hindu, sehingga kepala suku menjadi maharaja. Dalam perkembangannya, para brahmana akhirnya menjadi purohito (penasehat raja).
Teori ini mempertegas bahwa hanya kasta Brahmana yang memahami ajaran Hindu secara utuh dan benar. Para Brahmanalah yang mempunyai hak dan mampu membaca kitab Weda (kitab suci agama Hindu) sehingga penyebaran agama Hindu ke Indonesia hanya dapat dilakukan oleh golongan Brahmana.

4.  Teori Arus Balik
Teori ini dikemukakan oleh F.D.K Bosch yang menjelaskan peran aktif orang-orang Indonesia dalam penyebaran kebudayaan Hindu-Budha di Indonesia. Menurut Bosch, yang pertama kali datang ke Indonesia adalah orang-orang India yang memiliki semangat untuk menyebarkan Hindu-Budha. Karena pengaruhnya itu, ada di antara tokoh masyarakat yang tertarik untuk mengikuti ajarannya. Pada perkembangan selanjutnya, banyak orang Indonesia sendiri yang pergi ke India untuk berziarah dan belajar agama Hindu-Budha di India. Sekembalinya di Indonesia, merekalah yang mengajarkannya pada masyarakat Indonesia yang lain.

5. Teori Nasional
Teori ini dikemukakan oleh JC. Van Leur, dimana sebagai dasar berpikir adalah hubungan antara dunia maritim dengan perdagangan. Hubungan dagang Indonesia dengan India yang meningkat diikuti brahmana untuk menyebarkan agama Hindu dan Budha. Orang- orang Indonesia yang tertarik ajaran itu, mengirimkan kaum terpelajar ke India untuk berziarah dan menuntut ilmu. Setelah cukup lama, mereka kembali ke Indonesia dan ikut menyebarkan agama Hindu- Budha dengan menggunakan bahasa sendiri. Dengan demikian, ajaran agama lebih cepat diterima bangsa Indonesia.
Teori ini juga dikemukakan oleh F.D.K. Bosch yang mengatakan bahwa dalam proses penyebaran agama Hindu ini, bangsa Indonesia berperan sangat aktif. Setelah dinobatkan sebagai seorang Hindu, mereka kemudian giat menyebarkan agama Hindu dan segala aktivitasnya. Pendapatnya ini didasarkan pada temuan adanya unsur-unsur budaya India dalam budaya Indonesia. Menurutnya, pada masa itu telah terbentuk golongan cendekiawan yang disebut "Clerk". Proses akulturasi antara budaya Indonesia dan India disebutnya sebagai proses penyuburan. Hal-hal yang dilakukan para brahmana di Indonesia dalam rangka penghinduan, antara lain,
       a.       Abhiseka, yaitu upacara penobatan raja,
       b.       Vratyastoma, yaitu upacara pencucian diri (pemberian kasta), 
       c.       Kulapanjika, yaitu memberikan silsilah raja, dan
       d.       Castra, yaitu cara membuat mantra.

d. Teori Sudra
Teori ini menyatakan bahwa agama Hindu masuk ke Indonesia dibawa oleh kasta sudra. Mereka datang ke Indonesia dengan tujuan mengubah kehidupan karena di India mereka hanya hidup sebagai pekerja kasar dan budak.

e. Teori campuran
Teori ini beranggapan bahwa baik kaum brahmana, ksatria, para pedagang, maupun golongan sudra bersama-sama menyebarkan agama Hindu ke Indonesia sesuai dengan peran masing-masing.



 Sources:
http://www.ilmukaula.com/2014/01/teori-masuknya-agama-hindu-budha-di.html
http://sejarah-indonesiaraya.blogspot.com/2011/04/teori-masuknya-hindu-budha-di-indonesia.html
http://www.slideshare.net/sorakokaze/tugas-sejarah-34256918
http://www.tuanguru.com/2012/08/teori-masuknya-hindu-budha-ke-indonesia.html 
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me

Nadhira KA, 21. An architecture student who loves photography and proudly be as a Gooner.

Follow Us

  • twitter
  • instagram
  • behance

Categories

  • Nadhira dan Cinta Pertama
  • karena kita; Axiora
  • kehidupan ITB
  • kepingan kenangan

Blog Archive

  • ►  2023 (1)
    • ►  November 2023 (1)
  • ►  2020 (3)
    • ►  August 2020 (1)
    • ►  May 2020 (1)
    • ►  April 2020 (1)
  • ►  2019 (5)
    • ►  June 2019 (4)
    • ►  May 2019 (1)
  • ►  2018 (5)
    • ►  December 2018 (1)
    • ►  November 2018 (1)
    • ►  June 2018 (2)
    • ►  May 2018 (1)
  • ►  2017 (45)
    • ►  December 2017 (3)
    • ►  November 2017 (1)
    • ►  October 2017 (2)
    • ►  September 2017 (3)
    • ►  August 2017 (1)
    • ►  July 2017 (15)
    • ►  June 2017 (5)
    • ►  May 2017 (14)
    • ►  February 2017 (1)
  • ►  2016 (39)
    • ►  December 2016 (1)
    • ►  November 2016 (3)
    • ►  September 2016 (3)
    • ►  August 2016 (3)
    • ►  July 2016 (6)
    • ►  June 2016 (6)
    • ►  May 2016 (4)
    • ►  April 2016 (7)
    • ►  March 2016 (2)
    • ►  February 2016 (3)
    • ►  January 2016 (1)
  • ▼  2015 (46)
    • ►  December 2015 (8)
    • ►  November 2015 (2)
    • ►  September 2015 (4)
    • ►  August 2015 (6)
    • ►  July 2015 (3)
    • ►  June 2015 (4)
    • ►  May 2015 (1)
    • ►  April 2015 (3)
    • ►  March 2015 (5)
    • ▼  February 2015 (8)
      • "We do not buy superstars. We make them." -Arsene...
      • ملادك سعيد؟
      • A bit Randuum
      • Tomorrow I'll have Arabic exam And I haven't studi...
      • Bahaya Korupsi; Sebuah Puisi Karya Seorang Teman
      • The Differences between Living in House and Dorm
      • Pengaruh Masuknya Hindu-Budha ke Indonesia
      • Teori Masuknya Hindu-Budha ke Indonesia
    • ►  January 2015 (2)
  • ►  2014 (24)
    • ►  December 2014 (7)
    • ►  November 2014 (4)
    • ►  October 2014 (12)
    • ►  September 2014 (1)

Facebook

ThemeXpose